Kompas.com - 25/09/2020, 05:41 WIB
Ilustrasi asuransi FREEPIK.comIlustrasi asuransi

JAKARTA, KOMPAS.com - Tabungan dan investasi menjadi bagian dari perencanaan keuangan, tapi seringkali orang melupakan bahwa ada juga asuransi.

Banyak orang yang masih enggan untuk mengalokasikan dananya untuk asuransi.

Menurut Direktur AXA Financial Indonesia Cicilia Nina Triana, tabungan, investasi, dan asuransi bukanlah produk substitusi, melainkan sebuah kebutuhan yang saling melengkapi. Jadi tetap perlu untuk memiliki asuransi.

Baca juga: Ini Pentingnya Asuransi untuk Hadapi Ancaman Resesi

"Kadang kala keselahan orang adalah menyamaratakan tabungan, investasi, dan asuransi itu, padahal itu gak bisa disubtitusi. Semuanya, keiganya harus kita punya," ujar dalam webinar AXA tentang perencanaan keuangan, Kamis (24/9/2020).

Ia mengatakan, literasi masyarakat terhadap tabungan sudah cukup baik, tetapi bicara soal jaminan finansial di masa depan tak bisa hanya mengandalkan tabungan.

Lantaran, dana yang tersimpan di tabungan bisa habis dengan cepat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Nina mencontohkan, seperti dalam masa pandemi saat ini. Ketika perekonomian jatuh, banyak orang yang mengandalkan dana darurat di tabungannya untuk bisa bertahan selama pandemi ini.

Baca juga: Apa Saja Perbedaan BPJS Kesehatan dan Asuransi Swasta?

Secara teori, kata dia, dana darurat idelalnya memiliki nilai 6 kali dari pendapatan per bulan. Namun, jika melihat pandemi yang sudah berlangsung lebih dari 6 bulan ini, maka menunjukkan sudah hampir atau bahkan melampaui batas dana darurat.

Padahal tabungan itu sebenarnya tetap dibutuhkan untuk risiko lainnya yang mungkin terjadi, seperti keperluan kesehatan, atau juga untuk kebutuhan di masa tua.

Oleh sebab itu, Nina menekankan, pentingnya untuk memiliki asuransi untuk jaminan masa mendatang.

"Artinya kondisi bahwa siapkan dana darirat secara konvesnional saja enggak cukup," imbuhnya.

Dia mengatakan, ada beberapa keuntungan yang bisa didapat dari asuransi. Seperti, nilai yang dibayarkan cukup terjangkau tiap bulannya dengan benefit yang didapatkan cukup besar bila terjadi risiko pada pemilik asuransi.

Kemudian, asuransi pun bisa menjadi warisan bagi keluarga jika terjadi risiko pada pemilik asuransi.

Nina bilang, pencairannya pun tidak perlu proses yang lama, asal ada surat jelas yang menyatakan seseorang tersebut merupakan hak waris yang sah.

"Jadi ini akan tepat sasaran dan bebas sengketa," kata dia.

Baca juga: Digitalisasi Jadi Peluang Industri Asuransi di Tengah Pandemi

Selain itu, asuransi bukanlah objek pajak dan bebas bea sebab tak ada proses balik nama. Berbeda halnya jika warisan dalam bentuk aset yang memang memerlukan proses balik nama.

Di sisi lain, asuransi turut berguna untuk membiayai kebutuhan perawatan jika pemilik asuransi mengalami risiko, seperti sakit atau kecelakaan.

Sebab, biaya rumah sakit bisa saja sangat besar nilainya, yang mungkin sulit tercukupi jika hanya mengandalkan tabungan.

"Jadi menabung itu memang tak bisa dihindari, itu tetap perlu dilakukan. Tapi balik lagi, kita mesti bagi-bagi untuk juga asuransi," pungkas Nina.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.