Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Angin Segar di Tengah Pandemi, Petani di Jembrana Ekspor 12 Ton Kakao ke Belanda

Kompas.com - 22/10/2020, 16:07 WIB
Yakob Arfin Tyas Sasongko,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Para petani kakao Desa Nusasari, Jembrana Bali berhasil mengekspor 12 ton biji kakau fermentasi ke Den Haag, Belanda dengan total nilai Rp 600 juta.

Hal itu menjadi angin segar bagi para petani kakao di tengah terjangan pandemi Covid-19.

Desa Nusasari merupakan Desa Devisa Kakao binaan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Petani kakao di desa ini merupakan anggota Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS).

Ketua Koperasi KSS I Ketut Wiadnyana mengatakan, pada 2019, Koperasi KSS hanya memiliki satu buyer luar negeri dengan jumlah pengiriman produk biji kakao kurang dari 8 ton.

“Saat pandemi Covid-19, Koperasi KSS kehilangan 3 purchase order (PO) sebesar 19.000 kilogram (kg) dari buyer potensial di luar negeri karena berhentinya proses bisnis mereka,” kata Ketut dalam keterangan pers yang diterima Kompas.com, Kamis (22/10/2020).

Namun dengan kerja keras, lanjut Ketut, petani kakao dan Koperasi KSS kembali mendapat pesanan sekaligus penambahan buyer di Belanda (Biji Kakao Trading LTD).

Kini, jumlah buyer semakin meningkat dengan persentase 44 persen buyer lokal dan 60 persen buyer global. Total produksi biji kakao organik per tahun mencapai 60 ton.

Desa Devisa Kakao binaan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) berhasil mengekspor 12 ton biji kakau fermentasi ke Den Haag, Belanda dengan total nilai Rp 600 juta. Dok. LPEI Desa Devisa Kakao binaan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) berhasil mengekspor 12 ton biji kakau fermentasi ke Den Haag, Belanda dengan total nilai Rp 600 juta.

Dukungan LPEI

Selain menyemai harapan, keberhasilan tersebut tak lepas dari dukungan LPEI. Agar petani kakao tetap bisa ekspor, LPEI menggandeng Bea Cukai Denpasar untuk melakukan ekspor secara mandiri tanpa melalui pihak ketiga.

Sebelumnya, Koperasi KSS terkendala dalam pengiriman sampel produk kakao ke negara tujuan.

Kendala tersebut, antara lain akibat berhentinya bisnis buyer di Eropa, kesulitan memenuhi proses administrasi, pemeriksaan produk, dan dokumen.

LPEI sebagai Special Mission Vehicle (SMV) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) bersinergi dengan Bea Cukai Denpasar untuk memimalisasi kendala itu.

Corporate Secretary LPEI Agus Windiarto mengatakan pihaknya memahami kesulitan KSS dalam menjalankan ekspor saat pandemi ini.

“Setelah berkordinasi dengan Bea Cukai Denpasar, akhirnya masalah itu dapat diatasi, bahkan akhirnya dapat melakukan ekspor secara mandiri,” terangnya.

Asal tahu saja, selama pandemi Covid-19, LPEI melalui program Jasa Konsultasi secara aktif melakukan pendampingan intensif terhadap dua Desa Devisa binaan LPEI.

Dikatakan Agus, ekspor sempat tertunda sebagai akibat sepinya pesanan maupun pemeriksaan yang lebih ketat di negara tujuan karena sejumlah negara menerapkan kebijakan lock down.

Oleh karena itu kegiatan pendampingan dinilai penting guna menemukan solusi bagi petani.

“Pendampingan yang dilakukan LPEI terhadap 2 Desa Devisa yang berada di Bali dan Yogyakarta dilakukan secara periodik, diadakan secara daring untuk mencari solusi terhadap apapun kendala yang mereka hadapi,” jelasnya.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Rupiah Melemah Sentuh Rp 16.200, Mendag: Cadangan Divisa RI Kuat, Tidak Perlu Khawatir

Rupiah Melemah Sentuh Rp 16.200, Mendag: Cadangan Divisa RI Kuat, Tidak Perlu Khawatir

Whats New
Rasio Utang Pemerintahan Prabowo Ditarget Naik hingga 40 Persen, Kemenkeu: Kita Enggak Ada Masalah...

Rasio Utang Pemerintahan Prabowo Ditarget Naik hingga 40 Persen, Kemenkeu: Kita Enggak Ada Masalah...

Whats New
Giatkan Pompanisasi, Kementan Konsisten Beri Bantuan Pompa untuk Petani

Giatkan Pompanisasi, Kementan Konsisten Beri Bantuan Pompa untuk Petani

Whats New
IHSG Turun 19,2 Poin, Rupiah Melemah

IHSG Turun 19,2 Poin, Rupiah Melemah

Whats New
Catat, Ini Jadwal Perjalanan Ibadah Haji Indonesia 2024

Catat, Ini Jadwal Perjalanan Ibadah Haji Indonesia 2024

Whats New
Pada Liburan ke Luar Negeri, Peruri Sebut Permintaan Paspor Naik 2,5 Lipat Pasca Pandemi

Pada Liburan ke Luar Negeri, Peruri Sebut Permintaan Paspor Naik 2,5 Lipat Pasca Pandemi

Whats New
Jakarta, Medan, dan Makassar  Masuk Daftar Smart City Index 2024

Jakarta, Medan, dan Makassar Masuk Daftar Smart City Index 2024

Whats New
Pentingnya Transparansi Data Layanan RS untuk Menekan Klaim Asuransi Kesehatan

Pentingnya Transparansi Data Layanan RS untuk Menekan Klaim Asuransi Kesehatan

Whats New
Apakah di Pegadaian Bisa Pinjam Uang Tanpa Jaminan? Ini Jawabannya

Apakah di Pegadaian Bisa Pinjam Uang Tanpa Jaminan? Ini Jawabannya

Earn Smart
Bea Cukai Kudus Berhasil Gagalkan Peredaran Rokol Ilegal Senilai Rp 336 Juta

Bea Cukai Kudus Berhasil Gagalkan Peredaran Rokol Ilegal Senilai Rp 336 Juta

Whats New
Ditanya Bakal Jadi Menteri Lagi, Zulhas: Terserah Presiden

Ditanya Bakal Jadi Menteri Lagi, Zulhas: Terserah Presiden

Whats New
Ekonom: Kenaikan BI Rate Tak Langsung Kerek Suku Bunga Kredit

Ekonom: Kenaikan BI Rate Tak Langsung Kerek Suku Bunga Kredit

Whats New
Sepakati Kerja Sama Kementan-Polri, Kapolri Listyo: Kami Dukung Penuh Swasembada

Sepakati Kerja Sama Kementan-Polri, Kapolri Listyo: Kami Dukung Penuh Swasembada

Whats New
Syarat dan Cara Pinjam Uang di Pegadaian, Bisa Online Juga

Syarat dan Cara Pinjam Uang di Pegadaian, Bisa Online Juga

Earn Smart
Memenangkan Ruang di Hati Pelanggan

Memenangkan Ruang di Hati Pelanggan

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com