Menteri ESDM: Kita Bergantung pada Energi Impor

Kompas.com - 08/09/2020, 16:30 WIB
Ilustrasi minyak bumi ShutterstockIlustrasi minyak bumi

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, mengakui permintaan energi nasional terus mengalami peningkatan setiap waktunya. Hal tersebut sejalan dengan adanya perkembangan teknologi, perekonomian nasional, maupun perubahan gaya hidup.

Namun, peningkatan konsumsi energi tersebut justru berpotensi memperburuk neraca dagang nasional. Pasalnya, sampai saat ini bauran energi nasional masih didominasi oleh bahan bakar fosil atau tidak terbarukan. Padahal, pada saat bersamaan jumlah cadangan bahan bakar fosil terus menipis.

Oleh karenanya, untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, saat ini pemerintah terpaksa melakukan impor. Ironisnya, sampai saat ini Indonesia masih terdaftar sebagai salah satu anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Baca juga: Menteri ESDM: Pemanfaatan Energi Baru Terbarukan Baru 2,5 Persen

"Kita bergantung pada energi berbasis bahan bakar fosil. Dan Indonesia merupakan salah satu anggota dari OPEC. Tapi cadangan kita terus menurun. Sekarang kita bukan lagi eksportir tapi importir. Kita bergantung pada energi impor," kata Arifin, dalam diskusi virtual, Selasa (8/9/2020).

Jika dilihat berdasarkan sumber pembangkit listrik, energi fosil masih sangat mendominasi.

Tercatat, hingga paruh pertama tahun 2020, sumangan energi fosil terhadap pembangkit listrik nasional mencapai 60.486 mega watt (MW) atau setara 85,31 persen dari total kapasitas terpasang nasional.

Oleh karenanya, Arifin menekankan pentingnya pengembangan industri energi baru terbarukan (EBT) guna menciptakan ketahanan energi nasional.

Kementerian ESDM mencatat, potensi pemanfaatan EBT mencapai 417,8 giga watt (GW). Namun, sampai dengan Agustus 2020, realisasi pemanfaatan EBT baru mencapai 10,4 GW atau etara 2,5 persen dari potensi yang dimiliki.

Baca juga: Lewat Bahan Bakar Berbahan Sawit, Pemerintah Klaim Ketahanan Energi Nasional Meningkat

"Kita harus beralih dari bahan bakar fosil," ujar Arifin.

Dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), bauran EBT terhadap sumber energi nasional ditargetkan mencapai 23 persen. Dengan demikian, diharapkan ketergantungan impor bahan bakar fosil dapat terus berkurang.

"Konsumsi energi diproyeksi mencapai 1,4 TOE (Setara Ton Minyak) per kapita, dengan konsumsi 2.500 kWh per kapita," ucapnya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X