Omzet Anjlok hingga 90 Persen, Pemilik Holycow! Steakhouse Putar Otak Bertahan Ditengah Pandemi

Kompas.com - 22/09/2020, 18:38 WIB
Ilustrasi steak daging sapi yang dipotong menyilang. SHUTTERSTOCK/MARAZEIlustrasi steak daging sapi yang dipotong menyilang.

Restoran yang menjual steak daging ini memutuskan membuka sistem penjualan ready to cook, di mana konsumen bisa membeli daging mentah yang sudah dibumbui dan bisa memasak langsung di rumah. Termasuk juga dengan menjual saos atau bumbu dagingnya.

Pemasarannya pun kini merambah e-commerce yakni Tokopedia dan Shopee, seiring dengan tren masyarakat yang semakin gemar belanja secara online. Ini sekaligus menjadi strategi penjualan untuk menjangkau lebih luas konsumen.

"Karena kan steak sebenarnya makannya paling enak itu disajikan langsung, fresh from the oven. Jadi paling enak memang bisa dinikmati langsung dari dapur," imbuh Afit.

Divisi baru lainnya yang dibuka oleh Afit adalah penjualan dengan makan di lokasi parkir di dalam kendaraan masing-masing pembeli. Ini dilakukan di beberapa outlet-nya yang memang berada di luar pusat perbelanjaan dan memiliki lahan parkir yang cukup luas.

Ia menjelaskan, pengunjung bisa datang dengan mobil pribadinya, mengambil bagian di tempat parkir, yang kemudian akan dihampiri crew restoran untuk pemesanan hingga pembayaran. Maka, ketika pesanan datang konsumen bisa langsung menikmatinya di dalam mobil.

"Jadi mereka bisa makan di mobil, dengan juga kita kasih meja kecil yang bisa ditaruh dipangkuan untuk makan steak-nya," terangnya.

Afit mengakui, pandemi sangat berimbas pada usaha kuliner, yang memang sebagian besar selama ini mengandalkan penjualan dari sistem dine in. Oleh sebab itu, ia memastikan akan terus berinovasi untuk bisa bertahan hingga melewati pandemi.

Kini ia tengah berupaya memperluas pemasaran dengan merambah waralaba atau franchise lewat sistem penjualan ready to cook. Toko akan dibuka secara online, dengan seluruh bahan dan peralatan pendukung disediakan oleh Holycow! Steakhouse.

"Langkah-langkah itu yang kita lakukan selama dine in masih dilarang pemerintah. Karena kalau cuma andalkan cara-cara konvensional, hanya datang ke restoran, itu agak sulit. Bahkan enggak bisa survive kalau cuma andalkan dine in," pungkas Afit.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X