Presiden Jokowi: Ekonomi Syariah Potensial Perluas Penyerapan Tenaga Kerja

Kompas.com - 28/10/2020, 16:06 WIB
Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato secara virtual, Rabu (24/9/2020). TANGKAP LAYAR VIDEO PIDATO PRESIDEN JOKOWI/SEKRETARIAT KABINETPresiden Joko Widodo menyampaikan pidato secara virtual, Rabu (24/9/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Joko Widodo mengatakan, pengembangan ekonomi dan keuangan syariah berpeluang besar memperluas penyerapan tenaga kerja.

Menurut Jokowi, penyerapan tenaga kerja bisa dimaksimalkan baik dari sektor riil, padat karya, hingga industri halal lantaran Indonesia mempunyai banyak produk halal unggulan.

"Sangat potensial untuk memperluas penyerapan tenaga kerja dan membuka peluang usaha baru," kata Jokowi dalam pembukaan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2020 secara virtual, Rabu (28/10/2020).

Baca juga: Dalam Sebulan, 3 Relawan Jokowi Diangkat Jadi Komisaris BUMN

Sayangnya kata Jokowi, pengembangan itu belum bisa dimaksimalkan. Padahal produk makanan, kosmetik, maupun fashion halal sudah merajalela di Tanah Air.

Indonesia sendiri bertekad menjadi pusat fashion muslim terbesar di dunia.  Untuk itu lanjutnya, pengembangan perlu dilakukan secara integratif dan komprehensif, baik mengefisiensi regulasi, mempersiapkan sumber daya manusia, hingga membenahi ekosistem.

"Indonesia sebagai negara dengan populasi penduduk Islam terbesar di dunia, saya harap Indonesia mewujudkan sebagai center of excellent hub ekonomi syariah di tingkat global," kata Jokowi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Informasi saja, pengembangan ekonomi syariah dinilai sangat menjanjikan lantaran penduduk muslim dunia akan bertambah. Diproyeksi mencapai 2,2 miliar jiwa dan akan semakin berkembang.

Pada tahun 2018, konsumsi produk halal di pasar dunia mencapai 2,2 triliun dollar AS dan diproyeksi terus berkembang mencapai 3,2 triliun dollar AS pada 2024.

Permintaan produk halal oleh konsumen muslim global pun mengalami peningkatan setiap tahunnya. The State of Global Islamic Economic Report 2019-2020 memperlihatkan, pengeluaran konsumen muslim dunia untuk pariwisata ramah muslim, halal lifestyle, serta formasi halal mencapai 2,2 triliun dollar AS pada tahun 2018.

Indonesia sendiri merupakan konsumen produk halal terbesar di dunia. Kontribusinya mencapai 10 persen atau 214 miliar dollar AS dari pangsa pasar dunia.

Namun saat ini, berdasarkan laporan Global Islamic Economic Report tahun 2019, negara eksportir makanan dan minuman halal nomor satu di dunia masih ditempati oleh Brazil. Nilainya mencapai 5,5 miliar dollar AS. Kemudian disusul Australia sebesar 2,4 miliar dollar AS.

Baca juga: Kalah dengan Malaysia, Kadin Berharap Standar Halal Indonesia Bisa Diakui Dunia

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.