Rupiah Ditutup Menguat di Akhir Pekan, Ini Penyebabnya

Kompas.com - 04/09/2020, 16:40 WIB
Ilustrasi rupiah ShutterstockIlustrasi rupiah
Penulis Kiki Safitri
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS menguat pada penutupan perdagangan di pasar spot, Jumat (4/9/2020).

Mengutip data Bloomberg sore ini, rupiah ditutup menguat 28 poin atau 0,19 persen pada level Rp 14.750 per dollar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya Rp 14.778 per dollar AS.

Direktur PT.TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan penguatan rupiah terdorong oleh sentimen domestik, terkait dengan rencana penerbitan Peraturan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) tentang Reformasi Sistem Keuangan.

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pun tengah menyusun Rencana Undang-Undang (RUU) tentang perubahan ketiga atas UU Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Salah satu yang diatur dalam RUU adalah pembentukan dewan moneter untuk menetapkan setiap kebijakan moneter yang ditempuh.

“Perlu ada kajian terbaru yang bisa mengangkat perekonomian kembali pulih dengan melakukan reformasi total namun masih mengikuti kaidah yang sesuai dengan regulasi yang sudah ada. Walaupun data PDB Kuartal Ketiga belum dirilis, kondisi yang tak menentu ini mendorong pemenintah menerbitkan amandemen Undang-undang (UU) BI,” kata Ibrahim.

Baca juga: Pabrik Jadi Klaster Sebaran Covid-19, Begini Instruksi Menaker

Opsi pemerintah dengan mengembalikan Dewan Moneter seperti masa Orde Baru, sebagai persiapan regulasi, apabila Indonesia benar-benar mengalami resesi.

Dalam RUU ini nantinya, Dewan Moneter memimpin, mengkoordinasikan dan mengarahkan kebijakan moneter sejalan dengan kebijakan umum Pemerintah di bidang perekonomian.

Nantinya, Dewan Moneter terdiri Menteri Keuangan sebagai ketua, satu orang menteri di bidang perekonomian, Gubernur BI dan Deputi Senior BI, serta Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Jika dipandang perlu, maka pemerintah dapat menambah beberapa orang menteri sebagai anggota penasihat Dewan Moneter,” ungkap dia.

Adapun sentimen eksternal yang mempengaruhi laju pergerakan rupiah adalah kebijakan The Fed yang mempertahankan suku bunga rendah untuk waktu yang sangat lama mengindikasikan perlambatan pertumbuhan ekonomi AS.

Sementara itu, tidak adanya kemajuan dalam negosiasi perdagangan antara Inggris dan Uni Eropa, di mana para pejabat senior Inggris hanya melihat kemungkinan 30 persen sampai 40 persen, kesepakatan perjanjian perdagangan Brexit dengan Uni Eropa. Ini terjadi karena kebuntuan atas aturan bantuan negara.

Baca juga: IHSG Akhir Pekan Ditutup pada Zona Merah



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X