Edhy Prabowo Usul Ganti MSG dengan Penyedap Rasa Bahan Dasar Ikan

Kompas.com - 19/11/2020, 14:36 WIB
Menteri KP 2019-2024 Edhy Prabowo Dok. KKPMenteri KP 2019-2024 Edhy Prabowo

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo, menekankan pentingnya konsumsi ikan bagi anak-anak di seluruh Indonesia. Hal tersebut menjadi penting untuk memastikan kecukupan gizi anak.

Menurut dia, kondisi gagal tumbuh atau stunting masih menjadi isu nyata yang dihadapi anak di Indonesia. Isu ini dinilai tidak seharusnya ditangani sendiri oleh Kementerian Kesehatan, tetapi juga kementerian lainnya.

"Stunting kalau dilihat dari satu sisi saja memang seolah-olah menjadi tanggung jawab Kementerian Kesehatan. Padahal, stunting tidak bisa dikaitkan hanya satu kementerian, semua kementerian termasuk KKP," katanya dalam acara Jakarta Food Security Summit-5 secara virtual, Kamis (19/11/2020).

Baca juga: Apa Kabar Wacana Maluku Jadi Lumbung Ikan Nasional?

Untuk itu, konsumsi ikan sejak dini disebut Edhy perlu menjadi sebuah tradisi yang mulai dilaksanakan oleh masyarakat Indonesia. Pasalnya, ikan memiliki kandungan protein yang tinggi, sehingga mampu mencegah terjadinya gizi kronis.

Edhy pun menyarankan agar ikan tidak hanya dikonsumsi dalam bentuk utuh saja, tapi juga dikembangkan ke produk-produk lainnya.

Ia pun mengusulkan monosodium glutamate (MSG) atau penyedap rasa diganti dengan bahan yang berasal dari ikan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Tidak hanya ikan yang raw material, kenapa enggak bisa kita mulai dengan mengganti produk-produk yang menggunakan MSG, chiki dan sebagainya dengan produk-produk berbahan dasar ikan," ujarnya.

Dengan besarnya potensi industri kelautan dan perikanan nasional, komoditas ikan pun disebut mampu menjadi pelangkap kebutuhan hidup lainnya.

"Sektor ini juga bisa digunakan untuk keperluan-keperluan non konsumtif," ucapnya.

Sebagai informasi, Indonesia masih menghadapi tantangan permasalahan gizi buruk, khususnya stunting yang dikhawatirkan akan jadi lebih buruk lagi akibat pandemi Covid-19.

Menurut data Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) tahun 2017, prevalensi stunting Indonesia menempati urutan kelima terbesar di dunia. Dari 159 juta anak yang stunting di seluruh dunia, 9 juta di antaranya tinggal di Indonesia.

Hasil Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) pada tahun 2019 bahkan menunjukkan bahwa prevalensi stunting mencapai 27,67 persen. Artinya, setiap 10 anak Indonesia, ada 3 orang di antaranya yang mengalami stunting.

Baca juga: Menteri Edhy: Tanpa Terumbu Karang, Jangan Pikir Ikan Akan Melimpah

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.