Rudiyanto
Direktur Panin Asset Management

Direktur Panin Asset Management salah satu perusahaan Manajer Investasi pengelola reksa dana terkemuka di Indonesia. Wakil Ketua I Perkumpulan Wakil Manajer Investasi Indonesia periode 2019 - 2022. Penulis buku best seller reksa dana yang diterbitkan Gramedia Elexmedia. Buku Terbaru berjudul "Reksa Dana, Pahami, Nikmati!"

Apakah Indonesia Bisa Mengalami Resesi di 2020?

Kompas.com - 24/08/2020, 14:08 WIB
Ilustrasi resesi ekonomi shutterstock.comIlustrasi resesi ekonomi

Pada kuartal II 2020 yang lalu, meskipun angka pertumbuhan PDB negatif, Indonesia belum masuk dalam kategori resesi karena pertumbuhan pada kuartal I nya masih positif. Bagaimana dengan kuartal III dan IV? Apakah Indonesia bisa mengalami resesi di 2020?

Resesi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara. Setiap kuartal, yaitu Januari – Maret, April – Juni, Juli – September, dan Oktober – Desember, Badan Pusat Statistik (BPS) menghitung Produk Domestik Bruto (PDB) yang dihasilkan Indonesia.

Secara rumus, PDB merupakan penjumlahan dari angka Konsumsi (C), Investasi (I), Pengeluaran Pemerintah (G) dan selisih Ekspor dan Impor (X – M). Biasanya diberi rumus PDB = C + I + G + (X-M).

Baca juga: Indonesia Bisa Terhindar dari Resesi, Ini Syaratnya Kata Ekonom

Secara sederhana, Konsumsi adalah seluruh belanja masyarakat, Investasi adalah pendirian perusahaan dan pabrik, Pengeluaran Pemerintah adalah angka realisasi dari program pemerintah, dan Selisih Ekspor dan Impor adalah selisih bersih antara jumlah uang yang dihasilkan dari kegiatan ekspor dikurangi yang dikeluarkan untuk impor.

Dalam kondisi normal, biasanya hampir 60 persen dari PDB Indonesia berasal dari aktivitas konsumsi masyarakat. Hal ini menjadikan negara Indonesia relatif kebal dengan resesi dan krisis.

Sebagai contoh, ketika terjadi perang dagang antara China dan US, usaha ekspor impor memang terganggu, tapi karena kontribusinya kecil, ekonomi Indonesia tetap tumbuh hanya saja lebih lambat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pada tahun 2008 yang lalu dimana terjadi krisis subprime mortgage di Amerika Serikat yang menjalar menjadi krisis keuangan di seluruh dunia, Indonesia juga masih tetap adem ayem bahkan masih tetap positif. Lagi-lagi karena besarnya kontribusi konsumsi domestik.

Pandemi COVID-19 menjadi ujian berat bagi perekonomian Indonesia. Sampai sekarang, sekolah masih mayoritas belum dibuka. Kegiatan hiburan seperti bioskop dan konser masih dilarang. Resepsi dan pesta juga masih sangat terbatas. Belum lagi PHK dan berkurangnya penghasilan membuat daya beli turun.

Dengan kondisi seperti di atas, apakah masih bisa selamat dari resesi dan krisis dengan mengandalkan konsumsi domestik seperti sebelumnya?

Secara matematis, suatu negara dinyatakan resesi apabila tingkat pertumbuhan PDB lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya selama 2 kuartal berturut-turut. Angka PDB Indonesia untuk tahun 2019 dan 2020 adalah sebagai berikut :

Angka PDB (dalam Miliar)              2019            2020            Pertumbuhan PDB

Kuartal I Januari - Maret                2,625,156     2,703,018     +2.97%
Kuartal II April - Juni                     2,735,291     2,589,647      -5.32%
Kuartal III Juli - September            2,818,887 -
Kuartal IV Oktober - Desember     2,769,908 -

Sumber : BPS, diolah

Dengan mengacu pada definisi resesi dimana angka pertumbuhan harus 2 kali negatif berturut-turut, jika kuartal III negatif, dalam arti angka pada Kuartal III 2020 lebih rendah dari Kuartal III 2019, maka Indonesia secara resmi akan mengalami resesi.

