Aset Kripto Senilai Rp 739,2 Triliun "Kabur" dari China, Ada Apa?

Kompas.com - 23/08/2020, 11:46 WIB
Ilustrasi bitcoin, aset kripto, cryptocurrency. PEXELS/WORLDSPECTRUMIlustrasi bitcoin, aset kripto, cryptocurrency.

BEIJING, KOMPAS.com – Perusahaan forensik blockchain, Chainalysis menemukan aset kripto (cryptocurrency) senilai lebih dari 50 miliar dollar AS atau setara sekira Rp 739,2 triliun (kurs Rp 14? 785 per dollar AS) pindah dari dompet digital China ke negara lain tahun lalu.

Hal ini menunjukkan investor China mentransfer lebih banyak uang daripada yang diizinkan ke luar negeri.

Melansir CNBC, Minggu (23/8/2020), aturan yang berlaku di China terkait pembelian mata uang asing, dibatasi sampai dengan 50.000 dollar AS setahun di lembaga keuangan.

 

Baca juga: Kalahkan Bitcoin, Harga Aset Kripto Ini Naik 330 Persen dalam Hitungan Hari

Namun, laporan menyebutkan warga kalangan atas di China telah menghindari batasan tersebut melalui investasi asing di real estat dan aset lainnya.

"Investasi cryptocurrency cukup longgar (aturannya). Selama setahun terakhir, dengan ekonomi China yang menderita karena perang dagang dan devaluasi yuan di berbagai titik, kami telah melihat lebih dari 50 miliar dollar AS mata uang kripto berpindah dari China ke alamat luar negeri," ungkap laporan Chainalysis.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Laporan Chainalysis juga menyebutkan, tidak semuanya memang merupakan pelarian modal, namun dapat dipastikan 50 miliar dollar AS sebagai batas mutlak untuk pelarian modal melalui mata uang kripto dari Asia Timur ke wilayah lain.

Disebutkan juga, pemegang Cryptocurrency menggunakan stablecoin Tether yang kontroversial untuk memindahkan uang mereka.

 

Baca juga: Platform Jual Beli Aset Kripto TokoCrypto Luncurkan Toko Token

Stablecoin merupakan mata uang digital yang biasanya didukung oleh aset atau kelompok aset lain dalam upaya menstabilkan nilainya dan membatasi volatilitas yang dipatok dalam matau uang dollar AS.

Stablecoin berguna untuk mentransfer cryptocurrency dalam jumlah besar karena, secara teori nilai cryptocurrency yang dipindahkan seseorang seharusnya tidak mengalami perubahan yang signifikan.

“Secara total, Tether senilai lebih dari 18 miliar dollar AS telah dipindahkan dari alamat Asia Timur ke alamat yang berbasis di wilayah lain selama 12 bulan terakhir. Sekali lagi, sangat tidak mungkin semua ini adalah pelarian modal," ujar Chainalysis.


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber CNBC
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.