Menurut ADB, Ini Kunci Pemulihan Ekonomi Negara Berkembang di Asia

Kompas.com - 16/09/2020, 15:01 WIB
Ilustrasi resesi ekonomi akibat pandemi virus corona. SHUTTERSTOCK/LIGHTSPRINGIlustrasi resesi ekonomi akibat pandemi virus corona.

MANILA, KOMPAS.com - Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank / ADB) memprediksi, ekonomi negara berkembang Asia akan menyusut 0,7 persen pada 2020.

Resesi ini merupakan resesi regional yang pertama kalinya sejak enam dekade atau 60 tahun terakhir. Negara-negara "developing Asia" yang mencakup 45 negara tercatat mengalami kemerosotan ekonomi.

Kepala Ekonom ADB Yasuyuki Sawada mengatakan, ada kunci untuk memulihkan ekonomi di negara-negara Asia berkembang. Kuncinya adalah kebijakan yang mengedepankan dan memfasilitasi kesehatan dan kesentosaan secara keseluruhan.

Baca juga: Asia Hadapi Resesi Pertama sejak 60 Tahun Terakhir

"Pandemi ini telah menimbulkan dampak negatif signifikan terhadap kesehatan fisik dan mental, dan pemerintah harus memasukkan kebijakan yang mengedepankan kesentosaan ke dalam rencana pemulihannya," kata Sawada dalam laporan ADB, Rabu (16/9/2020).

Secara lebih riil, laporan menyarankan pemerintah negara Asia berkembang dapat mendukung infrastruktur publik yang mengedepankan kesejahteraan.

Infrastruktur itu meliputi jalur pejalan kaki, jalur sepeda, taman, pusat rekreasi, dan fasilitas olahraga bebas biaya.

Infrastruktur publik dan program kesentosaan ini utamanya penting bagi penduduk miskin di Asia, yang biasanya tidak memiliki akses ke fasilitas swasta seperti pusat kebugaran.

Baca juga: 5 Negara Asia Tempati Peringkat Teratas Global untuk PDB, RI Peringkat Berapa?

"Langkah ini akan menambah jumlah orang yang ikut serta dalam kegiatan rekreasi fisik secara rutin, yang saat ini baru mencapai 33,2 persen, sehingga mereka semakin sehat," papar Sawada.

Sawada berujar, pemerintah juga perlu mendorong kebiasaan makan sehat, dengan meningkatkan informasi dan kesadaran konsumen mengenai gizi dan makanan.

Adapun beberapa negara di kawasan sudah menerapkan pajak lebih tinggi terhadap makanan berkadar gula tinggi dan produk tembakau. Pajak tinggi ini telah dikombinasikan dengan pengungkapan informasi gizi produk makanan dan minuman.

"Hal ini penting mengingat biaya medis tahunan yang diakibatkan oleh obesitas diperkirakan sebesar 0,8 persen dari produk domestik bruto (PDB) kawasan ini," ujarnya.

Kemudian yang terakhir, pemerintah di kawasan Asia dan Pasifik harus berusaha memastikan lingkungan kerja fisik yang aman dan sehat bagi para pekerja, terutama dalam skenario pasca-Covid-19.

Informasi saja, industri terkait kesejahteraan menyumbangkan sekitar 5 persen dari PDB global, atau 4,5 triliun dollar AS pada tahun 2018.

Pada 2017, kawasan Asia menyumbang sekitar 11 persen dari PDB. Nilai ini tumbuh sekitar 10 persen setiap tahun.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X