Komite Penanganan Covid-19 dan PEN Sebut Kinerja Perbankan Tidak Seburuk Prediksi

Kompas.com - 23/09/2020, 05:56 WIB
Ilustrasi bank Thinkstockphotos.comIlustrasi bank
Penulis Mutia Fauzia
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) mengatakan kondisi industri perbankan lebih baik dari yang diperkirakan.

Meski kondisi industri perbankan tetap memburuk akibat pandemi Covid-19, Sekretaris Komite Penanganan Covid-19 dan PEN Raden Pardede mengatakan, berdasarkan pertemuan dengan pimpinan bank-bank Buku III dan IV, dampak Covid-19 terhadap industri perbankan tidak seburuk yang dibayangkan.

"Ini penting, kita garis bawahi bahwa keadaannya tentu dibandingkan Covid-19 semua lebih buruk. Tapi diperkiraan awal kami akan melakukan restrukturisasi sampai dengan 50 persen, dan NPL (rasio kredit macet/non performing loan) akan naik hingga 20 persen," ujar Raden melalui rilis video, Selasa (22/9/2020).

"Ternyata tidak seburuk itu sesudah kami melihat di kuartal III," sambung dia.

Baca juga: [POPULER MONEY] Heboh FinCEN Files | RI Siap-siap Resesi

Raden pun mengatakan, indikator pertumbuhan kredit diperkirakan masih rendah pada kuartal III-2020. Namun demikian, menurutnya hal itu sudah diperkirakan oleh kalangan perbankan.

Hingga Juli 2020, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kredit perbankan tumbuh sebesar 1,53 persen dibanding Juni 1,4 persen.

Di sisi lain, Raden mengungkapkan realisasi restrukturisasi kredit pun cenderung rendah, yakni di kisaran 15 persen.

"Ternyata banyak juga dunia usaha yang mungkin relatif masih mampu bertumpu terutama pada sektor-sektor usaha yang sudah dibuka pada Juli lalu," kata Raden.

Baca juga: Isu Beras Bercampur Plastik, Bulog: Tak Ada Kaitan dengan Bansos

Dari sisi profitabilitas pun, penurunan laba juga sudah terprediksi. Menurut Raden, kinerja sektor perbankan yang tak lebih buruk dari proyeksi terjadi didorong oleh stimulus yang telah digelontorkan pemerintah.

Dengan demikian, permintaan domestik terjadi dan diharapkan bisa mendorong perekonomian.

"Belum pernah dalam sejarah perekonomian Indonesia bansos dikucurkan besar-besaran, dan di kuartal III pipa-pipa bansos ini yang langsung masuk baik ke rumah tangga maupun pekerja dengan gaji di bawah Rp 5 juta diberi subsidi pemerintah, demikian juga fasilitas untuk UMKM demikian banyak," ucapnya.

Baca juga: DPR Ingin Staf BKPM Dilarang Main TikTok



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X