Kenaikan Kasus Covid-19 Dorong Rupiah Melemah

Kompas.com - 01/12/2020, 15:54 WIB
Ilustrasi rupiah ShutterstockIlustrasi rupiah
Penulis Kiki Safitri
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada penutupan pasar spot, melemah tipis pada Selasa (1/12/2020).

Melansir Bloomberg, rupiah melamah 10 poin (0,07 persen) dan ditutup pada level Rp 14.130 per dollar AS dibandingkan dengan penutupan sebelumnya Rp 14.120 per dollar AS.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan, pelemahan rupiah sore ini terdorong oleh kekhawatiran investor akan kenaikan jumlah kasus Covid-19 di tanah air. Investor khawatir Pemerintah Provinsi DKI akan kembali melakukan pengetatan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Seandainya pengetatan ini dilaksanakan maka ekonomi yang sudah berjalan akan terjadi stagnasi. Ini bisa terlihat dari pengetatan PSBB di Jakarta pada September-Oktober 2020 yang membuat perekonomian melandai dengan konsumsi masyarakat yang menurun dan bertambahnya pengangguran,” kata Ibrahim dalam siaran pers.

Baca juga: IHSG Melesat 2 Persen di Akhir Sesi Perdagangan

Di sisi lain, guna menghindari terjadinya Pengetatan PSBB di DKI Jakarta maka pemerintah dan masyarakat bahu- membahu bekerjasama untuk mensosialisasikan pentingnya protokol kesehatan.

Selain itu, menghindari kerumunan juga sangat membantu menekan laju kenaikan kasus Covid-19, karena kerumunan terseut akan mengakibatkan klaster baru yang susah untuk di identifikasi.

“Dengan kondisi tersebut wajar kalau investor melakukan aksi ambil untung karena kekhawatiran akan pandemi virus corona yang bisa berujung ke pengetatan PSBB inilah yang membuat investor masih pikir-pikir untuk masuk ke pasar keuangan Indonesia. Minimnya arus modal membuat rupiah tidak punya pijakan untuk menguat,” kata Ibrahim.

Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi November 2020 mencapai 0,28 persen secara bulanan (month to month/mtm). Angka ini lebih tinggi dari bulan Oktober yang hanya 0,07 persen.

Sebelumnya, Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra mengatakan kenaikan inflasi menjadi sentimen positif bagi rupiah, karena mengindikasikan pulihnya konsumsi.

“Bila data inflasi Indonesia menunjukkan kenaikan, maka hal tersebut akan menjadi sentimen positif untuk rupiah. Karena kenaikan inflasi bisa mengindikasikan pulihnya konsumsi,” kata Ariston.

Baca juga: BEI Catat Jumlah Investor Pasar Modal Naik 42 Persen pada 2020



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X