Permintaan Batu Bara Masih Lemah, Laba Adaro Anjlok 73 Persen hingga Kuartal III 2020

Kompas.com - 03/11/2020, 12:04 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani saat memberi sambutan di acara 10 tahun PT Adaro Tbk melepas saham ke publik di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Senin (16/7/2018). -KOMPAS.com/AKHDI MARTIN PRATAMAMenteri Keuangan Sri Mulyani saat memberi sambutan di acara 10 tahun PT Adaro Tbk melepas saham ke publik di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Senin (16/7/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Adaro Energy Tbk melaporkan, pendapatan bersih mereka hingga kuartal III 2020 sebesar 1,95 milliar dollar AS.

Nilainya turun 26 persen dari periode yang sama pada tahun sebelumnya, yaitu sebesar 2,65 miliar dollar AS.

Menurunnya pendapatan perusahaan juga berimbas terhadap merosotnya laba bersih Adaro.

Tercatat, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada Adaro pada 9 bulan pertama tahun ini sebesar 109,37 juta dollar AS, anjlok 73,06 persen dari periode yang sama pada tahun 2019 yakni sebesar 405,99 juta dollar AS.

Baca juga: Gasifikasi Batu Bara, PTBA: Bikin Hemat Devisa Negara hingga Rp 8,7 Triliun

Merosotnya pendapatan dan laba bersih perusahaan disebabkan masih lemahnya permintaan batu bara akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi yang dialami berbagai negara konsumen.

Tercatat, harga rata-rata dan volume penjualan batu bara hingga kuartal III 2020 mengalami penurunan masing-masing sebesar 18 persen dan 9 persen.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Pasar batu bara belum kondusif karena permintaan batu bara global masih lemah," tulis manajemen Adaro, dikutip Selasa (3/11/2020).

Presiden Direktur dan Chief Executive Officer Adaro Garibaldi Thohir menyampaikan, meski dibayangi oleh tantangan ekonomi makro, pihaknya masih dapat mempertahankan operasi yang solid.

Kendati demikian, kondisi pasar batubara yang sulit akibat ekonomi global yang belum kondusif akibat pandemi yang berkepanjangan harus diakui terus menekan profitabilitas perusahaan.

"Meskipun ketidakpastian masih ada, model bisnis kami yang terintegrasi memungkinkan perusahaan untuk beroperasi dengan efisien dalam menghadapi tantangan ini," kata Garibaldi.

Baca juga: Cadangan Batu Bara Capai 24,75 Miliar Ton pada 2040, Dirjen Minerba: Ini Belum Cukup

Adaro mulai melihat beberapa tanda rebalancing di pasar batubara berkat disiplin terhadap suplai.

Perusahaan ini tetap optimistis terhadap fundamental industri di jangka panjang.

"Seiring bumi belahan utara menyambut musim dingin dan berlanjutnya pembatasan pasokan global, aktivitas pengisian persediaan diperkirakan akan meningkat," lanjut dia.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.