Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sri Mulyani: Banyak Negara yang Stimulus Ekonominya Belum Tunjukkan Hasil

Kompas.com - 01/09/2020, 18:50 WIB
Mutia Fauzia,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan banyak negara di dunia yang menggelontorkan stimulus besar-besaran namun hal stimulus tersebut belum memberikan dampak yang signifikan terhadap kinerja perekonomian.

Sri Mulyani mencontohkan, India yang sempat menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi di dunia justru kinerja perekonomiannya terjun bebas di kuartal II tahun ini. Padahal, pemerintahnya telah menganggarkan stimulus dan menyebabkan defisit anggaran India membengkak di kisaran 7,2 persen.

"India dalam hal ini (pertumbuhan ekonomi) negatif 23,9 persen, kontraksi kuartal II ini sesudah sebelumnya kontraksi pada kuartal I 4,1 persen," ujar Sri Mulyani ketika memberikan paparan dalam Badan Anggaran DPR RI, Selasa (1/9/2020).

Baca juga: Bank Dunia: 93 Persen Perusahaan Indonesia Tidak Menerima Stimulus Covid-19

"India selama ini merupakan ekonomi yang tumbuh tertinggi di dunia setelah mengambil alih China," ujar Sri Mulyani.

Menurut Sri Mulyani, merosotnya kinerja perekonomian di banyak negara di dunia diakibatkan oleh kebijakan lockdown atau restriksi kegiatan masyarakat yang berdampak terhadap perekonomian.

Sementara Indonesia sendiri hingga kuartal II-2020 mencatatkan pertumbuhan ekonomi negatif 5,29 persen, sementara kuartal I-2020 masih tumbuh positif 2,97 persen.

"Jadi di Indonesia diperkirakan defisit sesuai dengan Perpres 72, yakni -6,3 persen, sementara pertumbuhan ekonomi kuartal II -5,3 persen. Ini harus terus kita lihat dan desain agar setiap defisit APBN mampu menahan pemburukan ekonomi dan di sisi lain juga mampu untuk memulihkan ekonomi masyarakat," ujar Sri Mulyani.

Baca juga: Per Juni 2020, Pemerintah Sudah Bayar Subsidi dan Stimulus Rp 28,8 Triliun ke PLN

Selain India, Sri Mulyani juga membandingkan dampak stimulus terhadap perekonomian di beberapa negara lain.

Untuk negara-negara anggota ASEAN, Malaysia mencatatkan defisit anggaran -6,5 persen untuk tahun 2020 dan kontraksi perekonomian pada kuartal II-2020 sudah sebesar -17,1 persen.

Filipina menargetkan defisit anggaran sebesar -7,6 persen hingga akhir tahun 2020. Namun demikian kinerja perekonomian pada kuartal II ini mengalami kontraksi cukup dalam, yakni -16,5 persen.

Sementara Thailand mengalami defisit cukup lebar tahun ini, yakni 2,8 persen tahun lalu menjadi -6 persen tahun ini. Di sisi lain, kegiatan ekonomi Thailand pada kuartal II-2020 masih negatif 12,2 persen.

"Demikian juga Singapura yang biasanya sangat prudent terhadap kebijakan fiskalnya tahun ini defisit fiskal mencapai 13,5 persen, dan mereka dihadapkan pada kontraksi perekonomian sebesar 13,2 persen," ujar Sri Mulyani.

"Kalau dibandingkan defisit APBN atau stimulus APBN yang dilakukan banyak negara dalam rangka tangani Covid-19 dan dalam rangka ekonomi menurun tajam, juga terlihat negara-negara yang perekonomian merosot tajam di kuartal II, defisit APBNnya jauh lebih dalam. Dan itu artinya mereka belum countercylcical, belum tunjukkan hasil," ujar Sri Mulyani.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Masuk ke Beberapa Indeks Saham Syariah, Elnusa Terus Tingkatkan Transparansi Kinerja

Masuk ke Beberapa Indeks Saham Syariah, Elnusa Terus Tingkatkan Transparansi Kinerja

Whats New
Pesawat Haji Boeing 747-400 Di-'grounded' Pasca-insiden Terbakar, Garuda Siapkan 2 Armada Pengganti

Pesawat Haji Boeing 747-400 Di-"grounded" Pasca-insiden Terbakar, Garuda Siapkan 2 Armada Pengganti

Whats New
ASDP Terus Tingkatkan Peran Perempuan pada Posisi Tertinggi Manajemen

ASDP Terus Tingkatkan Peran Perempuan pada Posisi Tertinggi Manajemen

Whats New
Jaga Loyalitas Pelanggan, Pemilik Bisnis Online Bisa Pakai Strategi IYU

Jaga Loyalitas Pelanggan, Pemilik Bisnis Online Bisa Pakai Strategi IYU

Whats New
Bulog Targetkan Serap Beras Petani 600.000 Ton hingga Akhir Mei 2024

Bulog Targetkan Serap Beras Petani 600.000 Ton hingga Akhir Mei 2024

Whats New
ShariaCoin Edukasi Keuangan Keluarga dengan Tabungan Emas Syariah

ShariaCoin Edukasi Keuangan Keluarga dengan Tabungan Emas Syariah

Whats New
Insiden Kebakaran Mesin Pesawat Haji Garuda, KNKT Temukan Ada Kebocoran Bahan Bakar

Insiden Kebakaran Mesin Pesawat Haji Garuda, KNKT Temukan Ada Kebocoran Bahan Bakar

Whats New
Kemenperin Pertanyakan Isi 26.000 Kontainer yang Tertahan di Pelabuhan Tanjung Priok dan Tanjung Perak

Kemenperin Pertanyakan Isi 26.000 Kontainer yang Tertahan di Pelabuhan Tanjung Priok dan Tanjung Perak

Whats New
Tingkatkan Akses Air Bersih, Holding BUMN Danareksa Bangun SPAM di Bandung

Tingkatkan Akses Air Bersih, Holding BUMN Danareksa Bangun SPAM di Bandung

Whats New
BEI: 38 Perusahaan Antre IPO, 8 di Antaranya Punya Aset di Atas Rp 250 Miliar

BEI: 38 Perusahaan Antre IPO, 8 di Antaranya Punya Aset di Atas Rp 250 Miliar

Whats New
KAI Services Buka Lowongan Kerja hingga 25 Mei 2024, Simak Kualifikasinya

KAI Services Buka Lowongan Kerja hingga 25 Mei 2024, Simak Kualifikasinya

Work Smart
Anggaran Pendidikan di APBN Pertama Prabowo Capai Rp 741,7 Triliun, Ada Program Perbaikan Gizi Anak Sekolah

Anggaran Pendidikan di APBN Pertama Prabowo Capai Rp 741,7 Triliun, Ada Program Perbaikan Gizi Anak Sekolah

Whats New
Bantah Menkeu soal Penumpukan Kontainer, Kemenperin: Sejak Ada 'Pertek' Tak Ada Keluhan yang Masuk

Bantah Menkeu soal Penumpukan Kontainer, Kemenperin: Sejak Ada "Pertek" Tak Ada Keluhan yang Masuk

Whats New
Tidak Ada 'Black Box', KNKT Investigasi Badan Pesawat yang Jatuh di BSD

Tidak Ada "Black Box", KNKT Investigasi Badan Pesawat yang Jatuh di BSD

Whats New
Investasi Rp 10 Miliar, Emiten Perhotelan KDTN Siap Ekspansi Bisnis Hotel Rest Area

Investasi Rp 10 Miliar, Emiten Perhotelan KDTN Siap Ekspansi Bisnis Hotel Rest Area

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com