Sri Mulyani: Meski Banyak Harapan soal Vaksin, Butuh Waktu Lama bagi Ekonomi untuk Pulih

Kompas.com - 17/09/2020, 08:36 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ketika melantik pejabat eselon II, III, dan IV Kementerian Keuangan di Jakarta, Jumat (29/11/2019). KOMPAS.COM/MUTIA FAUZIAMenteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ketika melantik pejabat eselon II, III, dan IV Kementerian Keuangan di Jakarta, Jumat (29/11/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku ragu keberadaan vaksin bisa serta-merta langsung memulihkan kondisi sosial dan ekonomi yang terpukul pandemi Covid-19.

Bendahara Negara itu mengatakan, kondisi perekonomian RI masih terlalu rapuh dan masih terlalu awal untuk melihat pemulihan dalam waktu dekat.

"Ini masih terlalu awal dan terlalu rapuh bagi kita melihat pemulihan di masa depan. Karena Covid-19 masih di sini bersama kita, meskipun banyak harapan dan diskusi mengenai vaksin," ujar Sri Mulyani dalam sebuah webinar, Rabu (16/9/2020) malam.

Baca juga: Luhut Janji Vaksin Covid-19 di Indonesia Tersedia Desember 2020

Sri Mulyani menilai, Indonesia membutuhkan waktu lebih lama untuk proses pemulihan, baik itu dari sisi kesehatan maupun ekonomi.

Dia pun menilai, meski kontraksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II lalu Indonesia tak terlalu dalam dibanding negara lain, bukan berarti kondisi Indonesia lebih baik.

Sri Mulyani mengatakan, RI harus tetap waspada, terutama dengan kondisi perusahaan-perusahaan di dalam negeri yang kian melemah.

"Ini tentu saja berdampak pada sistem keuangan dan perbankan. Ini era di mana pemerintah dan KSSK harus terus memonitor dan berdiskusi untuk mendesain kebijakan yang diperlukan," ujar Sri Mulyani.

Untuk diketahui, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II lalu mengalami kontraksi, yakni sebesar -5,32 persen.

Dia pun sempat memaparkan, pengetatan kembali pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di DKI Jakarta bakal kian menekan realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III mendatang.

Baca juga: Kuartal IV, Indonesia Akan Terima 30 Juta Dosis Vaksin Covid-19 dari UEA

Untuk diketahui, pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III di kisaran 0 persen -2,1 persen.

Bendahara Negara itu pun mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal III akan cenderung pada batas bawah proyeksi yang telah ia sampaikan, yakni minus 2,1 persen. Bahkan, bisa jadi lebih rendah dari angka batas bawah tersebut.

"Seperti pada Maret lalu penurunan (pertumbuhan ekonomi) mencapai 2 persen, kita memperkirakan mungkin lower end-nya yang minus 2,1 persen atau bisa jadi lebih rendah dari -2,1 persen," ujar Sri Mulyani ketika memberikan keterangan pers, Selasa (15/9/2020).



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X