Kompas.com - 25/08/2020, 18:23 WIB
Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Golkar, M Misbakhun, dalam sebuah diskusi Smart FM, di Jakarta Pusat, Sabtu (26/9/2015). KOMPAS.COM/INDRA AKUNTONOAnggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Golkar, M Misbakhun, dalam sebuah diskusi Smart FM, di Jakarta Pusat, Sabtu (26/9/2015).
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi Golkar, Mukhamad Misbakhun khawatir terjadinya kelumpuhan ekonomi domestik dari krisis berkepanjangan akibat pandemi Covid-19.

Kelumpuhan disebabkan oleh penurunan pendapatan per kapita, situasi sosial kemasyarakatan dan anjloknya konsumsi rumah tangga.

"Yang saya khawatirkan adalah adanya kelumpuhan (ekonomi). Kita cermati bukan hanya bicara tentang krisis, tapi bicara kelumpuhan. Ini (resesi) merupakan peringatan awal yang mau tidak mau kita cermati secara mendalam," kata Misbakhun dalam webinar Akurat.co, Selasa (25/8/2020).

Baca juga: Bosowa Bakal Gugat Hasil RUPSLB Bukopin, Ini Penyebabnya

Misbakhun menyebut, rendahnya konsumsi rumah tangga, yang menjadi tulang punggung dengan porsi 56,6 persen dari PDB, menyebabkan penurunan di beberapa titik.

Dorongan pemerintah menyalurkan bantuan sosial dirasa tidak cukup, karena belanja negara hanya berkontribusi hampir sekitar 9 persen dari PDB. Apalagi, beberapa kelompok masyarakat rentan belum menikmati bansos yang disalurkan.

"Apa kemudian bisa membantu menekan kontraksi (ekonomi)? Karena bantuan sosial bukan merupakan tulang punggung. Ada kelompok kelas menengah rentan yang selama ini belum dapat sentuhan (bansos)," ujar dia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Adapun untuk menekan kontraksi sehingga terhindar dari kelumpuhan, pemerintah perlu memperluas jangkauan program insentif terhadap masyarakat kelompok menengah rentan.

Baca juga: Resesi Kian Nyata, Sri Mulyani Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III Minus 2 Persen

Misalnya, pemberian subsidi gaji tak hanya menjangkau pegawai dengan gaji di bawah Rp 5 juta, tapi juga harus menjangkau pegawai dengan gaji direntang Rp 10-15 juta.

"Karena mereka punya tabungan yang mulai menyusut. Data di LPS (Lembaga Penjamin Simpanan), masyarakat dengan nilai rekening di bawah Rp 100 juta mengalami penurunan. Kalau di negara lain, mereka (pekerja) dapat cek untuk menjaga daya belinya," papar Misbakhun.

Begitu juga untuk kelompok UMKM di kelas menengah, dengan pendapatan sekitar Rp 100 - Rp 500 juta per bulan. Kelompok usaha ini memang tak masuk dalam usaha ultra mikro, tapi tak masuk juga dalam golongan usaha bertahan.

"Mereka kelas menengah yang mau menetas, ini belum ada stimulus. Buat formulasi baru, berikan stimulus terhadap kelompok-kelompok ini. Karena kalau enggak begitu, konsum rumah tangga pasti akan tergerus," pungkasnya.

Baca juga: Bayang Resesi Bikin Rupiah Ditutup Menguat Terbatas



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Luncurkan 2 SPKLU,  Dirut Pertamina: Masyarakat Bisa Isi Daya Kendaraan Listrik Gratis

Luncurkan 2 SPKLU, Dirut Pertamina: Masyarakat Bisa Isi Daya Kendaraan Listrik Gratis

Whats New
Pendapatan Transaksi Pasar Modal pada 9 Agustus 2021 Disumbang Untuk Penanggulangan Covid-19

Pendapatan Transaksi Pasar Modal pada 9 Agustus 2021 Disumbang Untuk Penanggulangan Covid-19

Whats New
Menko Airlangga: Pertumbuhan Ekonomi Positif 7 Persen Sesuai Prediksi

Menko Airlangga: Pertumbuhan Ekonomi Positif 7 Persen Sesuai Prediksi

Whats New
Devaluasi: Pengertian, Jenis dan Penyebabnya

Devaluasi: Pengertian, Jenis dan Penyebabnya

Whats New
Menkop Teten: Kondisi UMKM Mulai Pulih di Kuartal II 2021

Menkop Teten: Kondisi UMKM Mulai Pulih di Kuartal II 2021

Whats New
Ekonomi RI Tumbuh 7,07 Persen, Ekonom: Ada Pengaruh Low Base Effect di 2020

Ekonomi RI Tumbuh 7,07 Persen, Ekonom: Ada Pengaruh Low Base Effect di 2020

Whats New
Ekonomi Kuartal II 2021 Tumbuh 7,07 Persen, Hipmi Beberkan Indikator Pendukungnya

Ekonomi Kuartal II 2021 Tumbuh 7,07 Persen, Hipmi Beberkan Indikator Pendukungnya

Whats New
Menurut Kemendag, Ini Keuntungan Kesepakatan Pengunaan Mata Uang Lokal untuk Ekspor Impor

Menurut Kemendag, Ini Keuntungan Kesepakatan Pengunaan Mata Uang Lokal untuk Ekspor Impor

Whats New
Proyek Infrastruktur Tertunda, Bagaimana Dampaknya ke Industri Semen?

Proyek Infrastruktur Tertunda, Bagaimana Dampaknya ke Industri Semen?

Whats New
Kuartal I Tembus 7 Persen, BPS: Ekonomi Kuartal III Akan Bergantung pada Penanganan Kesehatan

Kuartal I Tembus 7 Persen, BPS: Ekonomi Kuartal III Akan Bergantung pada Penanganan Kesehatan

Whats New
Meski Ekonomi RI Positif, Investor Masih Cermati Pertumbuhan di Kuartal III dan Kasus Covid-19

Meski Ekonomi RI Positif, Investor Masih Cermati Pertumbuhan di Kuartal III dan Kasus Covid-19

Whats New
Emir Moeis Jadi Komisaris di Anak Perusahaan Pupuk Indonesia

Emir Moeis Jadi Komisaris di Anak Perusahaan Pupuk Indonesia

Whats New
Tinggal 600 Meter, Luhut Targetkan Sodetan Ciliwung-KBT Rampung Tahun Depan

Tinggal 600 Meter, Luhut Targetkan Sodetan Ciliwung-KBT Rampung Tahun Depan

Whats New
Apa yang Dimaksud dengan Dumping?

Apa yang Dimaksud dengan Dumping?

Whats New
Ekonomi Kuartal II Tumbuh 7,07 Persen, BPS: Tertinggi sejak Tahun 2004

Ekonomi Kuartal II Tumbuh 7,07 Persen, BPS: Tertinggi sejak Tahun 2004

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X