Indef Proyeksi Angka Kemiskinan Kembali Naik pada September 2020

Kompas.com - 08/09/2020, 13:52 WIB
Warga beraktivitas di pemukiman padat penduduk di bantaran Sungai Ciliwung, Manggarai, Jakarta, Minggu (28/7/2019). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, persentase penduduk miskin DKI Jakarta pada Maret 2019 adalah 3,47 persen atau sebesar 365,55 ribu orang. Saat ini pemerintah DKI Jakarta melakukan pilot project di beberapa wilayah dengan mengutamakan program KJP, Kesehatan, dan Pendidikan yang ditargetkan dapat mengurangi kemiskinan. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGWarga beraktivitas di pemukiman padat penduduk di bantaran Sungai Ciliwung, Manggarai, Jakarta, Minggu (28/7/2019). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, persentase penduduk miskin DKI Jakarta pada Maret 2019 adalah 3,47 persen atau sebesar 365,55 ribu orang. Saat ini pemerintah DKI Jakarta melakukan pilot project di beberapa wilayah dengan mengutamakan program KJP, Kesehatan, dan Pendidikan yang ditargetkan dapat mengurangi kemiskinan.
Penulis Mutia Fauzia
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memperoyeksi angka kemiskinan bakal kembali mengalami peningkatan pada periode September 2020.

Ekonom Indef Rusli Abdullah mengatakan, peningkatan angka kemiskinan akan sama seperti peningkatan jumlah penduduk miskin yang terjadi pada periode September 2019 hingga Maret 2020 lalu, yakni jumlah penduduk miskin naik 1,63 juta jiwa atau 0,56 persen selama pandemi.

"Asumsi kami, pertambahan jumlah penduduk miskin pada September 2020 sama dengan pertambahan dari September 2019 ke Maret 2020, sebesar 0,56 persen," ujar Rusli dalam video conference, Selasa (8/9/2020).

Baca juga: Promo RedDoorz, Ada Diskon hingga 99 Persen?

Indef pun memperkirakan, dengan kenaikan jumlah penduduk miskin tersebut, angka kemiskinan Indonesia akan kembali double digit, yakni di kisaran 10,34 persen.

Padahal, pada periode pertama pemerintahan Presiden Joko Widodo, pemerintah menekan angka kemiskinan 1,64 persen atau sebesar 2,93 juta jiwa.

Rata-rata setiap tahun, pemerintahan periode pertama Jokowi menurunkan angka kemiskinan sebesar 0,34 persen atau 0,58 juta jiwa.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Namun pada periode II, dalam enam bulan masa kepemimpinannya, angka kemiskinan kembali naik hingga 1,63 juta jiwa atau 0,56 persen.

"Covid-19 ini menggerus kesejahteraan, meningkatkan angka kemiskinan," ujar Rusli.

Baca juga: Menhub Beberkan Tantangan Kelola Aset Kemenhub Rp 504 Triliun

"Awal pandemi kemiskinan meningkat 1,63 juta orang, itu sama dengan usaha menurunkan kemiskinan selama 1,5 tahun antara Maret 2018 hingga September 2019," sambungnya.

Rusli pun menilai, upaya pemerintah untuk menekan angka kemiskinan di tahun depan bisa terealisasi hanya bila penyebaran Covid-19 di Indonesia bisa terkendali.

Untuk diketahui, pemerintah menargetkan angka kemiksinan tahun depan mampu terjaga di single digit, yakni di kisaran 9,2 persen hingga 9,7 persen.

"Yang realistis 9,7 persen, atau hampir sama dengan Maret 2020, tapi dengan asumsi Covid-19 penyebarannya makin terkendali," ujar dia.

Baca juga: Ini Syarat Dapat Keringanan Iuran BPJS Ketenagakerjaan



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X