Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Impor Juli Turun, Mendag: Momentum Optimalkan Produk Dalam Negeri

Kompas.com - 24/08/2020, 07:08 WIB
Akhdi Martin Pratama,
Erlangga Djumena

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengatakan, kinerja ekspor Indonesia pada Juli 2020 menunjukkan peningkatan di tengah perlambatan perekonomian global.

Kinerja ekspor Indonesia pada periode tersebut mencapai 13,7 miliar dollar AS atau naik 14,3 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sedangkan impornya menurun sebesar 2,7 persen dibandingkan Juni 2020 (MoM).

“Kita mulai melihat penguatan rantai nilai domestik dimana para pelaku ekonomi lebih mengoptimalkan ketersedian produk-produk di dalam negeri. Momentum penguatan rantai nilai domestik ini harus dipertahankan sebagai motor pendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Agus dalam keterangan tertulisnya, Minggu (23/8/2020).

Baca juga: Ironi Indonesia, Negeri Tempe, Kedelainya Mayoritas Impor

Agus menambahkan, Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan, baik pada Juli 2020 maupun secara kumulatif pada periode Januari-Juli 2020. Neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2020 surplus 3,3 miliar dollar AS, naik hampir tiga kali lipat dibandingkan Juni 2020 yang surplus 1,2 miliar dollar AS.

“Peningkatan tersebut didorong perbaikan neraca perdagangan nonmigas dengan mitra dagang utama seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Singapura. Bahkan neraca nonmigas Indonesia dengan Singapura pada Juli 2020 kembali surplus, setelah pada bulan sebelumnya mengalami defisit,” kata Agus.

Agus menyampaikan, secara kumulatif neraca perdagangan Indonesia pada periode Januari-Juli 2020 surplus 8,7 miliar dollar AS. Capaian pada semester pertama 2020 lebih baik dari periode yang sama tahun 2019 yang mengalami defisit 2,2 miliar dollar AS.

“Perbaikan neraca perdagangan ini dikarenakan terjadinya penurunan impor yang lebih tajam dibandingkan penurunan ekspornya,” ucap dia.

Produk ekspor nonmigas yang mengalami pertumbuhan signifikan adalah logam mulia, perhiasan/permata (HS 71), serta kendaraan dan bagiannya (HS 87). Ekspor logam mulia dan perhiasan/permata paling banyak ditujukan ke Swiss, Hong Kong, dan Singapura. Sementara kendaraan dan bagiannya diekspor ke Filipina, Vietnam, dan Jepang.

Namun secara tahunan, ekspor nonmigas pada Januari-Juli 2020 turun sebesar 4,0 persen seiring dengan kondisi perekonomian global yang belum pulih akibat pandemi Covid-19. Pada Juni 2020, IMF memperkirakan pertumbuhan perekonomian global 2020 mengalami penurunan 4,9 persen.

Pada Kuartal II 2020, banyak negara tujuan ekspor Indonesia yang telah memasuki masa resesi ekonomi. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang negatif selama dua kuartal berturut- turut. Negara tujuan ekspor tersebut di antaranya Jepang, Singapura, Filipina, Hongkong, Jerman, Italia, Spanyol, Arab Saudi, Inggris, Belgia, dan Prancis.

Meskipun demikian, ekspor nonmigas Indonesia pada Januari-Juli 2020 masih mencatatkan peningkatan ke beberapa pasar utama yaitu Tiongkok naik 11,8 persen, Australia (9,8 persen), Pakistan (5,9 persen), dan Amerika Serikat (1,5 persen).

Produk ekspor yang meningkat secara signifikan ke China adalah paduan ferro nikel, besi tahan karat, dan tembaga; ke Australia adalah amonium nitrat, emas, dan mentega kakao; ke Pakistan adalah minyak sawit olahan, serat stapel buatan, dan batu bara; serta ke Amerika Serikat adalah portable receiver, udang, dan minyak sawit olahan.

Agus juga mengungkapkan, impor Indonesia pada Juli 2020 turun 2,7 persen atau sebesar 10,5 miliar dollar AS dibanding Juni 2020 yang tercatat sebesar 10,8 miliar Dollar AS. Dilihat dari jenis barang impor, hal ini disebabkan turunnya impor barang konsumsi sebesar 21 persen dan turunnya impor bahan baku/penolong sebesar 2,5 persen.

Baca juga: Menkop Teten: Presiden Minta Ekspor UMKM Naik Dua Kali Lipat

Barang impor yang mengalami penurunan terbesar adalah kendaraan dan bagiannya (HS 87), gula dan kembang gula (HS 17), serta sayuran (HS 07). Penurunan impor gula dikarenakan sudah masuknya musim panen tebu, sehingga produksi gula dalam negeri mulai meningkat.

