KOLOM BIZ
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan BCA

Teknologi, Peluang, dan Siasat Penipuan

Kompas.com - 17/11/2020, 10:48 WIB
Semakin masifnya perkembangan teknologi digital memberi peluang bagi pelaku kejahatan siber untuk beraksi. ShutterstockSemakin masifnya perkembangan teknologi digital memberi peluang bagi pelaku kejahatan siber untuk beraksi.

Suatu siang beberapa tahun lalu, saya sedang berada di kantor dan mengikuti sebuah rapat bersama rekan kerja. Tidak ada yang istimewa pada saat itu. Semua aktivitas berlangsung seperti biasa.

Namun, siang hari yang biasa itu berubah sekejap saat jam istirahat tiba dan saya memiliki kesempatan untuk memeriksa ponsel. Layar ponsel saya menunjukkan belasan panggilan tak terjawab dari nomor telepon salah satu teman.

Saya yang sepanjang rapat tadi mematikan nada dering ponsel langsung menyadari ada hal penting yang ingin disampaikan teman tersebut. Seketika, mode tubuh rileks istirahat siang berubah menjadi mode cemas.

Apa yang terjadi dengan teman saya? Apakah ia baik-baik saja?  Begitu pikir saya.

Saat menelepon ke nomornya, saya hanya mendengar suaranya yang parau dan bilang kalau ibunya baru saja ditipu seseorang dari internet. Ia bertanya, apakah saya bisa membantunya untuk membuat laporan pengaduan kepada pihak bank dan kepolisian.

Ia menjelaskan kronologi kejadiannya dengan napas tersengal. Sementara, saya hanya dapat mendengarkan dengan perasaan tidak berdaya karena sudah tahu jelas bahwa kasus penipuan seperti ini jarang yang berakhir melegakan.

Ia bercerita, pagi itu, ibunya yang baru mengenal media sosial dan cukup aktif menggunakannya mendapat pesan menang undian dari sebuah akun bank. Setelah bertukar kontak, seseorang yang mengaku staf bank terkait meneleponnya dan mengatakan hadiah akan segera ditransfer.

Namun, staf bank tersebut membutuhkan sejumlah data pribadi dan meminta sang ibu untuk menyebutkannya. Informasi yang diminta, mulai dari nomor kartu ATM hingga kode one time password (OTP).

Karena kelewat antusias, sang ibu tidak sempat bercerita apa pun kepada keluarga dan langsung menuruti instruksi orang tersebut. Singkat cerita, seperti bisa ditebak, sejumlah uang dari tabungan ibu teman saya hilang dalam sekejap.

Selidik punya selidik, staf jadi-jadian tersebut adalah penipu yang sering beraksi lewat media sosial menggunakan akun fiktif sebuah perusahaan perbankan. Ia memanfaatkan kegagapan bermedia sosial, rasa panik, dan kelengahan sejumlah orang.

Sebab, orang yang panik dan kurang informasi akan mudah melakukan tindakan irasional, termasuk mengirimkan data pribadi atau sejumlah uang, kepada orang tak dikenal. Tindakan tersebut dilakukan tanpa pengecekan lebih jauh.

Pada umumnya, para penipu melihat celah untuk melakukan tindakan jahat dari kondisi psikologis semacam ini.

Informasi adalah pedang bermata dua. Ketika diolah dengan tepat, ia jadi harta, bahkan senjata. Namun, saat disalahgunakan, ia akan membuat hidup pemiliknya kian kusut. Terlebih di era serba-internet seperti sekarang, mayoritas orang lebih lama menatap layar ponsel daripada menatap mata lawan bicaranya.

Perubahan itu membuat arus informasi yang tadinya diserap secara konbensional berubah jadi serba-digital. Seperti sebuah seleksi alam: ada orang-orang yang mahir menggunakannya, ada juga yang tergagap mengejar ketertinggalan. Kelompok masyarakat yang terakhir ini sering dirugikan oleh banyak siasat jahat orang yang lebih mahir menggunakan internet.

Laporan terbaru We Are Social, sebuah situs manajemen konten, menyebutkan bahwa pada 2020 pengguna internet di Indonesia mencapai 175,4 juta orang. Dibandingkan tahun sebelumnya, ada kenaikan 17 persen atau bertambah 25 juta pengguna.

Dengan asumsi populasi Indonesia berjumlah 272,1 juta jiwa, setidaknya setengah dari 64 persen penduduk Indonesia telah merasakan akses ke dunia maya. Sebuah ceruk yang sangat besar bagi para pelaku bisnis untuk mengembangkan bisnisnya, sekaligus celah bagi para penipu untuk mengeruk kekayaan dengan cara tidak menyenangkan.

Apalagi kini masa pandemi Covid-19, orang dipaksa untuk sebisa mungkin beraktivitas dari rumah, mulai dari belajar, bekerja, hingga belanja. Aktivitas terakhir membuat arus perputaran uang menjadi serba-digital, baik melalui kartu kredit, e-banking, hingga m-banking.

Para penipu berupaya menangkap momentum dan melipatgandakan peluang dari berbagai sistem kemudahan itu.

