Pengetahuan Teknologi hingga Internet jadi Persoalan Digitalisasi UMKM

Kompas.com - 21/10/2020, 14:07 WIB
Ilustrasi UMKM shutterstock.comIlustrasi UMKM

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai ada sejumlah tantangan dalam mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah ( UMKM) untuk bertransformasi ke digital.

Mulai dari pengetahuan yang rendah mengenai teknologi hingga ketersediaan bahan baku.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka Kemenperin Gati Wibawaningsih mengatakan, banyak pelaku UMKM yang masih kesulitan dalam mengoperasikan gadget, padahal ini menjadi salah satu dasar untuk bisa digitalisasi.

Baca juga: Cerita Pelaku UMKM yang Memanfaatkan BLT UMKM Rp 2,4 Juta untuk Kembangkan Usahanya

Tantangan lainnya adalah model gawai yang dimiliki sudah tertinggal jaman, sehingga sulit mengikuti perkembangan. Sehingga, sekalipun punya pengetahuan dalam menggunakan gawai tapi aksesnya menjadi terbatas.

"Mereka (pelaku UMM) jadi enggak banyak bergerak, misalnya baru install tiga aplikasi saja di handphone-nya, itu udah langsung bubar kemampuan handphone-nya," ujar dia dalam webinar Golkar: Ekonomi Digital dan UMKM Masa Depan, Rabu (21/10/2020).

Ketersediaan infrastruktur jaringan internet yang memadai turut menjadi tantangan. Gati bilang, UMKM tak hanya berada di perkotaan tetapi juga di pedesaan, sehingga kualitas jaringan internet sangat dibutuhkan di seluruh Indonesia.

"Begitu masuk ke daerah pelosok, itu jaringannya kan belum sebagus seperti yang di kota. Ini tantangan pemerintah untuk bisa selesaikan masalah ini," imbuhnya.

Baca juga: Menkop Teten: Sertifikasi Halal Bisa Tingkatkan Omzet Penjualan UMKM

Selain itu, persoalan yang dihadapi UMKM adalah ketersediaan bahan baku yang berkualitas. Maka Kemenperin pun membuat material center untuk memenuhi kebutuhan bahan baku UMKM.

Material center ini berbasiskan aplikasi yang dibuat langsung oleh startup binaan Kemenperin, sehingga pencatatan mengenai keluar-masuk bahan baku terdata dengan baik.

"Karena kan kalau di industri itu sebisa mungkin enggak ada waste (bahan baku terbuang), jadi semua dimasukkan dalam satu aplikasi, supaya tahu apakah proses kerja ini ini efisisen dan efektif enggak," pungkas Gati.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X