Secara kasat mata, angka PDB Kuartal III 2019 merupakan yang tertinggi dalam tahun 2019 di angka 2.818.887. Sementara dari pengamatan di lapangan, hingga bulan Agustus ini ekonomi belum pulih.

Dengan demikian hampir bisa dipastikan angka PDB Kuartal III 2020 akan lebih rendah dari periode yang sama 2019. Dengan kata lain, pada pengumuman PDB Kuartal III nanti yang diperkirakan sekitar bulan Oktober atau November, secara resmi Indonesia akan mengalami resesi.

Apakah upaya subsidi gaji Rp 600.000 per bulan dan bantuan hibah Rp 2.4 juta kepada UMKM yang baru-baru ini diumumkan bisa membantu Indonesia keluar dari resesi?

Baca juga: Mengapa Pemerintah Suatu Negara Perlu Mengumumkan bila Terjadi Resesi?

Kita hitung saja, bantuan Rp 600.000 per bulan diberikan selama 4 bulan kepada 15,7 juta pekerja. Rp 600.000 x 4 bulan x 15,7 juta karyawan = Rp 37,68 triliun. Kemudian Rp 2,4 juta kepada 12 juta pelaku usaha. Rp 2,4 juta x 12 juta UMKM = Rp28,8 triliun. Dijumlahkan Rp 66,48 triliun.

Dalam teori PDB, angka Rp 66,48 T ini adalah Pengeluaran Pemerintah (G). Ketika diterima masyarakat akan dikonsumsikan sehingga PDB bisa bertambah lagi sejumlah yang sama. Sehingga kalau dikalikan 2 menjadi sekitar Rp 132,9 Triliun.

Angka tersebut dengan asumsi tersalurkan semua. Padahal kita tahu, belum tentu semua data valid dan urusan birokrasi masih menjadi tantangan di Indonesia.

Kemudian bisa jadi ketika uang sudah diperoleh, tidak semuanya dibelanjakan. Ada yang digunakan untuk bayar hutang, disimpan atau investasi.

Angka PDB pada kuartal II 2020 adalah Rp 2.589 triliun. Dengan asumsi pada kuartal III angkanya masih sama dan terdapat tambahan Rp 132 triliun akan menjadi Rp 2.721 triliun masih lebih rendah dari kuartal II 2019 yang sebesar Rp 2.818 triliun.

Tentu saja, hitungan ini bisa salah. Jika konsumsi sudah pulih pada kuartal III 2020 karena pembukaan ekonomi sudah dilakukan secara bertahap, bisa saja angkanya lebih tinggi.

Tapi belajar dari pengalaman di luar negeri, program subsidi gaji dan hibah untuk UMKM juga banyak dilakukan di negara maju. Bahkan secara angka jauh lebih besar karena perbedaan kurs serta sudah dijalankan sejak dari bulan Maret sampai sekarang, tetap saja angka pertumbuhan PDBnya negatif.

Apakah status resesi berdampak negatif terhadap investasi?

Jika hanya negara Indonesia saja yang mengalaminya, maka status resesi akan berdampak terhadap rating surat hutang, kurs nilai tukar, minat asing dan permintaan imbal hasil terhadap surat utang, serta sentimen negatif terhadap saham.

Namun jika fenomena resesi ini terjadi di banyak negara, maka resesi ini bukan lagi hal yang negatif. Investor akan melihat negara mana yang resesinya paling parah dalam arti pertumbuhan ekonominya negatif paling besar.

Kelihatannya konsumsi domestik kali ini memang tidak bisa menyelamatkan Indonesia dari status resesi sebagaimana pengalaman sebelumnya, tapi bisa dipastikan kondisi negara kita bukan merupakan negara yang terburuk karena porsi ketergantungan terhadap pariwisata dan perdagangan relatif kecil.

Dengan vaksin yang akan disalurkan secara bertahap mulai tahun depan, diharapkan pemulihan juga berjalan dengan cepat.

Demikian artikel ini, semoga bermanfaat.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.