Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Chappy Hakim
KSAU 2002-2005

Penulis buku "Tanah Air Udaraku Indonesia"

Indonesia Membuat Pesawat Terbang Sendiri

Kompas.com - 09/11/2020, 13:37 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

UPAYA bangsa Indonesia untuk mampu membuat sendiri pesawat terbang sudah lama sekali dirintis. Persoalannya sangat sederhana, karena memang sebagai sebuah negara kepulauan yang sangat luas terbentang sepanjang garis khatulistiwa dengan medan yang bergunung gunung maka sangat masuk akal negeri ini harus memiliki kemampuan memproduksi sendiri pesawat terbang.

Jejaring perhubungan udara di Indonesia memegang peranan yang sangat penting. Sayangnya sampai sekarang ini kita belum juga memiliki pabrik pesawat terbang yang mapan dan dapat diandalkan.

Minimal kita sudah harus mampu berdikari dalam memproduksi pesawat terbang sekelas N-219 yang sampai sekarang sudah mulai sayup-sayup tidak terdengar lagi kabar berita perkembangannya.

Sambil menunggu kabar yang mudah-mudahan menggembirakan dari perkembangan proyek N-219, berikut ini saya tulis kembali sesuai naskah aslinya, sebuah ulasan menarik, penuh spirit heroisme di tahun 1950-an tentang upaya membuat pesawat terbang sendiri, sebagai berikut:

Walaupun Indonesia belum mempunyai Perindustrian Penerbangan yang sangat dibutuhkan oleh suatu negara merdeka, yang juga menjadi salah satu syarat untuk mencapai “Kekuatan Nasional di Udara” (National Air Power), tetapi dalam menuju ke arah ini AURI telah berusaha dengan pembuatan pesawat-pesawat terbang sendiri yang dimulai sejak tahun 1946, yaitu dengan :

1. Pembuatan pesawat pesawat luncur (glider)
2. Pembuatan pesawat bermotor ringan yang terkenal sebagai RI-X (1947)
3. Pembuatan pesawat Helikopter (1948) , dan
4. Pembuatan pesawat “Sikumbang” (1953 – 1954)

Pembuatan pesawat pesawat luncur, bermotor ringan dan helikopter di zaman siap-siapan, dengan kelengkapan bahan bahan jauh dari pada cukup, kalau tidak boleh dikatakan tidak ada, memberikan kenyataan adanya benih-benih kemampuan (daya cipta) bangsa Indonesia menuju ke perindustrian penerbangan.

Pesawat-pesawat luncur yang dibuat pada waktu itu, memberikan jasa-jasanya bagi pendidikan pendahuluan (voor opleiding) bagi kadet kadet penerbang pertama. Dan sejalan dengan itu, dapat pula diselesaikan pembuatan pesawat bermotor ringan pertama (1947) dalam waktu 5 bulan dan diberi nama W.E.L-1.

Di samping itu dari kumpulan kumpulan bekas pesawat Bristol “Blenheim” telah dapat diciptakan sebuah pesawat baru yang dimaksud akan dipergunakan sebagai pesawat angkut jarak jauh. Tapi sayang dalam penerbangan percobaan selama 15 menit terjadi kecelakaan ketika mendarat dan hancur.

Usaha pembuatan pesawat pesawat terbang sendiri tidak terbatas kepada peluncur dan pesawat bermotor ringan, tapi juga telah dapat dibuat pesawat helicopter pada tahun 1948 oleh saudara Soemarsono (sekarang Let.Ud I). Setahun lebih ia memeras keringat, tetapi hasilnya helicopter buatannya menemui kemusnahan ketika aksi militer ke-2 terjadi.

Walaupun usaha usaha selama zaman perjuangan selalu menemui kekecewaan dan kemusnahan, tapi semangat dan daya cipta para ahli teknik AURI tidak pernah luntur. Dengan alat yang ada dan sangat sederhana, terus dilakukan percobaan percobaan dan penyelidikan penyelidikan mencari kemungkinan kemungkinan membuat pesawat terbang yang sungguh sungguh memenuhi syarat syarat aerodinamika dan dapat terbang.

Di mana ada kemauan di sana ada jalan. Akhirnya pesawat bermotor pertama yang memenuhi syarat syarat dapat juga dibuat. Penciptanya adalah Mayor Udara Nurtanio Pringgoadisurjo, seorang ahli teknik yang bergelar “Bachelor in Aeronautical Science” yang diperolehnya pada tahun 1950 pada “Far Eastern Aero Technical Institute” di Manila Filipina.

Pesawat buatannya diberi nama “SIKUMBANG” yang dikerjakan tahun 1953 – 1954, dan yang pada tanggal 1 Agustus 1954 telah mengharungi angkasa Indonesia untuk pertama kali dalam penerbangan percobaan. Beberapa bulan setelah itu dilakukan pula penerbangan jarak jauh (cross country) yang hasilnya membawa kegembiraan.

