Selamat Datang Jurassic Park di Pulau Rinca

Kompas.com - 31/10/2020, 16:40 WIB
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama dengan BOPLBF melaksanakan famtrip dengan media di kawasan Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, Minggu, (13/9/2020). (HANDOUT/BOPLBF) HANDOUT/BOPLBFKementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama dengan BOPLBF melaksanakan famtrip dengan media di kawasan Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, Minggu, (13/9/2020). (HANDOUT/BOPLBF)

KOMPAS.com - Rencana pemerintah untuk meningkatkan potensi wisata komodo di Pulau Rinca memperoleh banyak tanggapan yang pada umumnya sangat menyayangkan dan sekaligus berharap agar Pulau Rinca dibiarkan saja seperti aslinya.

Tidak begitu jelas apa sebenarnya yang menjadi topik polemik, karena rencana pemerintah pasti bermaksud baik untuk meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung.

Terlepas dari polemik yang tengah berlangsung itu, saya sendiri untuk pertama kalinya mengetahui tentang komodo pada tahun 1950-an.

 

Baca juga: Mengenal Proyek Jurassic Park di TN Komodo yang Jadi Polemik

Saya mendengar cerita dari ayah saya yang pada tahun 1954 di bulan Januari mengikuti rombongan Mr Muhammad Yamin sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan dalam Kabinet Ali-Arifin (Kabinet Alisastroamidjojo yang pertama).

Laporan perjalanan itu telah dituangkan dalam sebuah buku berjudul “Dari Pulau Bunga ke Pulau Dewa”. Terdapat cerita sedikit tentang komodo dalam buku tersebut yang saya kutip berikut ini.

"Kami kini berada di atas Pulau Komodo yang terletak di Selat Sape, di sebelah timur Pulau Sumbawa. Mengenai pulau kecil itu sendiri, yang luasnya tidak lebih dari 478 hektar tidaklah banyak yang diceritakan.

Tetapi Komodo terkenal ke mana-mana, karena di sana terdapat binatang yang rupanya seperti kadal dan besarnya seperti buaya, tetapi yang tidak termasuk dalam jenis buaya, meskipun oleh penduduk pulau Bunga dan Pulau Sumbawa ia dinamakan buaya darat dan dapat hidup selain di darat, juga di air.

Baca juga: Setelah Viral Foto Komodo Hadang Truk, Jalur Pembangunan Jurassic Park Bakal Diamankan

Binatang ini, yang bentuknya menyerupai cecak, dalam bahasa latin disebut Varanus komodensis dan di seluruh dunia hanya hidup di pulau Komodo, Pulau Rinca yang terletak di sebelah timurnya dan di pulau Bunga Barat. Binatang ini merupakan sisa-sisa dari binatang binatang yang hidup di zaman purbakala.

Sejak tahun 1913 Varanus Komodensis dimasukkan dalam margasatwa yang dilindungi (cagar alam), tegasnya melakukan perburuan padanya dilarang.

Adanya Varanus komodensis di Pulau Komodo, diketahui sesudah keluar karangan konservator museum zoologis P.A Ouwens, yang bernama Tentang Varanus raksasa jenis dari pulau Komodo dalam tahun 1912, sebagai hasil dari penyelidikannya terhadap binatang itu, yang dikirimkan oleh seorang pemburu yang bernama Aldegon kepadanya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jadi Ketum Masyarakat Ekonomi Syariah, Ini yang Akan Dilakukan Erick Thohir

Jadi Ketum Masyarakat Ekonomi Syariah, Ini yang Akan Dilakukan Erick Thohir

Whats New
Erick Thohir Terpilih Jadi Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah

Erick Thohir Terpilih Jadi Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah

Whats New
[POPULER DI KOMPASIANA] Bersaudara dengan WNA karena Bersepeda | Gaya Mengajar ala Sensei Nobi | Mengenal Growol dari Kulon Progo

[POPULER DI KOMPASIANA] Bersaudara dengan WNA karena Bersepeda | Gaya Mengajar ala Sensei Nobi | Mengenal Growol dari Kulon Progo

Rilis
Soal Direksi Baru BRI, Ini Respons Kadin hingga Pelaku UMKM

Soal Direksi Baru BRI, Ini Respons Kadin hingga Pelaku UMKM

Whats New
Akhir Januari, 3.000 Unit GeNose Dipersiapkan untuk Dipasarkan

Akhir Januari, 3.000 Unit GeNose Dipersiapkan untuk Dipasarkan

Whats New
Luhut Minta Tarif Tes Covid-19 Pakai GeNose di Bawah Rp 20.000

Luhut Minta Tarif Tes Covid-19 Pakai GeNose di Bawah Rp 20.000

Whats New
Luhut Ingin di Setiap RT, Supermarket, dan Fasilitas Umum Pakai GeNose untuk Tes Covid-19

Luhut Ingin di Setiap RT, Supermarket, dan Fasilitas Umum Pakai GeNose untuk Tes Covid-19

Whats New
Stasiun Pasar Senen Akan Dipasang GeNose, Alat Pendeteksi Covid-19 Buatan Indonesia

Stasiun Pasar Senen Akan Dipasang GeNose, Alat Pendeteksi Covid-19 Buatan Indonesia

Whats New
Bio Farma: 4 Juta Dosis Vaksin Covid-19 Siap Didistribusi pada Februari 2021

Bio Farma: 4 Juta Dosis Vaksin Covid-19 Siap Didistribusi pada Februari 2021

Whats New
IHSG Merosot 1,04 Persen dalam Sepekan, Ini Sentimen Pemicunya

IHSG Merosot 1,04 Persen dalam Sepekan, Ini Sentimen Pemicunya

Whats New
Sandiaga Uno Minta UMKM di Batam Berinovasi di Masa Pandemi Covid-19

Sandiaga Uno Minta UMKM di Batam Berinovasi di Masa Pandemi Covid-19

Rilis
Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Disrupsi akibat Pandemi

Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Disrupsi akibat Pandemi

Work Smart
Pemerintah Akan Terbitkan 0RI019, Begini Cara Belinya

Pemerintah Akan Terbitkan 0RI019, Begini Cara Belinya

Whats New
Akhir Pekan, Harga Emas Antam Turun Rp 4.000

Akhir Pekan, Harga Emas Antam Turun Rp 4.000

Whats New
Rincian Harga Emas Batangan 0,5 Gram hingga 1 Kg di Pegadaian Terbaru

Rincian Harga Emas Batangan 0,5 Gram hingga 1 Kg di Pegadaian Terbaru

Spend Smart
komentar di artikel lainnya
Close Ads X