Alasan Astra Terus Sasar Proyek Infrastruktur Jalan Tol

Kompas.com - 26/08/2020, 11:00 WIB
Suasana sepi saat Lebaran pertama di ruas tol Cikampek-Palimanan, Subang, Jawa Barat, Minggu (24/5/2020). Pemerintah memberlakukan larangan mudik untuk mencegah penyebaran Covid-19 melalui Operasi Ketupat 2020. Kendaraan pribadi baik motor atau mobil dan kendaraan umum berpenumpang dilarang keluar dari wilayah Jabodetabek. KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMOSuasana sepi saat Lebaran pertama di ruas tol Cikampek-Palimanan, Subang, Jawa Barat, Minggu (24/5/2020). Pemerintah memberlakukan larangan mudik untuk mencegah penyebaran Covid-19 melalui Operasi Ketupat 2020. Kendaraan pribadi baik motor atau mobil dan kendaraan umum berpenumpang dilarang keluar dari wilayah Jabodetabek.

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Astra International Tbk (ASII) memiliki lini bisnis di bidang infrastruktur, khususnya jalan tol. Lewat anak usahanya, Astra Infra, kini pereseroan sudah punya 6 jalan tol di Indonesia.

Keenamnya yakni Jalan Tol Tangerang-Merak, Kunciran-Serpong, Cikopo-Palimanan (Cipali), Semarang-Solo, Jombang-Mojokerto dan Surabaya-Mojokerto.

Sebenarnya, Astra yang telah berdiri sejak 1957 di Indonesia lebih dikenal dengan bisnis otomotifnya. Perusahaan membawahi penjualan sepeda motor merek Honda dan mobil mulai dari merek Toyota, Daihatsu, BMW, hingga Peugeot.

Baca juga: Australia Batal Jual Perusahaan Produsen Susu ke China

Namun, sayap bisnisnya melebar ke infrastruktur jalan tol, yang mencakup konsesi pembangunan dan pengelolaan jalan tol. Presiden Komisaris Astra International Prijono Sugiarto mengungkapkan, ada alasan dibalik perseroan yang kini melirik lini bisnis jalan tol.

Prijono menjelaskan, saat ia menduduki posisi stategis direksi yakni sebagai Direktur Astra tahun 2001-2010 dan Presiden Direktur Astra tahun 2010-2020, dirinya berupaya menyeimbangkan pendapatan perseroan tidak hanya dari penjualan otomotif.

"Saya ingin mem-balance dengan recurring income (pendapatan yang didapat tanpa melakukan penjualan dan sifatnya berulang) yang selalu kami dapatkan, pendapatan yang reguler," ungkapnya dalam diskusi virtual MarkPlus, Selasa (25/8/2020).

Baca juga: Sri Mulyani Tak Keberatan Ada Tunjangan Pulsa Rp 200.000 untuk PNS

Ia mengatakan, saat Astra akan masuk ke bisnis jalan tol, banyak pemegang saham yang mempertanyakan aksi korporasi tersebut. Lantaran, keuntungan dari jalan tol baru bisa didapatkan dengan waktu cukup lama yakni setidaknya setelah 5 tahun.

"Tapi dari awalnya kami punya 1-2 jalan tol, dan menjadi 6 jalan tol, sekarang mereka (pemegang saham) yang bahkan nanyain lagi, ada opportunity (peluang) lagi enggak untuk masuk ke sana," ucapnya.

Prijono mennyatakan, jalan tol merupakan bisnis yang menguntungkan dan mendatangkan pendapatan yang tetap dan berulang bagi Astra.

Baca juga: Berapa Taksiran Nilai Gedung Kejaksaan yang Terbakar?

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X