Sempat Ekspor HSD dengan Harga Murah, Ini Penjelasan Pertamina

Kompas.com - 05/10/2020, 16:00 WIB
Ilustrasi Kilang Minyak PIXABAY/ISA KARAKUSIlustrasi Kilang Minyak

JAKARTA, KOMPAS.com - Langkah PT Pertamina (Persero) bahan bakar solar untuk mesin diesel kecepatan tinggi atau high speed diesel (HSD) ke Malaysia mendapat sorotan dari banyak pihak.

Pasalnya, perusahaan pelat merah itu menjual HSD ke Negeri Jiran dengan harga yang lebih murah dibanding harga pasaran di dalam negeri.

Merespons hal tersebut, Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional Ignatius Tallulembang mengatakan, pihaknya sempat melakukan ekspor HSD dikarenakan stok penyimpanan perseroan yang telah melebihi kapasitas.

Baca juga: Pertamina Akan Beri Diskon Pertalite Seharga Premium di Wilayah Ini

"Selama pandemi, kilang Pertamina sudah dioperasikan pada kapasitas minimum, 75 persen. Dengan kapasitas terebut, ternyata masih menghasilkan solar yang berlebih," ujarnya dalam pergelaran Rapat Dengar Pendapat Komisi VII DPR RI, Senin (5/10/2020).

Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Lete itu menjelaskan, ekspor merupakan opsi yang paling tepat untuk diambil pada situasi tersebut.

Pasalnya, perseroan tidak dapat menghentikan produksi kilang karena di tempat yang sama juga menghasilkan BBM jenis lainnya.

"Kapasitas kilang tetap kita pertahankan pada kapasitas minimum supaya bisa menghasilkan produk-produk yang valuable," katanya.

Oleh karena itu, Pertamina memutuskan untuk menjual produk HSD berlebih ke Malaysia. Langkah tersebut pun diikuti dengan penyesuaian harga komoditas seperti yang berlaku di pasar internasional.

Baca juga: Kementerian BUMN: Jangan Banding-bandingkan Pertamina dengan Petronas

"Pada saat itu harganya segitu, kita lepas sesuai harga pasar," ucap Lete.

Sebagai informasi, pada awal September lalu, Pertamina melalui Refinery Unit (RU) V Balikpapan, selaku pemain hilir, melakukan ekspor perdana, yakni pengapalan dan penyaluran produk minyak solar atau biosolar HSD 50 PPM Sulphur ke Malaysia sejumlah 200.000 barrel atau setara dengan 31.800 KL.

Total penjualan produk diesel tersebut mencapai 9,5 juta dollar AS. Jika dihitung per liter, dengan asumsi kurs pada saat itu, harga jual produk solar HSD saat itu hanya mencapai kisaran Rp 5.200 per liter, jauh lebih murah ketimbang produk solar dengan Euro tinggi milik Pertamina.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X