Ekonom: Sektor riil Paling Belum Siap Hadapi Digitalisasi

Kompas.com - 21/10/2020, 13:34 WIB
Ekonom Senior INDEF, Aviliani saat menjelaskan ada 3 sektor yang tetap tumbuh pada tahun 2020, di BEI, Jakarta, Senin (4/11/2019). KOMPAS.com/FIKA NURUL ULYAEkonom Senior INDEF, Aviliani saat menjelaskan ada 3 sektor yang tetap tumbuh pada tahun 2020, di BEI, Jakarta, Senin (4/11/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Aviliani menyebut, pelaku ekonomi di sektor riil belum siap menghadapi era digitalisasi. Hal ini terlihat saat pandemi Covid-19 melanda Tanah Air sejak Maret 2020 lalu.

"Banyak pelaku ekonomi yang belum siap sehingga dari sisi sektor riil mereka akan tertinggal," kata Aviliani dalam webinar Indef, Rabu (21/10/2020).

Aviliani menyebut, pelaku ekonomi yang terlihat paling belum siap adalah sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Sektor ini bisa paling lambat mengadopsi digital bila tidak diberi pendampingan.

Baca juga: Sri Mulyani Soroti Ketimpangan Digitalisasi di Indonesia

Untuk itu dia menyarankan, UMKM perlu pendampingan untuk mempercepat adopsi. Pendampingan tak hanya diberikan oleh Bank Indonesia, namun juga regulator dan kementerian/lembaga terkait.

"Terutama di sektor UMKM itu perlu ada pendampingan. Kalau tidak, harusnya mereka bisa lebih cepat nanti (malah) mereka bisa lebih lambat, karena mereka tidak bisa memanfaatkan momen ini," ujar Aviliani.

Tak hanya sektor UMKM, industri lainnya pun masih banyak yang belum siap mengikuti digitalisasi. Lambatnya perusahaan mengadopsi digitalisasi memperlambat proses ekonomi digital di Indonesia.

Padahal, penjualan online tercatat naik signifikan. Data Bank Indonesia menyebut, nilai transaksi e-commerce pada Agustus 2020 melesat menjadi 140 juta. Angka ini lebih besar dibanding 80 juta transaksi di Agustus 2019 dan 40 juta transaksi di Agustus 2018.

Tak hanya transaksi di e-commerce, transaksi digital banking juga meningkat. Peningkatan paling signifikan terjadi untuk transaksi mobile banking. Pada Agustus 2020, transaksi mobile banking mencapai 12 juta transaksi, angka ini meningkat dari 8 juta transaksi pada Agustus 2019.

"Bahkan rumah sakit (yang seharusnya bertumbuh di era pandemi), itu bisa tutup gara-gara mereka tidak bisa mengikuti pola yang ada," ucap Aviliani.

Sebaliknya, industri sektor jasa keuangan utamanya perbankan adalah yang paling siap mengadopsi digital. Sebab sejak sebelum pandemi, perbankan sudah mengandalkan transaksi digital sebagai model bisnisnya.

"Kesiapan masuk dalam dunia digital itu yang Nomor satu justru sektor perbankan dan sektor keuangan. Yang non-keuangan itu dari ecommerce, karena mereka sudah menciptakan marketplace, sudah digital," pungkas Aviliani.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X