Ekonom Ini Sebut Pola Konsumsi Milenial Hancurkan Industri Otomotif, Kok Bisa?

Kompas.com - 04/11/2020, 18:38 WIB
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira  di Jakarta, Kamis (21/11/2019). KOMPAS.com/AKHDI MARTIN PRATAMAPeneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira di Jakarta, Kamis (21/11/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Ekonom Indef Bhima Yudistira Adhinegara menilai, pola konsumsi generasi milenial bisa menyebabkan penurunana permintaan produksi akan suatu barang terhadap industri. Salah satunya industri otomotif.

Bhima menjelaskan, industri otomotif sebelum adanya pandemi memang sudah menurun akibat dari pola pikir konsumsi milenial.

"Sekarang tren milenial lebih peduli pada kesehatan. Ini gambaran milenial menghancurkan industri otomotif di Indonesia. Yang lebih turun penjualannya itu kendaraan pribadi. Bukan karena adanya pandemi, tetapi karena milenial tadi malas untuk beli mobil," ujarnya secara daring, Rabu (4/11/2020).

Baca juga: 3 Penyebab Generasi Milenial Sulit Menabung

Menurut Bhima, generasi milenial lebih memilih sesuatu yang praktis, karena tersedianya transportasi daring. Kemudian, berpikir hemat karena tanpa adanya punya mobil, terbebas dari biaya parkir dan reparasi kendaraan.

"Ngapain sih milenial enggak punya mobil? Ini menarik sekali. Industri otomotif kurang bagus karena dihajar sama pola konsumsi milenial yang sangat beda sekali dengan generasi orang tuanya. Jadi, ngapain punya mobil, kalau ada transportasi online," ujar dia.

"Kalau ada mobil, akan ada biaya ke bengkel, biaya parkir. Kemudian, ada perubahan, milenial lebih suka ngekos atau ngontrak ketimbang beli rumah," katanya.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kementerian Perindustrian Taufiek Bawazier menyebutkan, industri otomotif memberikan pemasukkan devisa dari hasil ekspor sebesar Rp 24,3 triliun. Sementara, nilai impornya mencapai Rp 10,1 triliun sehingga masih terjadi surplus.

"Kalau kita lihat dari industri kita, sebetulnya CBU (Completely Built Up) kita juga terjadi surplus di dalam ekspor kita. Jadi kita banyak ekspor juga. Di dalam industri otomotif, kita bisa mencapai ekspor sekitar Rp 24,3 triliun dan impor sekitar Rp 10,1 triliun. Jadi ini, juga tanda-tanda bahwa kita masih surplus di dalam CBUnya," katanya.

Baca juga: Milenial juga Bisa Beli Rumah Sendiri, Ikuti 4 Cara ini!



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Besaran dan Kriteria Penerima Beasiswa Anak Peserta BPJS Ketenagakerjaan

Besaran dan Kriteria Penerima Beasiswa Anak Peserta BPJS Ketenagakerjaan

Whats New
Jokowi: Untung Kita Tak Impor, Stok Beras di Bulog Cukup

Jokowi: Untung Kita Tak Impor, Stok Beras di Bulog Cukup

Whats New
Pertamina Dukung Investigasi Kepolisian Terkait Kebakaran Kilang Balongan

Pertamina Dukung Investigasi Kepolisian Terkait Kebakaran Kilang Balongan

Whats New
Program Ekspor Shopee Mudahkan UMKM Solo Jualan Produk ke Luar Negeri

Program Ekspor Shopee Mudahkan UMKM Solo Jualan Produk ke Luar Negeri

Work Smart
Astra International Suntik Dana Rp 580 Miliar ke Sayurbox dan Halodoc

Astra International Suntik Dana Rp 580 Miliar ke Sayurbox dan Halodoc

Rilis
TaniHub Ekspor Produk Pertanian ke UEA, Pemerintah Lihat Peluang Besar

TaniHub Ekspor Produk Pertanian ke UEA, Pemerintah Lihat Peluang Besar

Whats New
Update 16 Bandara yang Sudah Buka Layanan Tes GeNose C19

Update 16 Bandara yang Sudah Buka Layanan Tes GeNose C19

Whats New
Bogasari Fasilitasi UKM Urus Izin Usaha SPP-IRT, Begini Cara dan Manfaatnya

Bogasari Fasilitasi UKM Urus Izin Usaha SPP-IRT, Begini Cara dan Manfaatnya

Rilis
BUMN Ini Ekspor 176 Ton Teh ke AS untuk Pasokan Starbucks

BUMN Ini Ekspor 176 Ton Teh ke AS untuk Pasokan Starbucks

Whats New
Kuartal Pertama 2021, Pendapatan Astra Internasional Turun 4 Persen

Kuartal Pertama 2021, Pendapatan Astra Internasional Turun 4 Persen

Whats New
Kini AirAsia Rambah Bisnis Produk Kecantikan

Kini AirAsia Rambah Bisnis Produk Kecantikan

Whats New
Sri Mulyani: Tidak Mungkin Jadi Negara Maju, Kalau Perempuannya Tidak Dididik

Sri Mulyani: Tidak Mungkin Jadi Negara Maju, Kalau Perempuannya Tidak Dididik

Whats New
[TREN ENTREPRENEUR KOMPASIANA] Soft Skill untuk Milenial | 'Winning Attitude' bagi Sales | Sisi Lain Jualan Durian

[TREN ENTREPRENEUR KOMPASIANA] Soft Skill untuk Milenial | "Winning Attitude" bagi Sales | Sisi Lain Jualan Durian

Rilis
Nasabah Komplain soal Unit Link, Ini Respons Bos Prudential

Nasabah Komplain soal Unit Link, Ini Respons Bos Prudential

Whats New
OJK Diminta untuk Izinkan Fintech Beri Pembiayaan di Atas Rp 2 Miliar

OJK Diminta untuk Izinkan Fintech Beri Pembiayaan di Atas Rp 2 Miliar

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X