Bos BCA soal Transformasi Bank Digital: Selalu Ada Risiko Gangguan...

Kompas.com - 29/09/2020, 13:40 WIB
Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja memberikan keterangan pers kepada awak media, di Menara BCA, Jakarta, Selasa (3/12/2019). KOMPAS.com/ADE MIRANTI KARUNIA SARIDirektur Utama BCA Jahja Setiaatmadja memberikan keterangan pers kepada awak media, di Menara BCA, Jakarta, Selasa (3/12/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk, Jahja Setiaatmadja mengatakan, akan selalu ada tantangan dan masalah yang tidak bisa diprediksi saat sebuah perbankan melakukan transformasi digital.

Gangguan itu bisa muncul dari internal, dari sistem telekomunikasi, atau dari para nasabah yang belum terbiasa memahami adanya perubahan digitalisasi bank. Di sisi lain, transformasi (upgrade) harus dilakukan untuk efisiensi.

"Jujur saya katakan itu akan selalu terjadi permasalahan. Setiap kita lakukan upgrading, itu selalu ada risiko gangguan yang unexpectedly (tidak bisa diprediksi)," kata Jahja dalam diskusi Infobank Traditional Banks VS Challenger Banks, Selasa (29/9/2020).

Kendati demikian, perubahan itu harus dilakukan agar bisnis perbankan tak kadaluwarsa alias ketinggalan zaman. Tentu saja, perubahan harus terus memperhatikan hal-hal yang fundamental, salah satunya keamanan data nasabah.

Baca juga: Direktur BCA Beli Saham BBCA Saat Asing Lakukan Aksi Jual

Perseroan harus mengerti bagaimana menjaga hal-hal yang fundamental itu, sekalipun tengah bertransformasi menjadi open banking.

"Mengenai open banking, ini tantangan. Tidak mudah. Pengertian open banking itu di manapun nasabah bisa buka account. Bagaimana data-datanya? Apa yang boleh disclose atau enggak? Jangan lupa data nasabah adalah sesuatu yang tidak boleh diumbar tanpa izin nasabah. Kita harus tahu persis," ucap Jahja.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Jahja pun tak memungkiri, bank-bank yang telah beroperasi puluhan tahun tidak bisa mengubah pandangan semua nasabahnya. Perlu banyak waktu untuk melakukan penyesuaian layanan.

"Kami yang sudah berpuluh tahun beroperasional, tentu ini seperti rumah antik. Tidak bisa semua nasabah dibrainwash, diubah jadi mindset digital. Ini adalah PR yang terberat. Tapi harus kita upgrade terus, ikuti perkembangan," pungkas dia.

Asal tahu saja, open banking adalah transformasi bank secara masif, yakni pembangunan infrastruktur digital perbankan yang menggabungkan data tiap segmen bisnis dan diinteraksikan dari sumber informasi di luar (Internet of Things/IoT).

Sehingga bisa dibilang, open banking akan jauh berbede dengan mengelektronikan perbankan atau meng-IT kan kegiatan perbankan. Dengan open banking, nasabah bisa mengakses berbagai layanan dalam satu pintu, di manapun dan kapanpun.

Bank Indonesia (BI) telah memasukkan inisiatif open banking dalam blue print Sistem Pembayaran Indonesia 2025 pada Mei 2019 lalu.

Ada beberapa visi yang ingin dicapai, yakni mendukung sistem keuangan ekonomi digital, interlink antar fintech dengan perbankan untuk minimalisasi shadow banking, serta keseimbangan antara inovasi dengan perlindungan konsumen (consumer protection).

Baca juga: Soal FinCEN Files, Ini Kata BCA



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.