Sementara, penurunan impor sayuran dikarenakan aturan impor hortikultura untuk bawang putih dan bawang bombai sudah kembali normal, setelah sebelumnya diterapkan kebijakan relaksasi impor.

Dia menambahkan, secara kumulatif pada Januari-Juli 2020 total impor mencapai 81,4 miliar dollar AS atau turun sebesar 17,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan impor ini dipicu melemahnya impor seluruh jenis barang. Impor barang modal turun 19 persen, impor barang konsumsi turun 7,2 persen; dan bahan baku/penolong turun 18 persen.

“Selain itu, penurunan impor merupakan dampak dari terganggunya rantai nilai global sebagai akibat pandemi Covid-19. Penurunan impor juga terjadi seiring dengan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 sehingga banyak aktivitas industri yang umumnya membutuhkan bahan baku penolong maupun barang modal asal impor terpaksa dihentikan,” kata dia.

Baca juga: Ada Pandemi, UMKM Furnitur Ini Malah Raup Untung dari Ekspor Dipan

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Mengenal Mata Uang India dan Nilai Tukarnya ke Rupiah

Mengenal Mata Uang India dan Nilai Tukarnya ke Rupiah

Whats New
Arus Balik Lebaran, Tol Fungsional Cibitung-Cimanggis akan Dibuka sampai 17.00 WIB

Arus Balik Lebaran, Tol Fungsional Cibitung-Cimanggis akan Dibuka sampai 17.00 WIB

Whats New
Harga Emas Antam Hari Sabtu Ini, Anjlok Rp 14.000 Per Gram

Harga Emas Antam Hari Sabtu Ini, Anjlok Rp 14.000 Per Gram

Whats New
Inggris Keluar dari Resesi, Ini yang Harus Dihadapi ke Depannya

Inggris Keluar dari Resesi, Ini yang Harus Dihadapi ke Depannya

Whats New
Kementan Bersama Dinas Pertanian Provinsi Banten Kembangkan Padi Biosalin untuk Wilayah Pesisir

Kementan Bersama Dinas Pertanian Provinsi Banten Kembangkan Padi Biosalin untuk Wilayah Pesisir

Whats New
Program Pompanisasi dari Mentan Amran di Subang Tuai Respons Positif

Program Pompanisasi dari Mentan Amran di Subang Tuai Respons Positif

Whats New
Khusus H+2 Lebaran, Kereta Api Jadi Moda Angkutan Umum 'Terlaris'

Khusus H+2 Lebaran, Kereta Api Jadi Moda Angkutan Umum "Terlaris"

Whats New
Rincian Harga Emas Hari Ini di Pegadaian 13 April 2024

Rincian Harga Emas Hari Ini di Pegadaian 13 April 2024

Spend Smart
Ada Promo Tiket Bioskop XXI, CGV, Cinepolis, Simak Cara Mendapatkannya

Ada Promo Tiket Bioskop XXI, CGV, Cinepolis, Simak Cara Mendapatkannya

Whats New
[POPULER MONEY] 5 Keuntungan Investasi Emas buat Pemula Baru | Miliarder Vietnam Dijatuhi Hukuman Mati dalam Kasus Penipuan

[POPULER MONEY] 5 Keuntungan Investasi Emas buat Pemula Baru | Miliarder Vietnam Dijatuhi Hukuman Mati dalam Kasus Penipuan

Whats New
Lowongan Kerja Yamaha Indonesia untuk SMA hingga S1, Ini Persyaratannya

Lowongan Kerja Yamaha Indonesia untuk SMA hingga S1, Ini Persyaratannya

Whats New
Jelang Arus Balik, Jasa Marga Imbau Pemudik Optimalkan Tempat Istirahat

Jelang Arus Balik, Jasa Marga Imbau Pemudik Optimalkan Tempat Istirahat

Whats New
Pelintasan Kereta Api Tanggung Jawab Siapa? Simak Aturannya

Pelintasan Kereta Api Tanggung Jawab Siapa? Simak Aturannya

Whats New
6 Cara Mudah Cek Saldo e-mOney Mandiri lewat HP

6 Cara Mudah Cek Saldo e-mOney Mandiri lewat HP

Spend Smart
Arus Balik, Pelni Layani Angkutan Gratis Sepeda Motor Semarang-Jakarta

Arus Balik, Pelni Layani Angkutan Gratis Sepeda Motor Semarang-Jakarta

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com