Bukit Asam Sebut Gasifikasi Batu Bara Dapat Tarik Investor hingga Tekan Impor Elpiji 1 Juta Ton per Tahun

Kompas.com - 11/11/2020, 19:05 WIB
Aktivitas tambang batu bara di PT. Bukit Asam Tbk Dok. Humas PT. Bukit Asam Tbk Aktivitas tambang batu bara di PT. Bukit Asam Tbk

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah tengah fokus mendorong berbagai upaya hilirisasi dan percepatan peningkatan nilai tambah batu bara.

Salah satu program hilirisasi yang didorong oleh pemerintah ialah pemrosesan batu bara menjadi dimethyl ether (DME) atau gasifikasi.

PT Bukit Asam (Persero) Tbk sebagai perusahaan tambang batu bara milik pemerintah menyebutkan banyaknya manfaat yang diterima dari proses gasifikasi batu bara.

Baca juga: Mulai Besok, BI Kembali Buka Penukaran Uang Rupiah Rusak

Corporate Secretary Bukit Asam, Apollonius Andwie C, mengatakan, salah satu manfaat utama yang dapat dirasakan dari gasifikasi adalah peningkatan realisasi investasi nasional.

"Pembangunan proyek gasifikasi batu bara menjadi DME akan mendatangkan investasi sebesar 2,1 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 32 triliun ke Indonesia," kata Apollonius dalam keterangan tertulis, Rabu (11/11/2020).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Oleh karenanya, Bukit Asam menargetkan kesepakatan kerja sama pengembangan proyek gasifikasi bersama dengan PT Pertamina (Persero) dan Air Products and Chemicals (AS) sebagai investor dapat ditandatangani pada bulan ini.

"Persiapan konstruksi proyek Coal to DME (di Tanjung Enim, Sumatera Selatan) ini akan dimulai pada awal tahun 2021 dan ditargetkan pabrik beroperasi pada triwulan-II tahun 2024," kata Apollonius.

Kemudian, gasifikasi juga menjadi solusi pemanfaatan batubara kalori rendah yang berpotensi tidak dapat dijual sebanyak 180 juta ton selama 30 tahun.

Rencananya, pabrik gasifikasi batu bara akan mengolah sebanyak 6 juta ton batu bara per tahun untuk menghasilkan 1,4 juta ton DME.

Baca juga: PGN Berhasil Realisasi Jargas Hingga 90 Persen di 23 Kabupaten dan Kota

Dengan produksi DME tersebut, diproyeksikan dapat menekan impor elpiji hingga lebih dari 1 juta ton per tahun.

"Pengurangan impor elpiji tersebut dapat menghemat cadangan devisa negara sebesar Rp 8,7 triliun per tahun atau Rp 261 triliun selama 30 tahun," ucap Apollonius.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.