Edhy Prabowo: Kami Ingin Menuntaskan Utang Pemerintah Pusat ke Maluku

Kompas.com - 31/08/2020, 07:35 WIB
Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo melihat proses pemijahan lobster jenis mutiara, pasir dan bambu di Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon, di Desa Waiheru, Kecamatan Baguala, Kota Ambon, Minggu (30/8/2020). ANTARA FOTO/JIMMY AYALMenteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo melihat proses pemijahan lobster jenis mutiara, pasir dan bambu di Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon, di Desa Waiheru, Kecamatan Baguala, Kota Ambon, Minggu (30/8/2020).

AMBON, KOMPAS.com - Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menyatakan dirinya berkomitmen untuk menuntaskan utang pemerintah pusat kepada masyarakat dan pemerintah daerah Maluku.

"Kami hadir bukan untuk merepotkan, tetapi mau membuktikan komitmen pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Kami ingin menuntaskan utang-utang pemerintah pusat dengan provinsi Maluku," kata Menteri Edhy Prabowo seperti dikutip dari Antara, Senin (31/8/2020).

Utang yang dimaksudkan Edhy Prabowo yakni penerapan Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional (LIN) yang telah dijanjikan sejak 2010 di masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Kami tidak ingin lumbung ikan nasional hanya sekedar simbol. Tapi kami ingin langsung mengimplementasikan sebagai suatu kenyataan," kata Menteri Edhy.

Baca juga: Sejak Jadi Menteri, Edhy Sudah Tangkap 71 Kapal Asing Pencuri Ikan

Dalam kunjungannya ke Kota Ambon, ibu kota provinsi Maluku selama 3 hari, Menteri Edhy memboyong seluruh pejabat eselon I, dengan tujuan agar mereka mencatat sekaligus mengetahui apa yang dibutuhkan di Maluku untuk menuju lumbung ikan nasional.

Pejabat tersebut di antaranya, Dirjen Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto, Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Artati Widiarti, Plt Dirjen Perikanan Tangkap Muhammad Zaini, Dirjen Pengelolaan Ruang Laut (PRL) Aryo Hanggono, Dirjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDPKP) TB Haeru Rahayu, Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendali Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Rina M serta Sekjen KKP Antam Novambar.

Dia mengakui sebagai daerah yang sebagian besar wilayahnya adalah pesisir dan laut, Provinsi Maluku layak disebut lumbung ikan karena memiliki memiliki potensi sangat besar dari sektor kelautan dan perikanan.

Edhy mengatakan, potensi perikanan di Maluku sebagian besar berasal dari perikanan tangkap, terlebih daerah ini terletak di tiga Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) yakni WPPNRI 714 (Laut banda), 715 (laut Maluku dan Pulau Seram) serta 718 yakni laut Arafura.

Potensi perikanan tangkap di Maluku diperkirakan mencapai 4,6 juta ton (37 persen) dari 12,5 juta total potensi sumber daya ikan nasional.

Menurut Edhy, dirinya telah diperintahkan oleh Presiden Joko Widodo untuk mewujudkan implementasi Maluku sebagai lumbung ikan nasional.

"Jadi pak Gubernur saya tidak akan bicara panjang, tetapi ingin menunjukkan bahwa pemerintah pusat melalui KKP sangat serius. Kami siap bekerja sama mendorong Maluku sebagai LIN secara nyata bukan hanya sekedar jargon atau lewat aturan, baik itu perpres maupun UU," katanya.

Baca juga: Menteri Edhy: Kita Sibuk Debat Tentang Lobster, Masih Banyak Potensi yang Lain...

Halaman:


Sumber Antara
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X