Pandemi Merugikan, tetapi Dorong Strategi Bisnis yang Inovatif

Kompas.com - 24/09/2020, 17:41 WIB
Ribeye steak dengan saus black pepper salah satu menu favorit yang disediakan Holycow Steakhouse by Chef Afit di kawasan Bintaro, Tangerang, Banten, Rabu (19/2/2014). KOMPAS/LUCKY PRANSISKARibeye steak dengan saus black pepper salah satu menu favorit yang disediakan Holycow Steakhouse by Chef Afit di kawasan Bintaro, Tangerang, Banten, Rabu (19/2/2014).

JAKARTA, KOMPAS.com - Pandemi Covid-19 membuat kewalahan para pelaku usaha untuk bisa mempertahankan bisnisnya di tengah krisis. Pengusaha dipaksa untuk bisa berinovasi dalam menyusun strategi bisnisnya.

Sehingga, di samping kondisi yang merugi akibat pandemi, pelajaran lainnya dari situasi ini adalah mampu menciptakan strategi bisnis yang inovatif mengikuti perkembangan masa kini.

Hal tersebut turut dilakukan oleh Afit Dwi Putranto, pemilik Holycow! Steakhouse by Chef Afit.

Baca juga: Curhat Pengusaha Restoran Saat PSBB: Tak Ada Pembeli hingga Bahan Baku Terancam Busuk

Pengusaha restoran ini mengaku harus memutar otak untuk bisa menciptakan inovasi baru guna mendorong penjualannya.

Sebab, omzetnya sempat anjlok 90 persen saat Pemprov DKI Jakarta mulai menerapkan PSBB pada April 2020.

"Kita memang jadi salah satu yang terkena dampak paling berat sih, dan kayaknya agak sulit mengharapkan bantuan dari pemerintah, makannya memang harus benar-benar pivoting (merubah strategi) sih," ungkap Afit kepada Kompas.com, Kamis (24/9/2020)l

Ada beberapa inovasi bisnis yang berhasil ia ciptakan dalam memasarkan menu steak restorannya, yakni merambah e-commerce. 

Baca juga: Simak, 5 Strategi Menjaga dan Mengembangkan Bisnis di Era Pandemi

Holycow! kini menjual daging mentah yang sudah dibumbui, termasuk juga menjual bumbu dagingnya secara terpisah.

Layanan yang dinamai 'ready to cook' ini dimaksudkan untuk pembeli bisa langsung memasak dan menikmati steak di rumah, tanpa perlu ke restoran.

Selain itu, penjualan dilakukan dengan menyediakan layanan makan di lokasi parkir di dalam kendaraan masing-masing pembeli. Mulai dari pemesanan, pembayaran, hingga menyantap hidangan dilakukan di dalam mobil.

Inovasi ini dilakukan karena pemerintah memang melarang restoran untuk menyediakan layanan makan di tempat atau dine in. Padahal, kata Afit, steak merupakan menu yang paling pas disantap saat baru saja matang.

"Selama ini kan (selain dine in), kita adanya delivery sama take away. Tapi kan sebenarnya steak itu makanan yang paling enak disajikan fresh from the oven," kata dia.

Baca juga: Ini Kendala yang Kerap Dihadapi Pelaku Bisnis Mikro dalam Usahanya

Nah, strategi yang semula tercipta karena desakan kondisi yang merugikan tersebut, menurut Afit, kedepannya akan terus diadopsi menjadi divisi bisnisnya yang baru. Ia melihat peluang dari inovasi yang dilakukannya.

"Apabila semuanya sudah terkendali pun (pandemi selesai), sepertinya kita melihat ini ada potensi maka akan dijadikan unit bisnis yang baru malahan," ungkapnya.

Kedepannya Afit mengaku bakal fokus pada pengembangan dua divisi ini, yakni layanan 'ready to cook' dan layanan makan di dalam mobil pembeli.

Semakin gencar menjual lewat e-commerce sembari memiliki restoran dengan lahan parkir yang luas.

"Kalau bisa kita cari tempat parkir yang luas supaya orang bisa makan di mobil," imbuh dia.

Baca juga: PSBB Jilid II, Angka Kunjungan ke Restoran di Jakarta Turun Jadi 19 Persen

Untuk penjualan 'ready to cook' bahkan kini tengah Afit kembangkan ke sistem waralaba atau franchise. Di mana toko akan dibuka secara online, dengan seluruh bahan dan peralatan pendukung disediakan oleh Holycow! Steakhouse.

"Jadi mereka bisa jualan juga di rumah. Ini sekaligus semacam pemberdayaan karena kan beberapa orang juga sudah di layoff (PHK) dan ingin ingin punya usaha baru. Nah kami ingin coba masuk kesitu sekarang," papar Afit.

Tak cukup di situ, pandemi juga memberikan ide konsep restoran yang berbeda dari sebelumnya Afit biasa lakukan. Ia bilang, ke depan restorannya akan lebih mengutamakan konsep ruang terbuka atau outdoor, sehingga sirkulasi udara akan terjaga.

"Konsep restorannya akan saya ubah. Saya punya rencana jadi konsep outdoor, jadi sirkulasi udaranya lebih bebas, tidak tergantung pada sirkulasi udara yang di dalam ruangan (indoor). Kan recycle udara memang menjadi concern juga di masa-masa pandemi seperti ini," jelas Afit.

Konsep yang lebih modern dan sesuai selera kaum milenial merupakan bagian dari inovasi bisnis yang dilakukan Afit.

Ini menyesuaikan kondisi, di mana masyarakat kini mengurangi pergerakannya dan lebih gemar belanja online

"Ini kayaknya jadi momentum untuk kita pivoting ke arah situ (strategi bisnis yang baru). Karena kalau andalkan cara-cara konvensional di pandemi saat ini kayaknya agak sulit, bahkan enggak bisa survive kalau kita cuma andalkan dine in," pungkas Afit. 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X