Wapres Ma'ruf: Indonesia Cuma Jadi "Tukang Stempel" Produk Halal

Kompas.com - 24/10/2020, 10:45 WIB
Wakil Presiden Maruf Amin dalam testimoni virtual Hari Batik Nasional di acara pagelaran Hybrid Fashion Show, Karisma Batik 2020: Bangga Pakai Batik, Jumat (2/10/2020). Dok. KIP/SetwapresWakil Presiden Maruf Amin dalam testimoni virtual Hari Batik Nasional di acara pagelaran Hybrid Fashion Show, Karisma Batik 2020: Bangga Pakai Batik, Jumat (2/10/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Presiden Ma'ruf Amin menyayangkan Indonesia belum menjadi produsen produk halal di dunia.

Padahal, mayoritas penduduknya adalah muslim dan merupakan konsumen produk halal terbesar di dunia. Kontribusinya mencapai 10 persen atau 214 miliar dollar AS dari pangsa pasar dunia.

"Indonesia selama ini hanya menjadi konsumen dan tukang stempel produk halal yang diimpor," kata Ma'ruf Amin dalam Webinar Strategi Nasional "Indonesia Menuju Pusat Produsen Halal Dunia" secara virtual, Sabtu (24/10/2020).

Baca juga: Menkop Teten: Sertifikasi Halal Bisa Tingkatkan Omzet Penjualan UMKM

Ma'ruf menyebut Indonesia sebagai tukang stempel karena lebih dari 50 lembaga sertifikasi halal dunia memperoleh pengakuan dari Indonesia.

"Hampir seluruhnya memperoleh pengakuan (dari Indonesia). Jadi, Indonesia memang tukang menstempel, tukang mengesahkan produk halal yang ada di berbagai negara di dunia," sebut Ma'ruf.

Ma'ruf meminta stakeholder terkait untuk mengembangkan pasar halal Indonesia lantaran penduduk muslim dunia diproyeksi mencapai 2,2 miliar jiwa dan akan semakin berkembang.

Tercatat pada tahun 2018, konsumsi produk halal di pasar dunia mencapai 2,2 triliun dollar AS dan diproyeksi terus berkembang mencapai 3,2 triliun dollar AS pada 2024.

Permintaan produk halal oleh konsumen muslim global pun mengalami peningkatan setiap tahunnya.

The State of Global Islamic Economic Report 2019-2020 memperlihatkan, pengeluaran konsumen muslim dunia untuk pariwisata ramah muslim, halal lifestyle, serta formasi halal mencapai 2,2 triliun dollar AS pada tahun 2018.

"Kita harus dapat manfaatkan potensi pasar halal dunia ini, dengan meningkatkan ekspor yang saat ini baru berkisar 3,8 persen dari total pasar halal dunia," ujarnya.

Baca juga: Potensi Industri Halal Nasional Capai Rp 3.000 Triliun

Adapun saat ini, berdasarkan laporan Global Islamic Economic Report tahun 2019, negara eksportir makanan dan minuman halal nomor satu di dunia masih ditempati oleh Brazil. Nilainya mencapai 5,5 miliar dollar AS. Kemudian disusul Australia sebesar 2,4 miliar dollar AS.

Tentunya, kata Ma'ruf, ini merupakan potensi yang sangat besar dan bisa dimanfaatkan sebagai peluang. Indonesia memerlukan langkah-langkah strategis yang dilaksanakan oleh pemangku kepentingan secara simultan dan kolaboratif.

Langkah strategis tersebut antara lain dengan penguatan industri produksi halal, melalui kawasan industri halal maupun zona halal dalam kawasan industri yang sudah ada. Dengan begitu, kapasitas produksi bisa meningkat secara terintegrasi, semakin berkualitas, dan berdaya siang global.

"Kita perlu sungguh-sungguh menjadikan produsen dan eksportir produk halal terbesar di dunia. Dengan segala sumber daya yang dimiliki, saya percaya indonesia punya peluang yang besar," pungkasnya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X