Sejarah Betadine, Bermula dari Eks Kopassus yang Berjualan Obat Merah

Kompas.com - 26/10/2020, 07:03 WIB
Obat luka Betadine Screenshoot Betadine.co.idObat luka Betadine

Dalam perantauannya di Pulau Jawa, awalnya Kahar ingin bercita-cita menjadi arsitek, namun di tengah jalan dirinya justru memilih berkuliah kedokteran di FKUI, Jakarta.

Ia batal kuliah arsitek karena ITB yang diincarnya berada di Bandung. Karena di Jakarta yang paling top dan bergengsi saat itu adalah kedokteran, maka masuklah Kahar Tjandra ke FKUI.

Baca juga: PG Colomadu, Simbol Kekayaan Raja Jawa-Pengusaha Pribumi era Kolonial

"Saya melakukan sesuatu itu harus jadi. Jadi, saya ngotot belajar untuk jadi dokter meskipun belajarnya pengin nangis," kata Tjandra yang setelah lulus kedokteran melanjutkan spesialisasi laboratorium.

Lulus dari sekolah dokter, Kahar lalu melanjutkan pendidikan spesialis laboratorium. Gelar dokternya tersebut lalu mengantarkannya menjadi dokter perwira di kesatuan kesehatan RPKAD dengan pangkat letnan satu. Sebelumnya, dirinya sempat masuk wajib militer selama setahun.

Setelah itu, ia berkarya di RSCM Cipto Mangunkusumo selama 20 tahun sembari mengajar di FKUI.

"Pagi jam enam saya praktik di rumah, jam tujuh ke RSCM. Siang kerja di BNI. Sore buka praktik di Palmerah. Malam masih dapat panggilan ke rumah pasien," kenang Tjandra.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Mengenal Gobog, Uang yang Berlaku di Era Majapahit

Tjandra membuka Apotik Mahakam tahun 1967. Setelah pensiun, ia menggeluti bisnis secara penuh-salah satu produknya yang terkenal adalah obat anti septik atau obat merah bermerek dagang Betadine.

Kelompok Mahakam miliknya sangat dikenal. Anak-anak asuhnya yang sudah jadi dokter bekerja di klinik miliknya. Ia juga ingin membuka klinik di pabriknya di Pulogadung.

"Kalau bisa, saya ingin mendirikan rumah sakit khusus. Lebih bagus lagi kalau itu dikelola anak-anak asuh saya," kata Kahar Tjandra.

Selain farmasi, Kahar juga memperluas bisnisnya dengan merambah perhotelan. Dia mendirikan hotel berbintang di Jakarta Selatan yang kini dikenal dengan nama Hotel Gran Mahakam.

Baca juga: Rupa-rupa Uang Kertas yang Beredar di Era Penjajahan Jepang

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X