Kisah Umi, Pedagang Sayur yang Omzetnya Naik 50 Persen Setelah Beralih ke Digital

Kompas.com - 26/10/2020, 11:31 WIB
Umi Kalsum merupakan penjual sayuran dan lauk segar di Kota Bandar Lampung. Ia menjadi salah satu pelaku usaha mikro yang berhasil mengubah pemasarannya menjadi digital. Dok. Pribadi Umi KalsumUmi Kalsum merupakan penjual sayuran dan lauk segar di Kota Bandar Lampung. Ia menjadi salah satu pelaku usaha mikro yang berhasil mengubah pemasarannya menjadi digital.

 

JAKARTA, KOMPAS.com - Modal menjadi hal yang sangat penting bagi pelaku usaha untuk bisa memulai atau mengembangkan bisnisnya. Tapi bagi pelaku usaha kecil, modal saja tidak cukup, dibutuhkan pelatihan dan pendampingan bagi mereka untuk bisa mengelola usahanya.

Hal itu yang dirasakan oleh Umi Kalsum, pedagang sayuran dan lauk segar, serta camilan asal Bandar Lampung. Pelaku usaha mikro ini telah memasarkan dagangannya sejak 2015.

Umi memulai usahanya dengan memenuhi permintaan di daerah kompleks perumahannya, yang menurut dia, ibu-ibu rumah tangga disekitarnya terlalu sibuk untuk belanja langsung ke pasar. Jadi dirinya melihat ada peluang usaha disana.

Baca juga: KKP Gelontorkan Kredit Rp 19,81 Miliar untuk Pemanfaatkan Lahan Idle

Untuk memasok sayuran dan lauk segar, Umi berela untuk sedari subuh ke pasar guna memenuhi permintaan pelanggannya. Memilah satu per satu sayuran dan lauk yang akan di beli demi menjaga kualitasnya tetap segar saat nanti sampai di tangan konsumen.

"Pelayanannya dengan sistem PO (pre order), jadi konsumen sudah pesan pada malam, maksimal subuh sebelum ke pasar, sehingga bisa berbelanja dan membeli pesanan dengan kualitas terbaik," ujar Umi dalam dalam wawancara khusus Kompas.com dengan PIP, dikutip Senin (26/10/2020).

Sejak 2018 Umi pun mulai memperlebar pasarnya ke luar kompleks perumahan dengan sistem pengantaran langsung (delivery), namun permintaannya tak banyak. Tapi hikmah dari pandemi Covid-19, kini permintaan sayuran dan lauk segar dari Umi jadi meningkat tajam.

"Karena memang saat ini belanja kebutuhan sehari-hari melalui jasa delivery mungkin menjadi solusi terbaik di masa pandemi, jadi orang tidak perlu lagi pergi ke pasar atau ke swalayan sekedar untuk berbelanja," kata dia.

Baca juga: Awal Pekan, Cek Kurs Rupiah di 5 Bank

Seiring dengan perluasan pasar yang dilakukan, saat itu Umi pun mulai masuk ke sistem penjualan online. Sederhana saja, lewat akun pribadi di media sosial Facebook dan Whatsapp.

Perluasan pasar yang dilakukan Umi juga diikuti dengan memperkuat modal. Bila sebelumnya ia mendapatkan pembiayaan dari koperasi Rp 2 juta, kini ia beralih ke pembiayaan ultra mikro (UMi) sebesar Rp 10 juta.

UMi merupakan program pembiayaan yang menyasar usaha mikro yang berada di lapisan terbawah dengan fasilitas maksimal Rp 10 juta per nasabah tanpa agunan atau jaminan. Pembiayaan ini dikelola Pusat Investasi Pemerintah (PIP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Di samping akes pembiayaan yang dinikmatinya, Umi pun menerima pelatihan dan pendampingan langsung dari PIP. Program yang memang ditujukan untuk mendorong debitur PIP bisa mengelola dan mengembangkan bisnisnya dengan lebih baik.

Baca juga: Pencairan BLT UMKM Rp 2,4 Juta, Apakah Boleh Diwakilkan?

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X