Ada Piutang Negara Rp 358,5 Triliun di Laporan Keuangan Pemerintah Pusat

Kompas.com - 02/10/2020, 16:18 WIB
ilustrasi rupiah, ilustrasi anggaran thikstockphotosilustrasi rupiah, ilustrasi anggaran

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan ada piutang Rp 358,5 triliun dalam Laporan Keuangan Pemerintah Pusat ( LKPP) 2019.

Piutang itu terdiri dari piutang lancar sebesar Rp 297,9 triliun dan piutang jangka panjang Rp 60,6 triliun. Dari total itu, ada piutang tak tertagih sebesar Rp 191 triliun, terdiri dari piutang lancar Rp 187,3 triliun dan piutang jangka panjang Rp 3,7 triliun.

Direktur Piutang Negara dan Kekayaan Negara Lain-lain, Lukman Effendi mengatakan, piutang tersebut muncul dari pajak maupun non-pajak, juga piutang lain-lain. Piutang bukan pajak biasanya timbul dari kegiatan operasional kementerian/lembaga (K/L) itu sendiri.

Baca juga: Soal Piutang ke Pemerintah, Dirut PLN: Kami Sedang Menunggu dengan Berdebar-debar

"Misalnya piutang royalti, sudah diberikan izin oleh K/L tapi belum bayar kewajiban, piutang pendapatan penggunaan kawasan hutan, atau mereka harus bayar sesuatu pada negara sesuai yang ada di K/L teknisnya," kata Lukman dalam konferensi video, Jumat (2/10/2020).

Lukman menuturkan, piutang tersebut berada dalam kewenangan K/L terkait sebelum diserahkan ke Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN).

Piutang yang diserahkan ke PUPN ini adalah piutang yang sudah macet. Namun, penyerahan diperlukan dokumen lengkap meliputi besaran piutang, orang yang berutang, dan alamat debitur.

Sebab PUPN bakal melakukan penagihan secara optimal hingga melakukan berbagai cara yang telah ditetapkan Undang-Undang.

Untuk itu, kata Lukman, sebelum diserahkan ke PUPN, pihaknya berharap K/L bisa optimal mengelola piutang negara. Bila optimal, maka penyisihan piutang negara semakin kecil dan tingkat pengembalian semakin besar.

Baca juga: Pemerintah Kantongi Rp 22 Triliun dari Lelang Surat Utang Negara

"Seharusnya K/L tahu persis siapa debiturnya, dan apa yang menyebabkan piutang timbul. Semakin lancar piutang negara, semakin kecil penyisihannya. Semakin lama mengendap, penyisihan piutang semakin besar. Ini yang seharusnya dilakukan oleh K/L," pungkas Lukman.

Informasi saja, dalam piutang lancar, ada 2 komponen piutang paling besar dalam LKPP 2019, yaitu piutang pajak, dan piutang bukan pajak. Piutang pajak ini berkisar Rp 94,6 triliun dan piutang bukan pajak sebesar Rp 166,25 triliun.

Piutang bukan pajak dibagi lagi menjadi 2 kategori, yakni piutang pada K/L maupun piutang pada BUN. Jumlah bruto piutang pada K/L berjumlah Rp 44,5 triliun. Namun terdapat penyisihan piutang tak tertagih senilai Rp 33,1 triliun sehingga jumlah bersihnya Rp 11,4 triliun.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

OJK ke Bank Kecil: Penuhi Modal Inti, Jangan Harap Ada Bailout

OJK ke Bank Kecil: Penuhi Modal Inti, Jangan Harap Ada Bailout

Whats New
IHSG Terperosok 1,35 Persen, Saham-saham Ini Banyak Dilepas Asing

IHSG Terperosok 1,35 Persen, Saham-saham Ini Banyak Dilepas Asing

Earn Smart
Jokowi Gaungkan Benci Produk Luar Negeri, Mendag Siapkan Aturan Khusus

Jokowi Gaungkan Benci Produk Luar Negeri, Mendag Siapkan Aturan Khusus

Whats New
Segudang Manfaat Go Public bagi Perusahaan

Segudang Manfaat Go Public bagi Perusahaan

Work Smart
[KURASI KOMPASIANA] Tak Ada Hobi yang Gagal | Penasaran Jalani Hobi Aquascape | Hobi Jangan Bikin 'Kantong Jebol'

[KURASI KOMPASIANA] Tak Ada Hobi yang Gagal | Penasaran Jalani Hobi Aquascape | Hobi Jangan Bikin "Kantong Jebol"

Rilis
Samsung Financing Beri Bunga 2,35 Persen Untuk Cicilan Produk Elektronik

Samsung Financing Beri Bunga 2,35 Persen Untuk Cicilan Produk Elektronik

Whats New
Cara Menggunakan Fitur DANA Goals

Cara Menggunakan Fitur DANA Goals

Spend Smart
Optimistis Bioskop Bangkit, Sandiaga Uno: Bisa 100 Juta Penonton pada 2025

Optimistis Bioskop Bangkit, Sandiaga Uno: Bisa 100 Juta Penonton pada 2025

Whats New
3 Faktor Ini Perlu Dicermati Investor di Akhir Kuartal I, Apa Saja ?

3 Faktor Ini Perlu Dicermati Investor di Akhir Kuartal I, Apa Saja ?

Earn Smart
Rekor Baru, 1,3 Juta CPNS dan Guru PPPK Direkrut Tahun Ini

Rekor Baru, 1,3 Juta CPNS dan Guru PPPK Direkrut Tahun Ini

Whats New
Jokowi Pelototi Perdagangan Digital, Kemendag Lakukan Investigasi

Jokowi Pelototi Perdagangan Digital, Kemendag Lakukan Investigasi

Whats New
Jokowi Gaungkan Benci Produk dari Luar Negeri, Pengamat: Itu Hanya Slogan

Jokowi Gaungkan Benci Produk dari Luar Negeri, Pengamat: Itu Hanya Slogan

Whats New
Pertamina Akan Gelontorkan Investasi Rp 142,9 Triliun, untuk Apa?

Pertamina Akan Gelontorkan Investasi Rp 142,9 Triliun, untuk Apa?

Whats New
Wamen BUMN Yakin Industri Baterai Kendaraan Listrik Jadi Tulang Punggung Ekonomi RI di Masa Depan

Wamen BUMN Yakin Industri Baterai Kendaraan Listrik Jadi Tulang Punggung Ekonomi RI di Masa Depan

Whats New
Luhut: Di Palu, Jangan Diberikan Izin Lagi Membangun...

Luhut: Di Palu, Jangan Diberikan Izin Lagi Membangun...

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X