Kuartal IV, Indonesia Akan Terima 30 Juta Dosis Vaksin Covid-19 dari UEA

Kompas.com - 15/09/2020, 14:30 WIB
Ilustrasi vaksin corona. Vaksin virus corona yang dikembangkan Rusia, Sputnik V diragukan ilmuwan Barat, terkait data keamanan vaksin yang dikembangkan untuk mencegah Covid-19. SHUTTERSTOCK/Orpheus FXIlustrasi vaksin corona. Vaksin virus corona yang dikembangkan Rusia, Sputnik V diragukan ilmuwan Barat, terkait data keamanan vaksin yang dikembangkan untuk mencegah Covid-19.

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, sebanyak 30 juta dosis vaksin Covid-19 akan diterima oleh Indonesia pada kuartal IV tahun ini.

Vaksin tersebut akan didistribusikan ke masyarakat untuk vaksinasi pada kuartal I 2021.

"Sekarang sudah ada komitmen 30 juta untuk bisa diberikan di kuartal keempat sehingga di kuartal I (2021) nanti kita sudah bisa melakukan vaksinasi sepanjang ada keberhasilan pengetesan dari clinical trial," katanya dalam sambutan Sarasehan Virtual 100 Ekonom, Selasa (15/9/2020).

Airlangga juga menyebut, adanya kerja sama Indonesia dengan perusahaan asal Uni Emirat Arab (UEA), G42 Healthcare Holdings yang akan menghasilkan vaksin Covid-19 hingga 110 juta dosis.

Baca juga: Erick Thohir: RI Paling Agresif di Asia Tenggara Soal Pencarian Vaksin Covid-19

"Kita juga melalui G42 sudah kerja sama untuk mendapatkan akses. Dan sekarang sedang clinical trial di UEA. Akses vaksin 60 juta sampai 110 juta dosis," ujarnya.

Sebelumnya, Peneliti dari Indef Andry Satrio Nugroho memperkirakan vaksin penanganan virus Corona (Covid-19) akan bisa didapatkan paling cepat di akhir 2021 dan paling lambat awal tahun 2022.

"Jadi kemungkinan besar vaksin yang paling cepat itu ada di akhir 2021 atau di awal 2022," katanya dalam diskusi virtual, Kamis (10/9/2020).

Baca juga: Erick Thohir Usul Masyarakat Mampu Beli Vaksin Covid-19

Perkiraan tersebut bermula dari tahapan uji klinis yang akan memakan waktu lama. Tapi, karena adanya kejadian luar biasa pandemi Covid-19 maka uji klinis pun dipercepat.

Kendati dipercepat, lanjut Andry, tahapan vaksin untuk mendapatkan keabsahan produk di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) membutuhkan waktu hingga satu tahun.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X