Sri Mulyani Sebut Vaksin Pfizer Beri Sentimen Positif Perekonomian Dunia

Kompas.com - 10/11/2020, 14:49 WIB
Ilustrasi vaksin Pfizer 90 persen efektif berdasarkan pengamatan dari sekitar 43.000 relawan, hanya 94 orang yang terkonfirmasi Covid-19, sejak pemberian dosis kedua vaksin atau plasebo. SHUTTERSTOCK/Blue Planet StudioIlustrasi vaksin Pfizer 90 persen efektif berdasarkan pengamatan dari sekitar 43.000 relawan, hanya 94 orang yang terkonfirmasi Covid-19, sejak pemberian dosis kedua vaksin atau plasebo.

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, penemuan perusahaan farmasi asal Amerika Serikat (AS) Pfizer dan BioNTech soal vaksin dengan tingkat efektivitas mencapai 90 persen memberi sentimen positif bagi kondisi perekonomian di seluruh dunia.

"Ada beberapa berita positif disampaikan, salah satunya penemuan efektivitas salah satu vaksin oleh Pfizer yang menimbulkan sentimen positif di seluruh dunia," ujar Sri Mulyani dalam acara di CNBCIndonesia, Selasa (10/11/2020).

Bendahara Negara itu menjelaskan, selain sentimen dari titik terang penemuan vaksin, hasil pemilu Amerika Serikat dengan kemenangan Joe Biden turut memberikan sentimen positif.

Baca juga: Apabila Dua Tuntutan Temukan Jalan Buntu KSPI Kecam Aksi Mogok Kerja Nasional

Dia berharap, dengan kemenangan tersebut selain memberi sentimen positif juga diharapkan ada momentum pembalikan ekonomi di dalam negeri.

Namun demikian, dirinya menegaskan masih perlu dilakukan kerja keras agar perekonomian Indonesia benar-benar menunjukkan perbaikan di kuartal IV nanti.

"Ada berbagai hal kita masih perlu kerja lebih keras agar kuartal IV momentumnya lebih kuat," ujar dia.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sri Mulyani memaparkan, meski kondisi mobilitas masyarakat sudah kain membaik, namun disiplin protokol kesehatan masih bisa diperketat.

Pasalnya, banyak negara di dunia yang saat ini sedang menghadapi gelombang kedua.

Negara-negara yang mengalami peningkatan kasus tersebut harus kembali menutup perekonomiannya ketika di sisi lain masyarakat juga sudah mulai lengah.

"Ini tentu menimbulkan kompleksitas dari sisi policy-nya karena masyarakat sudah cukup panjang dan lelah dan ekonominya mengalami tekanan, sehingga pada saat mereka harus menghadapi second wave, maka kemampuan dan endurance-nya untuk menangani meningkatnya covid itu juga akan sangat berbeda," ujarnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X