Bila beberapa tahun lalu penipuan marak dilakukan lewat SMS hingga gendam, kini penipuan beralih rupa menggunakan aplikasi pesan hingga media sosial.

Teknik penipuan yang kini sering digunakan adalah social engineering. Melalui teknik ini, pelaku merekayasa informasi atau membuat informasi palsu di media sosial agar banyak orang mau memberikan data rahasia, seperti nomor kartu ATM, kode OTP, kata sandi, hingga PIN.

Setelah data didapat, pelaku bisa mengakses rekening, internet banking, atau m-banking milik korban dan mengeruk harta mereka.

Berbagai jenis penipuan cukup mudah ditemukan di platform digital. Akhir-akhir ini juga marak berita orang kehilangan harta benda karena modus yang beragam. Mulai dari penipuan toko online hingga menjamurnya akun fiktif yang mengatasnamakan sebuah perusahaan dan perorangan.

Dari sekian banyak penipuan, ada korban yang berhasil mengurus kasusnya sampai uang kembali, tapi sayangnya ada juga yang menanggung sedih dan mesti gigit jari.

Bicara mengenai akun fiktif, para penipu biasanya mengabarkan bahwa kita menang undian bernilai besar. Lalu, mereka akan meminta data pribadi. Data tersebut akan digunakan untuk tujuan jahat mereka.

Hingga saat ini, saya masih sering mendapat informasi memenangkan undian fiktif via SMS yang tata penulisannya buruk sekali. Saya juga sering dapat email yang menawari saya jadi hak waris dari seorang asing yang sakit-sakitan tapi dermawan dari negara-negara di Afrika.

Kalau SMS dan email tersebut benar, barangkali saat ini sudah puluhan miliar uang yang saya punya. Namun, kabar semacam itu tidak membuat saya silau. Saya tahu kalau kabar itu fiktif dan terlalu indah untuk jadi kenyataan. Kita tahu hal-hal yang terlalu indah sudah pasti sebaiknya dianggap angin lalu, kecuali kita siap dianggap gila.

Literasi digital jadi satu-satunya jawaban untuk menangkal masalah penipuan fiktif di internet. Namun, upaya membaca, mengolah, dan memaksimalkan informasi yang beredar secara elektronik dengan teliti ini juga mesti diimbangi skeptisisme yang cukup.

Skeptisisme yang dimaksud adalah sikap meragukan setiap informasi apabila berasal dari orang atau badan yang tidak dikenal dan kemauan melakukan verifikasi berulang-ulang, khususnya jika informasi itu meminta data pribadi kita.

Seseorang atau instansi yang kredibel pasti akan menggunakan cara yang hati-hati dan transparan dalam mengabarkan informasi. Misalnya, mereka akan mengirimkan email kepada kita menggunakan email resmi, atau mengirim surat dengan kop resmi ke alamat rumah, hingga memberikan pengumuman di akun media sosial yang terverifikasi.

Kita bisa ambil contoh sederhana upaya yang ditempuh banyak perusahaan besar di Indonesia. Dari sektor perbankan, misalnya. Sebagai pengguna layanan BCA untuk urusan bisnis dan transaksi harian, saya cukup akrab dengan upaya mereka menciptakan ekosistem perbankan digital yang aman bagi nasabah.

Mereka membenahi banyak hal untuk perkara ini, mulai dari mencantumkan dengan gamblang nomor layanan Halo BCA di 1500888 yang bisa diakses selama 24 jam hingga membuat akun khusus yang aktif melayani nasabah untuk berkomunikasi dan tempat pelaporan aduan.

Namun, setiap upaya baik ini mesti diimbangi dengan peran aktif nasabah yang juga tidak malas memverifikasi informasi dan mengecek kebenarannya. Misalnya, hanya mengikuti akun Twitter resmi perusahaan @HaloBCA yang bercentang biru, tidak mengikuti akun lain yang mencurigakan, hingga tidak berbalas pesan dengan pihak yang mengatasnamakan sebuah perusahaan. Cek selengkapnya di sini.

Pada akhirnya, belajar dari kasus penipuan ibu teman saya, kita harus sadar bahwa internet dipenuhi sekian banyak orang asing dengan banyak kepentingan yang bukan tidak mungkin merugikan kita.

Maka, penting untuk terus waspada dan tidak berbagi data pribadi kepada siapa pun, seperti data nomor kartu ATM, kode OTP, hingga CVV kartu kredit. Sebab, pada akhirnya kita harus ingat prinsip #DatamuRahasiamu.

Upaya-upaya semacam ini penting karena pada akhirnya setiap pengguna internet harus saling bahu-membahu menciptakan ruang yang aman. Ingat, pengguna internet tidak hanya anak muda dan mereka yang melek internet saja, tapi juga orang tua yang masih belajar dan hanya ingin bersenang-senang dan berjejaring dengan teman sebayanya di media sosial.

Dengan begitu, tidak ada lagi orang-orang yang gentar menerima informasi menyesatkan dan mengalami kerugian seperti apa yang dialami oleh ibu teman saya beberapa tahun lalu.


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya