Omzet Anjlok hingga 90 Persen, Pemilik Holycow! Steakhouse Putar Otak Bertahan Ditengah Pandemi

Kompas.com - 22/09/2020, 18:38 WIB
Ilustrasi steak daging sapi yang dipotong menyilang. SHUTTERSTOCK/MARAZEIlustrasi steak daging sapi yang dipotong menyilang.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pandemi Covid-19 membuat sebagian besar orang membatasi pergerakkan. Hal ini seiring dengan penerapan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) oleh pemerintah untuk menekan penularan.

Imbasnya, sejumlah pelaku bisnis terpukul lantaran kegiatan ekonomi tak berjalan normal. Salah satu yang paling terimbas adalah restoran.

Pengusaha di sektor kuliner ini pun harus memutar otak untuk bisa bertahan di tengah krisis akibat pandemi ini. Strategi penjualan harus diubah untuk tetap bisa mengaet pembeli, maka tak aneh kini banyak yang menjajakan jualannya di pinggir jalan.

Baca juga: Daya Beli Pulih, Kunjungan ke Restoran Naik 52,3 Persen saat PSBB Transisi

Salah satu pengusaha kuliner, Afit Dwi Putranto, pemilik Holycow! Steakhouse by Chef Afit, juga turut melakukan perubahan strategi penjualan untuk bisa menarik konsumen. Lantaran, pandemi membuat omzet restorannya anjlok bahkan hingga 90 persen.

"Loss-nya besar sekali, karena pas April (saat masa PSBB berlaku pertama kali) saja omzet kita langsung turun hampir 90 persen. Saat itu orang kan masih parno juga (takut keluar rumah)," ujar Afit kepada Kompas.com seperti dikutip pada Selasa (22/9/2020).

Ia mengatakan, saat pemerintah melakukan pelonggaran PSBB, khususnya di Jakarta dengan penerapan PSBB Transisi memang sudah mulai mengalami pemulihan. Sebab, restoran kembali dibuka dengan pengunjung bisa makan di tempat (dine in).

Sayangnya, pemulihan yang baru dimulai itu tak berlangsung lama, sebab Pemprov DKI Jakarta kembali menerapkan pengetatan PSBB seiring tingginya penambahan kasus. Restoran kini dilarang menyediakan layanan makan di tempat.

"Tapi saat ini penurunan omzetnya mencapai 55-60 persen, jadi memang sudah bisa ditekan. Ini tetap saja (penurunan) besar buat kita, tapi setidaknya lebih baik dari pada penurunan di PSBB pertama," jelas dia.

Afit mengatakan, mengecilnya angka penurunan omzet tak lepas dari upaya pihaknya untuk memiliki strategi penjualan yang lain, tak bisa hanya mengandalkan sistem dine in. Tak cukup pula dengan sistem delivery dan take away.

Baca juga: Terapkan Protokol Kesehatan, Hotel dan Restoran Gandeng Startup

"Jadi karena memang yang dilarang itu dine in bukan berarti kita enggak bisa jualan, kalau di grup saya sendiri sudah pivoting (merubah strategi) sejak April dengan coba buka divisi-divisi baru," ujarnya.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X