Pengusaha Ritel Mengeluh Tak Bisa Akses Pinjaman Murah di Bank

Kompas.com - 07/11/2020, 20:11 WIB
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Roy Mandey menjadi narasumber sebuah acara di Jakarta Pusat, Rabu (13/2/2019). KOMPAS.com/MURTI ALI LINGGA Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Roy Mandey menjadi narasumber sebuah acara di Jakarta Pusat, Rabu (13/2/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengeluhkan kondisi usaha yang saat ini sangat tertekan pandemi Covid-19. Di sisi lain, bantuan permodalan lewat fasilitas pinjaman murah di bank tak bisa dinikmati peritel.

"Kondisi kita sekarang ini sangat bleeding (berdarah), sangat tergopoh-gopoh," ungkap Ketua Umum Aprindo Roy Mandey dalam acara Polemik Trijaya tentang Efek Resesi di Tengah Pandemi, Sabtu (7/11/2020).

Pemerintah melalui program pemulihan ekonomi nasional (PEN) menempatkan dana di bank pelat merah atau Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) senilai Rp 30 triliun, serta pada Bank Pembangunan Daerah (BPD) senilai Rp 11,5 triliun.

Baca juga: Pengusaha Mal: Ritel Online seperti Anak Emas, Offline Anak Tiri

Dana tersebut dimaksudkan untuk perbankan bisa menggelontorkan kredit modal kerja kepada para pelaku usaha. Adapun bunga yang diberikan pemerintah lebih rendah dari pinjaman pada umumnya, yakni sebesar 2,8 persen.

"PEN yang dialokasikan lewat 15 bank sampai hari ini, itu belum bisa diakses oleh para peritel," kata dia.

Roy mengatakan, peritel saat ini sangat membutuhkan permodalan untuk bisa membuat bisnisnya tetap bergerak di tengah pandemi. Utamanya kebutuhan modal kerja ini dapat dipenuhi melalui pinjaman, mengingat finansial peritel sudah sangat tertekan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sayangnya, lanjut dia, stimulus pemerintah berupa pinjaman murah untuk modal kerja tersebut tidak bisa dinikmati peritel.

"Apa pinjaman itu untuk sektor hulu saja, hilir enggak kebagian? Karena kebanyak sekarang bunga pinjaman mahal 10-12 persen, belum ada bunga murah 2,8 persen seperti yang diberikan Satgas PEN,” ungkap dia.

Oleh sebab itu Roy meminta pemerintah untuk lebih memperhatikan peritel dalam program pemulihan ekonomi. Lantaran, sudah banyak peritel yang tak mampu bertahan sehingga terpaksa gulung tikar.

"Sekarang yang tutup bukan hanya jejering ritel tapi juga titel lokal. Kalau yang lokal ini kebanyakan pelaku usaha daerah. Jadi kalau pelaku daerah sudah tutup, berarti ada kontraksi di daerah tersebut," jelas Roy.

Baca juga: Libur Panjang Diyakini Bisa Genjot Omzet Pengusaha Ritel



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.