Jaga Rupiah, BI Diprediksi Tahan Suku Bunga di Level 4 Persen

Kompas.com - 17/09/2020, 10:41 WIB
Logo Bank Indonesia (BI). KOMPAS.com/SAKINA RAKHMA DIAH SETIAWANLogo Bank Indonesia (BI).

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia (BI) diprediksi masih menahan suku bunga acuan BI-7 days (reserve) repo rate (BI-7DRR) di level 4 persen.

"BI berpotensi mempertahankan BI-7DRR di level 4,00 persen mempertimbangkan beberapa faktor," kata VP Economist PT Bank Permata Tbk Josua Pardede kepada Kompas.com, Kamis (17/9/2020).

Josua memperkirakan, salah satu alasan BI mempertahankan suku bunga adalah untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Perkembangan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek masih menunjukkan volatilitas.

Baca juga: The Fed Pertahankan Suku Bunga Acuan

Nilai tukar rupiah secara rata-rata meningkat pada bulan September, terindikasi dari one-month implied volatility yang meningkat menjadi 11,0 persen, dari bulan Agustus yang tercatat di kisaran 10,7 persen.

"Dengan mempertimbangkan hal tersebut, maka BI cenderung akan mempertahankan suku bunganya agar nilai tukar rupiah tetap stabil di jangka pendek," ucap Josua.

Selain nilai tukar, pernyataan Bank Indonesia pada RDG sebelumnya juga menyiratkan hal demikian. Pada RDG sebelumnya, BI bakal mengedepankan kebijakan injeksi likuiditas atau Quantitative Easing (QE) dalam rangka mendukung pemulihan ekonomi.

Dua faktor itu mendukung BI untuk tak menurunkan suku bunga acuan, kendati ruang penurunan suku bunga masih ada namun terbatas.

Adanya ruang BI untuk menurunkan suku bunga terlihat dari tingkat inflasi yang rendah, seiring dengan inflasi pada bulan Agustus yang tercatat 1,32 persen secara tahunan (year on year/yoy). Tingkat inflasi ini lebih rendah dari batas bawah target BI di tahun ini sebesar 2 persen.

Baca juga: BI Pertahankan Suku Bunga Acuan Tetap 4 Persen

Selain dari sisi inflasi, defisit transaksi berjalan (CAD) juga akan mengalami penurunan yang signifikan di kuartal III 2020 akibat neraca dagang yang membukukan surplus tinggi.

Pada bulan Juli-Agustus, surplus neraca dagang tercatat mencapai 5,56 miliar dollar AS, jauh lebih tinggi dibandingkan neraca dagang pada kuartal I dan kuartal II 2020 masing-masing 2,6 miliar dollar AS dan 2,9 miliar dollar AS.

Josua menilai, BI akan cenderung terus melanjutkan kebijakan longgarnya, baik melalui suku bunga maupun non-suku bunga, untuk menopang pelemahan permintaan daya beli dan melambatnya aktivitas ekonomi.

"BI mungkin akan memberikan stimulus melalui kebijakan non-suku bunga untuk sementara waktu, seiring dengan masih adanya tekanan kepada Rupiah. Bila Rupiah cenderung mulai stabil, maka ruang untuk melakukan penurunan suku bunga menjadi semakin terbuka," pungkas Josua.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Banyak Saham Auto Reject Bawah, Netizen Salahkan Sekuritas Lakukan 'Forced Sell'

Banyak Saham Auto Reject Bawah, Netizen Salahkan Sekuritas Lakukan "Forced Sell"

Whats New
Sri Mulyani Peringatkan Masalah Vaksin Bisa Jadi Krisis Moral Dunia

Sri Mulyani Peringatkan Masalah Vaksin Bisa Jadi Krisis Moral Dunia

Whats New
Ada Penggeledahan Kejagung Terkait Dugaan Korupsi, BPJS Ketenagakerjaan Tetap Beroperasi Normal

Ada Penggeledahan Kejagung Terkait Dugaan Korupsi, BPJS Ketenagakerjaan Tetap Beroperasi Normal

Whats New
Kemenkop UKM dan Kemenparekraf Berkolaborasi untuk Kembangkan 5 Destinasi Super-Prioritas

Kemenkop UKM dan Kemenparekraf Berkolaborasi untuk Kembangkan 5 Destinasi Super-Prioritas

Rilis
Airlangga: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2021 Akan Lebih Rendah dari Tahun lalu

Airlangga: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2021 Akan Lebih Rendah dari Tahun lalu

Whats New
Viral Video Pengiriman Paket Berisikan Ular Hidup, Ini Tanggapan Perusahaan Logistik

Viral Video Pengiriman Paket Berisikan Ular Hidup, Ini Tanggapan Perusahaan Logistik

Whats New
Ini Waktu yang Dipilih Masyarakat untuk Menjual Mobilnya

Ini Waktu yang Dipilih Masyarakat untuk Menjual Mobilnya

Spend Smart
KSPI: Turunnya Jumlah Peserta BPJS Ketenagakerjaan Bukti Ledakan PHK Gelombang Kedua

KSPI: Turunnya Jumlah Peserta BPJS Ketenagakerjaan Bukti Ledakan PHK Gelombang Kedua

Rilis
Waktunya Pemerintah dan Swasta Bersatu Tanggulangi Dampak Pandemi Covid-19

Waktunya Pemerintah dan Swasta Bersatu Tanggulangi Dampak Pandemi Covid-19

Whats New
OJK Usul Spin Off Bank Syariah Tak Wajib Dilakukan

OJK Usul Spin Off Bank Syariah Tak Wajib Dilakukan

Whats New
Sri Mulyani: Kita Beruntung Bisa Amankan Vaksin, Banyak Negara yang Kesulitan

Sri Mulyani: Kita Beruntung Bisa Amankan Vaksin, Banyak Negara yang Kesulitan

Whats New
Saat Susi Khawatir 'Keserakahan' Aplikasi Belanja Online Bikin Mati Pedagang Kecil

Saat Susi Khawatir "Keserakahan" Aplikasi Belanja Online Bikin Mati Pedagang Kecil

Whats New
Stok Bawang Menipis, Indonesia Bersiap Impor

Stok Bawang Menipis, Indonesia Bersiap Impor

Whats New
Vaksinasi Covid-19, Sri Mulyani Minta Pemda Tak Hanya Andalkan Pusat

Vaksinasi Covid-19, Sri Mulyani Minta Pemda Tak Hanya Andalkan Pusat

Whats New
Mengintip Tren Membeli Mobil Selama Masa Pandemi

Mengintip Tren Membeli Mobil Selama Masa Pandemi

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X