PSBB Total Berlaku, PHRI: Kan, Enggak Mungkin Orang Lokal yang Mengisi...

Kompas.com - 14/09/2020, 11:06 WIB
Ilustrasi hotel dok. HiltonIlustrasi hotel

JAKARTA, KOMPAS.com - Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) total di Jakarta mulai berlaku hari ini, Senin (14/9/2020) hingga dua pekan ke depan. Penerapan PSBB tersebut diatur dalam Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 88 Tahun 2020.

Dalam ketentuan baru PSBB, sektor perhotelan menjadi salah satu bidang usaha yang tetap dapat beroperasi selama masa pembatasan. Tentunya pembukaan diikuti dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Meski diizinkan buka,  Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengaku hotel akan sangat terdampak dalam masa PSBB total ini.

Baca juga: Bos Djarum Surati Jokowi Tolak PSBB, YLKI: Mencerminkan Kepentingan Bisnisnya

Sebab sebut dia, tetap saja masyarakat akan mengurangi perjalanannya ke Jakarta. Mengingat, sebagian besar konsumen perhotelan di Jakarta adalah orang luar kota yang sedang melakukan perjalanan ke Ibu Kota.

"Hotel itu akan berdampak selama pergerakan dibatasi, itu kuncinya. Kalau pergerakannya dibatasi, kan enggak mungkin orang lokal yang mengisi hotel," ucap dia kepada Kompas.com seperti dikutip pada Senin (14/9/2020).

Ia mengatakan, saat masa penerapan pelonggaran PSBB atau PSBB Transisi memberikan 'nafas' bagi perhotelan untuk menekan kerugian setelah sebelumnya ditutup. Kendati demikian, tetap saja untuk mencapai pemulihan masih sangat jauh.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurut Maulana, pada masa adaptasi kenormalan baru tersebut juga tak seluruh hotel di Jakarta buka. Kalau pun buka umumnya tak seluruh kamar tersedia.

"Saat itu tetap masih banyak juga hotel yang tutup, ataupun dia buka tapi cuma berapa persen dari jumlah kamarnya yang buka, karena dia sudah menurunkan daya listrik (saat masa PSBB sebelumnya)," kata dia.

Ia mengakui, di masa kenormalan baru tersebut memang terjadi peningkatan okupansi di sektor perhotelan. Namun, itu hanya terjadi pada hotel bintang 3-5 karena menurunkan harga jual per kamar atau average room rate (ARR), untuk bisa bertahan.  Sehingga hal ini mengambil pasar dari hotel berbintang 1 dan 2.

Baca juga: PSBB Ditetapkan Kemenhub Pastikan Tak Ada Penerapan SIKM

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa okupansi hotel secara keseluruhan tidak mengalami peningkatan signifikan selama masa adaptasi kenormalan baru.

"Itu karena hotel-hotel besar beri harga jual per kamarnya diturunin, itu bisa memakan konsumsi hotel-hotel yang di bawahnya," kata dia.

Oleh sebab itu, Maulana menekankan, pemulihan sektor perhotelan di masa PSBB Transisi saja tak bisa begitu besar, terlebih ketika masa PSBB total kembali diberlakukan.

"Walaupun hotel tidak dibatasi (tetap buka), namun hotel itu pasti akan berdampak luas, apalagi kalau sudah namanya PSBB (diterapkan lagi)," ungkap Maulana.

Baca juga: PSBB Masih Warnai IHSG, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X