Bisnis Bisa Berkembang Saat Pandemi, Ini yang Dilakukan BSM

Kompas.com - 25/09/2020, 13:43 WIB
Bank Syariah Mandiri Bank Syariah Mandiri Bank Syariah Mandiri

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Utama Bank Syariah Mandiri, Toni EB Subari menyampaikan, digitalisasi dan pengembangan produk menjadi kunci pengembangan bisnisnya selama pandemi Covid-19.

Menurutnya, Mandiri Syariah menjalankan proses digitalisasi produk dengan fokus kepada customer (customer centric) untuk memenuhi kebutuhan nasabah terlebih di tengah situasi pandemi covid-19.

"Dalam kondisi Covid-19, ada beberapa strategi yang diperhatikan. Kita fokus kepada kebutuhan customer, yakni perlu adanya menyalurkan restrukturisasi (kredit), kita lakukan itu dulu. Dan kita kembangkan layanan melalui digital," kata Toni dalam Workshop virtual Mandiri Syariah, Jumat (25/9/2020).

Baca juga: Hingga Agustus 2020, Bank Syariah Mandiri Catat Laba Rp 957 Miliar

Tercatat, transaksi mobile banking BSM pada Juni 2020 menjadi 19,50 juta dari 10,06 juta pada Juni 2019. Transaksi ini naik 94 persen secara tahunan (year on year/yoy). Transaksi e-channel tumbuh 67 persen, dengan pembukaan rekening sebanyak 1.500 rekening/hari.

Adapun per 31 Agustus 2020, Mandiri Syariah telah merestrukturisasi 29.000 nasabah dengan baki debet Rp 7,1 triliun.

"Transaksi digital impact-nya kepada tren meningkatkan pendapatan fee based. (Dengan digitalisasi) kita melakukan upaya efisiensi, efisiensi dari operasional dan efisiensi dari sisi cost," tuturnya.

Agar bisnis terus menggeliat, kata Toni, pihaknya bakal meningkatkan literasi perbankan syariah kepada masyarakat. Mengingat mayoritas masyarakat Indonesia beragama islam dan masih rendahnya literasi keuangan syariah.

Baca juga: Benarkah BNI Syariah dan Bank Syariah Mandiri Masuk Kategori BUMN?

Saat ini, indeks literasi bank syariah sebesar 8,11 persen, sedangkan indeks inklusi sebesar 11,06 persen. Sementara itu, indeks literasi bank nasional sebesar 29,66 persen, sedangkan indeks inklusi 67,82 persen.

Di sisi lain, market share perbankan syariah terus menunjukkan peningkatan, yakni dari sebesar 5,78 persen pada 2017 menjadi 6,18 persen pada Juni 2020. Peningkatan literasi ini diharapkan akan berbanding lurus dengan inklusi perbankan syariah ke depannya.

"Konsep bisnis di syariah sifatnya universal, bisa diakses siapapun. Jadi sekali lagi, inklusi keuangan bisa diadopsi siapapun karena konsepnya memang konsep yang baik. Ini konsep yang bisa diterima dari sisi manapun," pungkasnya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X