Rekam Jejak Catatan Keuangan Garuda, BUMN yang Sering Merugi

Kompas.com - 08/11/2020, 08:03 WIB
Sejumlah warga negara Indonesia (WNI) berada di  pesawat Garuda yang disewa khusus di Bandar Udara Internasional Velana, Maldives, Jumat (1/5/2020) malam. KBRI Colombo merepatriasi mandiri gelombang kedua dengan memulangkan 347 pekerja migran Indonesia (PMI) dari Sri Lanka dan Maladewa ke Indonesia akibat pandemi Virus Corona (COVID-19). ANTARA FOTO/LUTFI ANDARUSejumlah warga negara Indonesia (WNI) berada di pesawat Garuda yang disewa khusus di Bandar Udara Internasional Velana, Maldives, Jumat (1/5/2020) malam. KBRI Colombo merepatriasi mandiri gelombang kedua dengan memulangkan 347 pekerja migran Indonesia (PMI) dari Sri Lanka dan Maladewa ke Indonesia akibat pandemi Virus Corona (COVID-19).

Garuda Indonesia atau GIAA akhirnya bisa membukukan laba bersih sebesar 77,97 juta dollar AS sepanjang tahun 2015. Laba yang dicatatkan perusahaan pelat merah ini lebih disebabkan oleh penyusutan beban usaha.

Baca juga: Wamen BUMN Ungkap “Penyakit” Lama yang Menggerogoti Garuda Indonesia

Pasalnya, pendapatan GIAA masih menurun. Pada tahun 2014, total pendapatan usaha GIAA mencapai 3,93 miliar dollar AS. Sementara tahun 2015 lalu, pendapatannya turun 3,02 persen menjadi 3,81 miliar dollar AS.

Beban operasional penerbangan GIAA terpangkas 14,5 persen menjadi 2,19 miliar dollar AS. Total beban usaha GIAA pun menyusut 13 persen menjadi 3,7 miliar dollar AS. Turunnya beban membuat GIAA masih mencetak laba usaha mencapai 168,7 juta dollar AS.

Tahun 2014 rugi Rp 4,87 triliun

Garuda Indonesia mengalami kerugian sebesar 371,9 juta dollar AS atau sekitar Rp 4,87 triliun selama tahun buku 2014. Kerugian itu berdasarkan laporan keuangan Garuda selama 2014 yang diterbitkan oleh Bursa Efek Indonesia.

Jika dibandingkan keuangan Garuda tahun 2013 lalu yang meraup laba hingga 13,583 juta dollar AS, tentu keuangan tahun 2014 terbilang buruk.

Baca juga: Garuda Indonesia Peroleh Pinjaman Rp 1 Triliun, Untuk Apa?

Direktur Utama Garuda Indonesia saat itu, Arif Wibowo mengatakan, kerugian tersebut diakibatkan ada ya tekanan dari faktor eksternal dan internal yang membuat kinerja keuangan melemah.

“Memang kita mengalami kerugian karena kinerja keuangan pada tahun 2014 dipengaruhi oleh kondisi industry penerbangan bukan saja di Indonesia namun juga di dunia yang sedang mengalami turbulensi,” ujar Arif kala itu.

(Sumber:Kompas.com/Yoga Sukmana, Mutia Fauzia, Sakina Rakhma Diah Setiawan, Achmad Fauzi, Estu Suryowati, Yoga Sukmana, Akhdi Martin Pratama | Editor: Sakina Rakhma Diah Setiawan, Bambang Priyo Jatmiko, Erlangga Djumena)

Halaman:


Sumber Kompas.com
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X