Industri Manufaktur Sumbang Kredit Macet BNI Kuartal III-2020

Kompas.com - 27/10/2020, 12:14 WIB
Logo BNI. Shutterstock/RafapressLogo BNI.
|

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk mencatat adanya kenaikan rasio kredit macet (non performing loan/NPL). Rasio kredit macet ini meningkat dari 1,8 persen di posisi kuartal III-2019 menjadi 3,6 persen di kuartal III-2020.

Direktur Teknologi Informasi dan Operasi BNI, YB Hariantono mengatakan, peningkatakan NPL disebabkan downgrade debitur-debitur yang diklasifikasikan dalam special mention loan atau kolektibilitas 2, terutama berasal dari segmen menengah dan korporasi.

Khusus kredit korporasi, NPL meningkat menjadi 2,9 persen dari 1,1 persen pada posisi kuartal III-2019.

"Peningkatannya disebabkan menurunnya kinerja debitur korporasi yang sebelumnya sudah diklasifikasikan dalam special mention loan, dan semakin terdampak oleh pandemi Covid-19, antara lain berasal dari sektor manufaktur," kata YB Hariantono dalam konferensi pers secara virtual, Selasa (27/10/2020).

Baca juga: Ada Ancaman La Nina, Mentan: Kita Tidak Boleh Kalah dengan Alam

YB menuturkan, manajemen sudah menyiapkan beberapa cara untuk menekan tingginya rasio kredit macet.

Penyaluran kredit korporasi diperkecil. Dari total penempatan dana pemerintah Rp 7,5 triliun yang harus di-leverage menjadi Rp 22,5 triliun, penyaluran kredit korporasi hanya Rp 5,10 triliun. Kredit lebih banyak disalurkan ke segmen kecil sebesar Rp 15,83 triliun.

"Sebagai langkah mitigasi risiko kredit, kami akan lakukan pertumbuhan secara selektif dan prudent, dengan memperhatikan track record debitur, prospek usaha, serta kemampuan membayarnya," sebut YB.

Perseroan pun sudah memupuk pencadangan. Rasio kecukupan pencadangan (coverage ratio) hingga Kuartal III 2020 berada pada level 206,9 persen, lebih besar dibanding Kuartal III 2019 yang sebesar 159,2 persen.

Baca juga: Hingga September, BNI Restrukturisasi Kredit ke 170.591 Debitur

Sementara itu pertumbuhan bisnis ke depan, BNI memprioritaskan pertumbuhan di segmen korporasi, melalui ekspansi pada top corporate name di sektor-sektor yang memiliki ketahanan di tengah pandemi.

Lalu, pertumbuhan kredit pada segmen kecil akan difokuskan pada penyaluran kredit usaha rakyat atau KUR dan kredit UMKM. Sedangkan KPR atau mortgage akan menjadi driver pertumbuhan bisnis di segmen konsumer.

"Kami telah mengambil langkah preventif untuk terus memonitir perkembangan kualitas kredit," pungkas YB.

Baca juga: Kuartal III 2020, Laba Bersih BNI Rp 4,32 Triliun



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X