Pengusaha: Tahun 98 yang Sakit Ekonominya...

Kompas.com - 30/09/2020, 16:06 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani ikut bersuara terkait resesi ekonomi yang terjadi saat ini. Dia pun membandingkan dengan kondisi krisis moneter tahun 1998 silam.

"Tahun 98, itu yang sakit ekonominya tapi masyarakatnya enggak ada masalah makanya UMKM, ekspor itu jalan. Nah, yang tahun 98 kena itu kan sektor properti, perbankan. Kalau 2020, pandemik ini yang kena masyarakatnya yang isinya kesehatan," katanya dalam peluncuran dan diskusi Program Pekerjaan Layak Nasional 2020-2025 secara daring, Rabu (30/9/2020).

Pada krisis moneter tersebut, lanjut dia, sisi permintaan (demand) atau daya beli masyarakat masih ada. Namun, saat ini daya beli masyarakat menurun drastis sehingga berdampak terhadap tenaga kerja. Termasuk UMKM yang selama ini menjadi penyangga perekonomian juga turut terpengaruh signifikan.

Baca juga: Simak 4 Tips Keuangan Ini, Cocok untuk Hadapi Resesi

'Itu yang membedakan sehingga pada tahun 98, demand itu masih ada. 2020 ini, demand itu tiba-tiba hilang dan ini jadi masalah besar. Oleh karena itu, sektor UMKM terpukulnya sangat parah. Karena demand tiba-tiba hilang, penghasilannya sangat drop dan itulah yang membuat banyak tenaga kerja dirumahkan. Otomatis konsumsinya secara nasional turun di level rumah tangga sebetulnya," paparnya.

Dampak pandemi pun mengimbas ketenagakerjaan, karena banyaknya dunia usaha yang terpukul.

"Kalau kita bicara dari dunia kerja sulit sekali. Pada saat perusahaan itu mengalami penurunan penjualan yang sangat drastis bagaimana dia mau bertahan. Saya ambil contoh pariwisata misalnya, seperti di Bali. Hampir 90 persen hotelnya tutup. Ya mau bagaimana lagi mempertahankan karena usahanya rugi," katanya.

Namun lanjut dia, yang terpenting saat ini adalah penanganan wabah virus corona (Covid-19) terlebih dahulu agar bisa mempengaruhi daya beli masyarakat.

"Kalau melihat situasinya, selama pandemi ini tidak bisa diatasi dan masyarakat masih takut beraktivitas, tidak ada demand masih," ucapnya.

Baca juga: Investasi Saham Masih Menarik Saat Resesi? Perhatikan 3 Hal Ini

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.