Reksadana Terproteksi Masih Diminati Investor, Ini Sebabnya

Kompas.com - 27/10/2020, 06:07 WIB
Ilustrasi reksadana PrimusIlustrasi reksadana

Namun, Wawan menyarankan investor harus tetap mencermati risiko dari reksadana terproteksi yang mayoritas memiliki aset obligasi korporasi. Apalagi di tengah pandemi dan pelemahan ekonomi beberapa obligasi korporasi di tahun ini mulai ada yang gagal bayar maupun telat membayar.

Selain mencermati penerbit dari obligasi korporasi yang dijadikan aset reksadana terproteksi, Wawan juga menyarankan investor untuk mencermati manajer investasi yang menawarkan reksadana tersebut.

"Manajer investasi dengan permodalan kuat cenderung lebih aman karena mereka mampu menyerap bila terjadi gagal bayar obligasi, sehingga investor reksadana terproteksi tidak merugi," kata Wawan.

Di satu sisi, pandemi memberi tantangan baru bagi manajer investasi dalam mencari obligasi korporasi yang berkualitas. Namun, Reza mengatakan HPAM tidak mengalami kesulitan tersebut. HPAM fokus memilih obligasi korporasi dengan rating minimum single A yang suplainya cukup banyak di pasarkan.

Baca juga: Geger Gaji Rp 80 Juta Sebulan, Enaknya Buka Reksadana atau Deposito Bank?

Sekedar informasi, Wawan mencatat hingga Oktober 2020 jumlah reksadana terproteksi mencapai 664 produk. Jumlah ini menurun bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 723 produk.

Meski produk reksadana terproteksi berkurang, dana kelolaan reksadana terproteksi tetap tumbuh mencapai Rp 145,2 triliun per September. Sementara, dana kelolaan reksadana terproteksi di Oktober 2019 mencapai Rp 143,7 triliun.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Wawan mengatakan jumlah produk reksadana terproteksi yang berkurang tetapi dana kelolaan naik berarti menunjukkan produk reksadana terproteksi baru memiliki nilai penerbitan besar. (Danielisa Putriadita)

Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul Daya tarik reksadana terproteksi tetap tinggi di tengah tren penurunan yield

Halaman:


Sumber
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

[TREN WISATA KOMPASIANA] Danau Kelimutu | Pesona Kuil Shinto 1000 Torii | Menjelajah Kota Alexandria

[TREN WISATA KOMPASIANA] Danau Kelimutu | Pesona Kuil Shinto 1000 Torii | Menjelajah Kota Alexandria

Rilis
[KURASI KOMPASIANA] Ide Datang di Kamar Mandi | Mengapa Berpikir Logis Itu Penting?

[KURASI KOMPASIANA] Ide Datang di Kamar Mandi | Mengapa Berpikir Logis Itu Penting?

Rilis
Rincian Iuran BPJS Kesehatan Terbaru 2021

Rincian Iuran BPJS Kesehatan Terbaru 2021

Spend Smart
Mencantumkan Ikut Seminar dalam CV Lamaran Kerja, Pentingkah?

Mencantumkan Ikut Seminar dalam CV Lamaran Kerja, Pentingkah?

Work Smart
[TREN HUMANIORA KOMPASIANA] Anak adalah Point of References | Gapyear: Stigma, Doa, dan Cerita

[TREN HUMANIORA KOMPASIANA] Anak adalah Point of References | Gapyear: Stigma, Doa, dan Cerita

Rilis
Ini Susunan Direksi dan Komisaris Bank KB Bukopin yang Baru

Ini Susunan Direksi dan Komisaris Bank KB Bukopin yang Baru

Whats New
BKN Minta Calon Pelamar CPNS dan PPPK 2021 untuk Bersabar, Kenapa?

BKN Minta Calon Pelamar CPNS dan PPPK 2021 untuk Bersabar, Kenapa?

Whats New
Bangun Hunian di Jakarta dan Bogor, Adhi Commuter Properti Gandeng Sarana Jaya

Bangun Hunian di Jakarta dan Bogor, Adhi Commuter Properti Gandeng Sarana Jaya

Rilis
[KURASI KOMPASIANA] Pencopet di Angkutan Umum, Ini Cara Mengatasi dan Menghindarinya! | Modus Operandi Maling Perlente

[KURASI KOMPASIANA] Pencopet di Angkutan Umum, Ini Cara Mengatasi dan Menghindarinya! | Modus Operandi Maling Perlente

Rilis
Pendapatan Induk Usaha TikTok Melejit 111 Persen di Tahun 2020

Pendapatan Induk Usaha TikTok Melejit 111 Persen di Tahun 2020

Whats New
Gappri: Revisi PP Tembakau Perburuk Kondisi Industri Rokok

Gappri: Revisi PP Tembakau Perburuk Kondisi Industri Rokok

Whats New
Kini Pemilik Asuransi AXA Mandiri Bisa Konsultasi Kesehatan Gratis

Kini Pemilik Asuransi AXA Mandiri Bisa Konsultasi Kesehatan Gratis

Whats New
Prudential Indonesia Perluas Pemasaran Online Produk Asuransi

Prudential Indonesia Perluas Pemasaran Online Produk Asuransi

Rilis
[KURASI KOMPASIANA] Tip Aman Beli Barang Elektronik Secara Online | COD Tidak Semudah Kedengarannya

[KURASI KOMPASIANA] Tip Aman Beli Barang Elektronik Secara Online | COD Tidak Semudah Kedengarannya

Rilis
Aset Kripto Berpeluang Tumbuh Subur di Indonesia

Aset Kripto Berpeluang Tumbuh Subur di Indonesia

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X