Darwin Darmawan

Mahasiswa doktoral ilmu politik Universitas Indonesia

UU Cipta Kerja, Kepentingan Publik atau Kartel Politik?

Kompas.com - 19/11/2020, 05:05 WIB
Massa Buruh Membawa spanduk yang menyerukan penolakan pada Omnibus Law UU Cipta kerja, pada aksi unjuk rasa, Senin (2/11/2020) di sekitar Patung Kuda Arjuna Wiwaha, Jakarta Pusat. KOMPAS.com/SONYA TERESAMassa Buruh Membawa spanduk yang menyerukan penolakan pada Omnibus Law UU Cipta kerja, pada aksi unjuk rasa, Senin (2/11/2020) di sekitar Patung Kuda Arjuna Wiwaha, Jakarta Pusat.

Karena semangat yang mendasari UU Omnibus law adalah untuk menarik investasi asing dan membuka lapangan kerja, tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa UU Omnibus law berwatak neo liberal. Ia melanjutkan ideologi liberalisme ekonomi klasik.

Pemerataan bukan hanya pembangunan

Omnibus Law UU Cipta Kerja yang merepresentasikan neo liberalisme sudah disahkan pemerintah. Kita tidak tahu apakah gugatan ini akan dikabulkan seluruhnya, sebagian atau malah ditolak MK.

Sementara itu, Presiden Jokowi menyatakan, pemerintah terbuka terhadap masukan masyarakat untuk diterjemahkan dalam peraturan pemerintah atau peraturan Presiden turunan Undang-undang.

Kebijakan ekonomi (neo) liberal yang didasari asumsi bahwa kesejahteraan masyarakat akan terjadi seiring dengan kemajuan ekonomi, yang berdampak pada trickle down effect sebagaimana dianut Orde Baru, tidak sesuai dengan kenyataan.

Liberalisasi ekonomi memang meningkatkan ekonomi Indonesia. Tetapi itu tidak diikuti dengan kesejahteraan sebagian besar masyarakatnya. Peningkatan ekonomi hanya dialami para pengusaha besar.

Yang terjadi bukanlah trickle down effect tetapi trickle up effect. Pembangunan terjadi. Tetapi itu tidak memakmurkan seluruh negeri. Hanya segelintir orang yang menikmati.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Mengutip data Lembaga Penjamin Simpanan, Batara Simatupang menjelaskan, dana pihak ketiga di bank menunjukkan ketimpangan yang besar. 47 persen total dana pihak ketiga di bank, dimiliki hanya oleh 0,03 persen pemilik. Indikator ini mencerminkan tingkat ketimpangan sosial yang sangat parah di Indonesia.

Idealnya, pembangunan dan peningkatan ekonomi perlu dilihat secara holistik dan berfokus juga pada pemerataan. Apa yang disampaikan Amartya Sen perlu untuk kita sadari.

Dalam Development as Freedom (1998), Sen berpendapat bahwa pembangunan perlu dilihat sebagai upaya untuk mengupayakan kemerdekaan individu, bukan sekedar dilihat dalam angka PDB atau pendapatan perkapita.

Ada lima indikator yang ia sebut sebagai ekonomi kesejahteraan: kemerdekaan politik, fasilitas ekonomi, kesempatan sosial, jaminan transparansi, dan jaminan keamanan. Kelimanya tidak boleh dilihat secara parsial tetapi terintegrasi. Peningkatan yang satu akan membawa dampak positif kepada indikator yang lain.

Mengupayakan kesejahteraan secara holistik dan mewujudkan keadilan sosial adalah dua pekerjaan rumah besar yang dimiliki pemerintahan Jokowi.

Pemerintah Jokowi- yang kebijakan ekonominya berwatak neo liberal- perlu mengakomodasi dua hal tersebut dalam turunan UU Cipta Kerja agar dapat membuktikan bahwa UU yang menimbulkan pro kontra ini dibuat demi kepentingan publik bukan kartel politik.

Baca juga: Isi Lengkap UU Cipta Kerja Final 1.187 Halaman Bisa Diunduh di Sini

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.