7 Strategi Mentan Antisipasi La Nina yang Ganggu Musim Tanam

Kompas.com - 26/10/2020, 14:57 WIB
Menteri Pertanian Syahrul Yassin Limpo melakukan pertemuan virtual Tingkat Menteri ke-35 Konferensi Regional FAO untuk wilayah Asia Pasifik, Rabu (3/9/2020). HUMAS KEMENTANMenteri Pertanian Syahrul Yassin Limpo melakukan pertemuan virtual Tingkat Menteri ke-35 Konferensi Regional FAO untuk wilayah Asia Pasifik, Rabu (3/9/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyatakan, telah menyiapkan strategi untuk mengantisipasi dan memitigasi dampak badai La Nina terhadap produksi pertanian. Terlebih pada musim tanam ke satu (MT I) periode Oktober 2020-Maret 2021.

La Nina yang sudah mulai menerjang sebagian wilayah Indonesia ini, memang menyebabkan cuaca ekstrem yang bisa berimbas pada proses produksi pertanian.

"La Nina itu, akan ada ancaman banjir, longsor, kegagalan panen pada daerah tertentu karena airnya banyak, dan ada gejala-gejala hama yang mungkin muncul karena banjir," ujar Syahrul dalam acara Penetapan Target Luas Tanam MT I secara virtual, Senin (26/10/2020).

Baca juga: Pertanian hingga Pariwisata, Ini 4 Sektor Potensial Industri Halal

Ia menjelaskan, ada 7 strategi Kementan untuk menghadapi ancaman La Nina. Pertama, melakukan mapping di seluruh wilayah rawan banjir, ditandai dengan wilayah zona merah merupakan rawan banjir.

"Kita sudah terbiasa dengan curah hujan yang banyak, jadi tahu daerah yang langganan banjir. Untuk daerah merah itu akan seperti apa, nah itu disiapkan sarana pendukungnya, bahkan mungin ada emergency banjir dipersiapkan untuk hal-hal seperti ini," jelas dia.

Strategi kedua adalah mengaplikasikan early warning system dan memantau semua informasi yang ada di BMKG. Dalam hal ini, Syahrul meminta untuk setiap pimpinan daerah bisa turut aktif meninjau perkembangan cuaca ke BMKG.

Ketiga, dengan membentuk gerakkan brigade yang terdiri dari brigade La Nina (satgas OPT-DPI), brigade alsin dan tanam, serta brigade panen dan serap gabah kostraling.

"Brigade la nina harus siap setiap saat mulai dari sekarang," imbuh dia.

Lalu strategi keempat dengan pompanisasi in-out dari sawah, rehab jaringan irigasi tersier atau kwarter. Ini untuk kelancaran pembuangan air agar padi-padi yang mulai berisi tidak tergenang air.

Kelima, dengan penggunaan benih tahan genangan, seperti inpara 1 sampai 10, inpari 29, inpari 30, ciherang sub 1, inpari 42 agritan, dan varietas unggul lokal yang sudah teruji,

Strategi keenam yakni asuransi usaha tani padi bagi yang sudah mendaftar dan bantuan benih gratis bagi yang puso. Serta ketujuh, perbaiki cara pascapanen dengan menggunakan dryer atau pengering dan RMU.

"Jadi kita tidak boleh kalah dengan alam," pungkas Syahrul.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X