Wika dan CNI Bangun Pabrik Nikel di Kolaka

Kompas.com - 28/11/2020, 19:52 WIB
Wijaya Karya. Wijaya KaryaWijaya Karya.

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Wijaya Karya (Persero) Tbk bersama PT PT Ceria Nugraha Indotama (CNI) membangun pabrik pengolahan dan pemurnian bijih nikel rotary Kiln Electric Furnace (RKEF).

Selain itu juga dibangun fasilitas pengolahan dan pemurnian kobalt dengan teknologi high pressure acid leaching (HPAL) di Kecamatan Wolo, Kabupaten Kolaka, Sulawei Tenggara (Sultra).

Wika dan CNI telah menandatangani kontrak kerja sama proyek pabrik pengolahan dan pemurnian nikel Rotary-Kiln Electric Furnace (RKEF) Jalur Produksi 3 & 4 (2 x72 MVA) dengan nilai kontrak sebesar Rp 2,8 triliun dan 180 juta dollar AS.

Baca juga: Pengusaha Ingin Buruh Tak Sekadar Demo, tapi Berdialog untuk Menyelesaikan Masalah

“Insya Allah, proyek ini dapat selesai tepat waktu dengan kualitas yang memuaskan dan bisa menjadi titik ungkit kebangkitan industri berbasis mineral di tanah air dan dunia,” ujar Direktur Utama Wika Agung Budi Waskito dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (28/11/2020).

Pabrik Ferronickel tersebut akan terdiri dari dua lajur produksi, dimana masing-masing lajur akan ditunjang dengan fasilitas produksi utama, yaitu Rotary Dryer berkapasitas 196 ton per jam (wet base), Rotary Kiln berkapasitas 178 ton per jam (wet base), Electric Furnace berkapasitas 72 MVA serta peralatan penunjang lainnya dengan target penyelesaian proyek pada tahun 2023 dan mampu mencapai kapasitas produksi sebesar 27.800 ton Ni per tahun.

Sementara itu, proyek pembangunan fasilitas pengilahan dan pemurnian kobalt dengan teknologi (HPAL) diproyeksikan memiliki kapasitas produksi sebesar 100.000 ton per tahun Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dan 158.000 ton per tahun konsetrat chromium.

“Semoga dengan semangat merah putih yang menjadi semangat kita semua, komoditas nikel menjadi harapan untuk menggenjot pertumbuhan industri logam dasar, sekaligus pertumbuhan ekonomi nasional,” tambah Direktur Utama PT CNI Derian Sakmiwata.

Proyek Pembangunan Pabrik Pengolahan dan Pemurnian Nikel dalam pengoperasiannya kelak akan menggunakan rute Rotary Kiln – Electric Furnace yang sudah terbukti (proven) untuk mengolah bijih nikel kadar 1.59 persen Ni menjadi ferronickel dengan kadar 22 persen.

Baca juga: 779 Warga Kota Serang Dapat Kompensasi Tumpahan Minyak dari Pertamina

Berbeda dengan pabrik nikel di Indonesia pada umumnya yang menggunakan electric furnace tipe circular, pabrik ini menggunakan electric furnace tipe rectangular yang memiliki keunggulan, antara lain, pertama, memiliki konsumsi energi per ton atau kWh per ton yang lebih efisien karena menggunakan desain electrode yang tercelup slag (submerged).

Sementara fasilitas pengolahan dan pemurnian kobalt dengan teknologi (HPAL) sudah terbukti (proven) untuk mengolah bijih nikel limonit kadar 1,25 persen Co and 0,13 persen Ni menjadi Mixed Hydroxide Precipitate dengan kandungan 40.000 ton Nikel per tahun dan 4.000 ton Kobalt per tahun sebagai bahan baku komponen baterai kendaraan listrik.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X