Untar untuk Indonesia
Akademisi

Platform akademisi Universitas Tarumanagara guna menyebarluaskan atau diseminasi hasil riset terkini kepada khalayak luas untuk membangun Indonesia yang lebih baik.

Waralaba: Antara Janji, Ekspektasi dan Realisasi

Kompas.com - 04/12/2020, 09:30 WIB
Ilustrasi franchise, waralaba Dok. HaloMoney.co.idIlustrasi franchise, waralaba

Sang mitra di Malaysia tetap menaruh kepercayaan bahwa waralaba Indonesia tetap memiliki pasar tersendiri di sana, walau tak lagi murni menawarkan fried chicken tetapi dengan berbagai varian yang menyesuaikan diri dengan selera lokal.

Berbeda dengan pengusaha waralaba kopi susu yang cenderung menutup diri dan lebih memikirkan keberlangsungan bisnisnya ketimbang “nasib” terwaralaba binaannya, waralaba fried chicken yang kebetulan dikelola oleh wanita pengusaha ini lebih peduli terhadap terwaralaba yang menjadi mitranya.

Dia tidak segan turun langsung melihat bagaimana kondisi gerai terwaralaba dan terus memberikan semangat. Dia ingin terwaralaba memperoleh sukses. Jika ada masalah, dicoba untuk dicarikan solusi yang tepat.

Baca juga: Pelaku Usaha Waralaba Diminta Lebih Banyak Serap Produk Dalam Negeri

Dua cerita nyata mengenai bagaimana waralaba dikelola bukan cerita hitam putih seperti sinetron di stasiun televisi. Masing-masing pengelola waralaba punya pandangan sendiri-sendiri, walau ujung-ujungnya, mitra terwaralaba yang pertama kali merasakan dampaknya. Ada yang diuntungkan, tak sedikit yang kecewa karena menjalankan bisnis waralaba sebagai terwaralaba tidak seindah yang dijanjikan.

Kriteria waralaba dan implikasinya

Menurut Peraturan Pemerintah no 42 tahun 2007, waralaba adalah hak khusus yang dimiliki oleh orang perseorangan atau badan usaha terhadap sistem bisnis dengan ciri khas usaha dalam rangka memasarkan barang dan/atau jasa yang telah terbukti dan dapat dimanfaatkan dan/atau digunakan oleh pihak lain berdasarkan perjanjian waralaba.

Berdasarkan pengertian tersebut, terdapat setidaknya enam kriteria suatu usaha memenuhi syarat sebagai waralaba yaitu:

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

1) memiliki ciri khas usaha,
2) terbukti sudah memberikan keuntungan,
3) memiliki standar atas barang dan/atau jasa yang ditawarkan yang dibuat secara tertulis,
4) mudah diajarkan dan diaplikasikan,
5) adanya dukungan yang berkesinambungan, dan
6) memiliki Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) yang telah terdaftar.

Implikasi serius dari enam kriteria tersebut adalah pewaralaba harus menyiapkan bisnisnya agar siap menjadi waralaba yang sesungguhnya, bukan “jadi-jadian”.

Baca juga: Pemegang Waralaba Pizza Hut Terbesar di AS Terancam Bangkrut

Pertama, secara prinsip bisnis waralaba menjual “brand” yang di dalamnya memiliki diferensiasi yang khas dibandingkan dengan produk kompetitor, baik dari produk unik yang ditawarkan hingga bagaimana mengoperasikan bisnis tersebut. Ciri khas yang melekat itu yang menjadi kekuatan daya saing.

Kedua, bisnis yang siap diwaralabakan adalah bisnis yang telah mapan dan model bisnisnya telah dikembangkan sedemikian rupa sehingga sesuai dengan konsep waralaba. Karena bisnis yang diwaralabakan telah mapan, maka mestinya telah terbukti menguntungkan.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.