Indonesia Membuat Pesawat Terbang Sendiri

Kompas.com - 09/11/2020, 13:37 WIB
Pesawat N-219 buatan PT Dirgantara Indonesia. TribunnewsPesawat N-219 buatan PT Dirgantara Indonesia.

UPAYA bangsa Indonesia untuk mampu membuat sendiri pesawat terbang sudah lama sekali dirintis. Persoalannya sangat sederhana, karena memang sebagai sebuah negara kepulauan yang sangat luas terbentang sepanjang garis khatulistiwa dengan medan yang bergunung gunung maka sangat masuk akal negeri ini harus memiliki kemampuan memproduksi sendiri pesawat terbang.

Jejaring perhubungan udara di Indonesia memegang peranan yang sangat penting. Sayangnya sampai sekarang ini kita belum juga memiliki pabrik pesawat terbang yang mapan dan dapat diandalkan.

Minimal kita sudah harus mampu berdikari dalam memproduksi pesawat terbang sekelas N-219 yang sampai sekarang sudah mulai sayup-sayup tidak terdengar lagi kabar berita perkembangannya.

Sambil menunggu kabar yang mudah-mudahan menggembirakan dari perkembangan proyek N-219, berikut ini saya tulis kembali sesuai naskah aslinya, sebuah ulasan menarik, penuh spirit heroisme di tahun 1950-an tentang upaya membuat pesawat terbang sendiri, sebagai berikut:

Walaupun Indonesia belum mempunyai Perindustrian Penerbangan yang sangat dibutuhkan oleh suatu negara merdeka, yang juga menjadi salah satu syarat untuk mencapai “Kekuatan Nasional di Udara” (National Air Power), tetapi dalam menuju ke arah ini AURI telah berusaha dengan pembuatan pesawat-pesawat terbang sendiri yang dimulai sejak tahun 1946, yaitu dengan :

1. Pembuatan pesawat pesawat luncur (glider)
2. Pembuatan pesawat bermotor ringan yang terkenal sebagai RI-X (1947)
3. Pembuatan pesawat Helikopter (1948) , dan
4. Pembuatan pesawat “Sikumbang” (1953 – 1954)

Pembuatan pesawat pesawat luncur, bermotor ringan dan helikopter di zaman siap-siapan, dengan kelengkapan bahan bahan jauh dari pada cukup, kalau tidak boleh dikatakan tidak ada, memberikan kenyataan adanya benih-benih kemampuan (daya cipta) bangsa Indonesia menuju ke perindustrian penerbangan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pesawat-pesawat luncur yang dibuat pada waktu itu, memberikan jasa-jasanya bagi pendidikan pendahuluan (voor opleiding) bagi kadet kadet penerbang pertama. Dan sejalan dengan itu, dapat pula diselesaikan pembuatan pesawat bermotor ringan pertama (1947) dalam waktu 5 bulan dan diberi nama W.E.L-1.

Di samping itu dari kumpulan kumpulan bekas pesawat Bristol “Blenheim” telah dapat diciptakan sebuah pesawat baru yang dimaksud akan dipergunakan sebagai pesawat angkut jarak jauh. Tapi sayang dalam penerbangan percobaan selama 15 menit terjadi kecelakaan ketika mendarat dan hancur.

Usaha pembuatan pesawat pesawat terbang sendiri tidak terbatas kepada peluncur dan pesawat bermotor ringan, tapi juga telah dapat dibuat pesawat helicopter pada tahun 1948 oleh saudara Soemarsono (sekarang Let.Ud I). Setahun lebih ia memeras keringat, tetapi hasilnya helicopter buatannya menemui kemusnahan ketika aksi militer ke-2 terjadi.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.