Demikianlah usaha bangsa Indonesia (AURI) kearah pembuatan pesawat pesawat terbang sendiri, sebagai jalan pertama menuju ke perindustrian penerbangan memberikan harapan harapan baik di hari kemudian. Bila keuangan dan bahan bahan cukup tersedia, bukan mustahil dalam waktu beberapa tahun lagi telah dapat didirikan pabrik pesawat terbang pertama, dan akan tercapailah maksud bangsa Indonesia untuk mendapatkan “Kekuatan Nasional di Udara” (National Air Power).

Itulah kutipan dari sebuah artikel di tahun 1950-an yang merefleksikan semangat bangsa Indonesia dalam usaha yang tidak kenal menyerah.

Sebuah renungan mengenang dan menghargai para pahlawan dirgantara antara lain Wiweko Soepono, Nurtanio Pringgoadisurjo, Yum Soemarsono, dan Jacob Salatun.

Hanya bangsa yang besar yang menghargai para pahlawannya (Bung Karno)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Masuk ke Beberapa Indeks Saham Syariah, Elnusa Terus Tingkatkan Transparansi Kinerja

Masuk ke Beberapa Indeks Saham Syariah, Elnusa Terus Tingkatkan Transparansi Kinerja

Whats New
Pesawat Haji Boeing 747-400 Di-'grounded' Pasca-insiden Terbakar, Garuda Siapkan 2 Armada Pengganti

Pesawat Haji Boeing 747-400 Di-"grounded" Pasca-insiden Terbakar, Garuda Siapkan 2 Armada Pengganti

Whats New
ASDP Terus Tingkatkan Peran Perempuan pada Posisi Tertinggi Manajemen

ASDP Terus Tingkatkan Peran Perempuan pada Posisi Tertinggi Manajemen

Whats New
Jaga Loyalitas Pelanggan, Pemilik Bisnis Online Bisa Pakai Strategi IYU

Jaga Loyalitas Pelanggan, Pemilik Bisnis Online Bisa Pakai Strategi IYU

Whats New
Bulog Targetkan Serap Beras Petani 600.000 Ton hingga Akhir Mei 2024

Bulog Targetkan Serap Beras Petani 600.000 Ton hingga Akhir Mei 2024

Whats New
ShariaCoin Edukasi Keuangan Keluarga dengan Tabungan Emas Syariah

ShariaCoin Edukasi Keuangan Keluarga dengan Tabungan Emas Syariah

Whats New
Insiden Kebakaran Mesin Pesawat Haji Garuda, KNKT Temukan Ada Kebocoran Bahan Bakar

Insiden Kebakaran Mesin Pesawat Haji Garuda, KNKT Temukan Ada Kebocoran Bahan Bakar

Whats New
Kemenperin Pertanyakan Isi 26.000 Kontainer yang Tertahan di Pelabuhan Tanjung Priok dan Tanjung Perak

Kemenperin Pertanyakan Isi 26.000 Kontainer yang Tertahan di Pelabuhan Tanjung Priok dan Tanjung Perak

Whats New
Tingkatkan Akses Air Bersih, Holding BUMN Danareksa Bangun SPAM di Bandung

Tingkatkan Akses Air Bersih, Holding BUMN Danareksa Bangun SPAM di Bandung

Whats New
BEI: 38 Perusahaan Antre IPO, 8 di Antaranya Punya Aset di Atas Rp 250 Miliar

BEI: 38 Perusahaan Antre IPO, 8 di Antaranya Punya Aset di Atas Rp 250 Miliar

Whats New
KAI Services Buka Lowongan Kerja hingga 25 Mei 2024, Simak Kualifikasinya

KAI Services Buka Lowongan Kerja hingga 25 Mei 2024, Simak Kualifikasinya

Work Smart
Anggaran Pendidikan di APBN Pertama Prabowo Capai Rp 741,7 Triliun, Ada Program Perbaikan Gizi Anak Sekolah

Anggaran Pendidikan di APBN Pertama Prabowo Capai Rp 741,7 Triliun, Ada Program Perbaikan Gizi Anak Sekolah

Whats New
Bantah Menkeu soal Penumpukan Kontainer, Kemenperin: Sejak Ada 'Pertek' Tak Ada Keluhan yang Masuk

Bantah Menkeu soal Penumpukan Kontainer, Kemenperin: Sejak Ada "Pertek" Tak Ada Keluhan yang Masuk

Whats New
Tidak Ada 'Black Box', KNKT Investigasi Badan Pesawat yang Jatuh di BSD

Tidak Ada "Black Box", KNKT Investigasi Badan Pesawat yang Jatuh di BSD

Whats New
Investasi Rp 10 Miliar, Emiten Perhotelan KDTN Siap Ekspansi Bisnis Hotel Rest Area

Investasi Rp 10 Miliar, Emiten Perhotelan KDTN Siap Ekspansi Bisnis Hotel Rest Area

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com