Melonjak, Defisit APBN 2020 Mencapai Rp 330,2 Triliun

Kompas.com - 25/08/2020, 12:26 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ketika memberikan keterangan kepada media melalui video conference di Jakarta, Selasa (24/3/2020). KOMPAS.COM/MUTIA FAUZIAMenteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ketika memberikan keterangan kepada media melalui video conference di Jakarta, Selasa (24/3/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati melaporkan, defisit APBN pada 2020 melebar hingga Rp 330,2 triliun.

Angka tersebut meningkat 79,5 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Pada Juli 2019, realisasi defisit APBN hanya Rp 183,9 triliun atau 1,16 persen dari PDB.

Bendahara Negara itu pun menjelaskan, defisit APBN tersebut setara dengan 2,01 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Baca juga: Saat Cara RI Tutup Defisit Anggaran Dinilai Mengejutkan

"Kalau kita lihat APBN kita, penerimaan mengalami tekanan, belanja naik akibat Covid-19. Sehingga ini memberikan dampak ke APBN akan sangat besar. Defisit 2 persen dari GDP kita, sampai akhir tahun diestimasi 6,34 persen dari GDP," ujar Sri Mulyani saat memberikan paparan APBN KiTa secara virtual, Selasa (25/8/2020).

Lebih rinci dijelaskan, realisasi belanja negara hanya Rp 922,2 triliun. Jumlah tersebut mengalami kontraksi 12,4 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Adapun penerimaan perpajakan realisasinya Rp 711 triliun, atau minus 12,3 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Rinciannya, realisasi penerimaan pajak mencapai Rp 601,9 triliun atau terkontraksi 14,7 persen (yoy), sementara penerimaan bea dan cukai Rp 109,1 triliun atau masih tumbuh 3,7 persen (yoy).

"Untuk pendapatan negara dibandingkan tahun lalu minus 12,4 persen. Ini yang harus kita waspadai," jelasnya.

Baca juga: Defisit 2021 Dipatok 5,5 Persen, Jokowi: Dibiayai Sumber Pembiayaan yang Aman

Tekanan juga tercermin dalam realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Per Juli 2020, realisasi PNBP hanya Rp 208,8 triliun atau terkontraksi 13,5 persen (yoy).

Di sisi lain, belanja negara hingga Juli 2020 mencapai Rp Rp 1.252,4 triliun atau tumbuh 1,3 persen (yoy). Meski demikian, pertumbuhannya melambat dibandingkan Juli 2019 yang tumbuh 7,9 persen (yoy).

Belanja pemerintah pusat mencapai Rp 793,6 triliun atau tumbuh 4,2 persen (yoy). Pertumbuhannya juga melambat dibandingkan periode yang sama tahun lalu 9,2 persen (yoy).

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X